Advertisement

Perang Banjar, adalah perang antara rakyat Banjarmasin melawan Belanda yang ingin memperkokoh penjajahannya. Perang ini berlangsung antara 1859-1905 (menurut sumber Belanda 1859-1862), meskipun kurang terkoordinir dengan baik.

Konflik dengan Belanda sebenarnya su­dah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli dagang di kerajaan Banjar. De­ngan ikut campurnya Belanda dalam urus­an kerajaan, kekalutan makin bertambah. Pada 1785, Pangeran Nata yang menjadi wall putra mahkota, mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Sultan Tahmidul­lah II (1785-1808), dan menyuruh bu­nuh semua putra sultan. Pangeran Amir, putra mahkota, berhasil menyelamatkan diri lalu mengadakan perlawanan. Karena dukungan terhadap Tahmidullah II kurang kuat, is minta tolong kepada Belanda, se­hingga akhirnya Pangeran Amir menyerah dan dibuang ke Ceylon (Sri Langka). Se­bagai imbalan dalam perjanjian 1787, ke­rajaan Banjar menjadi milik VOC (Belan­da), tetapi sebagian besar wilayahnya di­kembalikan kepada sultan sebagai pinjam­ an.. Pengangkatan sultan dan pejabat ting­gi kerajaan harus disetujui VOC, dan ko­moditi lada dimonopoli oleh Belanda. Pada masa Sultan Sulaiman (1808-1825), wilayah kesultanan dikurangi lagi. Pada masa Sultan Adam (1825-1857), terjadi kericuhan. Putra mahkota, Pangeran Ab­dul Rahman, meninggal tiba-tiba. Pange­ran Hidayat yang menjadi Mangkubumi dan dicintai rakyat, ditolak oleh Belanda untuk menjadi raja. Yang diangkat adalah Tamjidullah II (1857-1859) yang dib en­ci rakyat, sedangkan Pangeran Hidayat tetap sebagai Mangkubumi. Ketika terjadi kerusuhan, Tamjidullah tidak dapat meng­atasi, sehingga dipecat oleh Belanda dan diasingkan ke Jawa (25 Juni 1859), tetapi Pangeran Hidayat tetap tidak disetujui menjadi raja, sehingga menimbulkan ke­marahan rakyat, dan bagi Pangeran Hida­yat tidak ada jalan lain kecuali memihak kepada rakyat. Sementara itu di Kumba­youw, seorang petani bernama Aling, mendirikan kerajaan baru yang menurut suara gaib yang diterimanya akan dipim­pin oleh Pangeran Antasari, cucu Pangeran Amir yang selama ini hidup menyendiri di desa terpencil, Mantasan, dekat Martapura. Aling menjadi Panembahan Muda, sedang­kan anaknya, Sambang, menamakan diri­nya Sultan Kuning. Desa Tumbayouw di­ganti namanya menjadi Tambai Mekah. Tidak kurang dari 4000 orang bersenjata berhasil dihimpun oleh Sultan Kuning, dan Pangeran Antasari berhasil menghim­pun kekuatan sebesar 3000 orang. Pos-pos Belanda diserang, Martapura diduduki, onderneming Belanda diserbu dan pegawai­pegawainya dibunuh; juga penginjil di Ta­ngohan dan Buntas. Kolonel Andresen yang didatangkan dari Jawa mengambil alih pemerintahan dan menyatakan bah­wa seluruh kerajaan Banjar dalam keada­an perang (20 April 1859). Tanggal 13 Juni, ekspedisi dikirim ke Martapura, te­tapi pejuang Banjar sudah mengosongkan­nya. Selanjutnya, pertempuran terus ber­kecamuk. Tanggal 22 Juni, terjadi kontak senjata selama 5 jam, dan hanya berhen­ti karena malam. Tanggal 30 Juni, De­mang Lehman dengan 1000 orang anak buah menyerang Martapura. Tanggal 16 Agustus, pejuang-pejuang Banjar di bawah pimpinan Mangon Karsa menyerbu Ban­jarmasin. Tanggal 24 Agustus, benteng Be­landa di Pulau Petak juga diserang. Akhir 1859, Martapura dapat dibebaskan dari unsur pemberontak; akan tetapi di pela­buhan, Tumenggung Surapati berhasil me­ngelabui Belanda. Ia yang diundang (27 Desember 1859) untuk berunding di ka­pal Onrust, menyerbu dengan tiba-tiba. Seluruh awak kapal ditewaskan, senjata­nya diambil dan kapal itu ditenggelamkan. Tanggal 22 Pebruari 1860, Suropati yang bertahan di benteng Labang terpaksa me­ngundurkan diri. Tanggal 12 April, Belan­da menyerbu kampung Sibohor dan dapat menguasai tempat itu setelah terjadi per­tempuran hampir sehari penuh dan de­ngan korban yang cukup banyak. Selan­jutnya, perlawanan terus berlanjut, hanya saja karena kurang koordinasi, hampir ti­dak ada pertