Advertisement

Perang Diponegoro, (Perang Jawa/ De Java Oorlog, 1825 — 1830), adalah perang antara Belanda dan kaki tangannya di satu pihak dan Pangeran Diponegoro beserta rakyat yang tertindas di pihak lain. Sebab-sebabnya cukup kompleks, antara lain: (1) keikUtcampuran penjajah yang makin mendalam dalam masalah intern kerajaan di Yogyakarta, terutama sejak pemerintah Daendels (1808 — 1811) dan pemerintahan Inggris (Raffles, 1811 — 1816), (2) penyewaan tanah oleh swas­ta asing, terutama Belanda, yang menjadi­kan rakyat makin melarat, (3) penarikan berbagai macam pajak (lc on on sampai 34 macam), sampai anak dalam gendongan pun kalau melalui jalan tertentu, dikenai pajak pula, (4) adanya berbagai macam intrik dan usaha mencari muka di kalang­an orang-orang keraton, (5) kerj a rodi yang semula hanya untuk kepentingan keraja­an, meluas kepada kepentingan Belanda pula, (6) gaya hidup golongan muda kera­ton yang kebarat-baratan, sedang golong­an tua, termasuk Pangeran Diponegoro, ingin mempertahankan nilai-nilai keaga­maan dan adat istiadat sendiri, dan (7) di­diskreditkannya Pangeran Diponegoro, se­bagai pangeran yang berambisi menjadi ra­ja hanya karena ayahnya pernah memin­tanya untuk menduduki jabatan itu, se­hingga saran-saran dan kritik-kritiknya di­nilai negatif, bahkan Belanda menganggap­nya sebagai pangeran yang sangat berba­haya bagi mereka.

Keadaan seperti di atas, diperuncing la­gi ketika 1822 Pangeran Diponegorolmen­jadi salah seorang wali dari Sultan Ha­mengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, karena perwalian itu tidak berfung­si. Pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo IV yang konsultasinya se­lalu dilakukan dengan Belanda, bukan de­ngan anggota Dewan, yang akibatnya mengarah kepada tindak sewenang-we­nang terhadap raja dan kerabatnya; mi­salnya: pemecatan dan pengangkatan penghulu keraton oleh Patih Danurejo yang jelas melanggar hak prerogatif raja atau walinya. Karena dikesampingkan, Pange­ran’ Diponegoro mengundurkan diri seba­gai anggota dewan dan hubungan menjadi tegang. Kemudian, pada awal 1825, Patih Danurejo atas persetujuan Belanda mema­sang pancang-pancang dalam rangka pem­buatan jalan yang melintasi tanah milik Pangeran Diponegoro, bahkan menerjang makam leluhur Pangeran tanpa meminta izin. Ketika pancang-pancang itu dicabuti atas perintah Pangeran Diponegoro, oleh suruhan Danurejo dipasang kembali. Pro­tes Pangeran Diponegoro atas tindakan sewenang-wenang itu dan permohonannya agar Patih Danurejo dipecat, tidak dihirau­kan Belanda, bahkan terdengar kabar bah­wa dia akan ditangkap, sehingga pasukan pengawalnya bersiap-siap menjaga segala kemungkinan. Paman Pangeran Diponego­ro, Pangeran Mangkubumi, diutus Belan­da untuk memanggil dia. Belum sampai berhasil, datang surat susulan agar Pange­ran Diponegoro segera datang ke loji Be­landa, dan ketika surat itu baru akan di­jawab, kediaman Pangeran ditembaki dan dikepung oleh Belanda dan pengikut Da­nurejo. Pangeran Diponegoro beserta Pa­ngeran Mangkubumi berhasil menyelamat­kan diri dari kepungan, dan dari kejauhan mereka melihat kediaman Pangeran Dipo­negoro beserta mesjidnya dibakar (20 Juli 1825). Keduanya lalu pergi ke Selarong dan menjadikan tempat itu sebagai markas perjuangan. Pangeran Mangkubumi yang sudah lanjut usia itu dijadikan penasihat tertinggi, Kiai Maja sebagai penasihat bi­dang keagamaan dan P. Jayakusuma (Pa­ngeran Bei) sebagai panglima perang ter­tinggi. Daerah-daerah perlawanan di belah­an barat: Kulon Progo, Bagelen dan Ba­nyumas, utara: Kedu, Semarang dan sean­teronya, timur: Sukawati, Pajang, Mage­tan, Kediri dan Madiun, selatan: Selarong sampai Gunung Kidul. Sementara itu, Gu­bernur Jenderal Van der Capellen menun­juk Letjen Hendrik Marcus de Kock untuk mengambil tindakan yang perlu guna me­mulihkan keamanan. Dari Semarang, de Kock pergi ke Surakarta meminta bantuan laskar. Karena tidak mencukupi, bantuan diminta dari Batavia dan Surabaya. Nanti­nya, bantuan laskar diminta pula dari Ma­dura, Bali, Makasar dan Ambon. Ekspedisi ke Bone yang dipimpin Jenderal Van Geen ditarik ke Jawa, dan dengan kaum Padri di Sumatra Barat diadakan gencatan senjata. Sementara itu, pengikut Pangeran Dipone­goro, balk yang bangsawan, santri dan rak­yat biasa, melakukan perlawanan di mana­mana. Kemenangan pihak Pangeran Dipo­negoro yang pertama adalah ketika R.M. Mulasentika dengan anak buahnya berha­sil menyergap bala bantuan dan Semarang. Bala bantuan dari Mangkunegoro dihan­curkan di Kalasan. Kota Yogyakarta dike­pung, dan banyak rumah-rumah Belanda dan Cina dibakar. Tawaran dan ajakan Jenderal De Kock untuk berunding; dija­wabnya dengan mengatakan bahwa tujuan perjuangannya adalah untuk mengislam­kan tanah Jawa. Ia bersedia berunding asal ditentukan waktu dan tempatnya. Untuk kemungkinan berunding dengan pihak ke­raton dan De Kock sebagai wakil Belanda, pengikut Pangeran Diponegoro mengang­katnya sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Amirul Mukmi­nin Sayidin Panatagama Khalifatullah Ta­nah Jawa. Ternyata yang terjadi adalah se­rangan umum ke Selarong (2 dan 4 Okto­ber 1825), tetapi dua kali serangan itu ha­nya menemukan Selarong dalam keadaan kosong, karena markas perjuangan dipin­dahkan ke Deksa.

Advertisement

Selama 1825 dan 1826, kemenangan di-rebut oleh Pangeran Diponegoro. Terkenal sekali pasukan Bulkiya dan pasukan Pini­lih karena keberaniannya dan kemahiran­nya bertempur. Juga komandan Bulkiya yang kemudian menjadi Panglima Perang pengikut Pangeran Diponegoro, Sentot Ali Basah Abdul Mustafa Prawiradirja yang masih muda belia, terkenal sekali kegagah­beraniannya, kemahirannya memimpin pasukan dan taktik pertempurannya yang tinggi.

Antara 1827 dan 1828, terjadi perge­seran sebagai akibat diterapkannya oleh De Kock siasat “benteng stelsel”, dan tak­tik “de vide et impera”, baik berupa bu­julsan maupun adu-domba. Hasilnya, mes­kipun kemenangan dan kekalahan masih imbang, 1827 sudah ada beberapa tokoh pejuang yang menyerah kepada Belanda. Tahun 1828 ada pula beberapa tokoh pe­juang, bahkan famili dekat Pangeran Dipo­negoro, menyerahkan diri, dan pada akhir tahun itu, Kiai Maja, setelah memisahkan diri dari Pangeran Diponegoro, dipaksa pula menyerah setelah pura-pura diajak berunding. Tahun 1829 merupakan tahun penyerahan tokoh-tokoh pejuang, terma­suk Pangeran Mangkubumi (27 September 1829), Sentot PraWiradirja (24 Oktober 1829). Terakhir adalah perundingan tipu­an di Magelang antara Belanda dan Pange­ran Diponegoro. Pangeran Diponegoro di­tangkap di meja perundingan 28 Maret. 1830. (Lihat: Diponegoro, Pangeran).

 

Advertisement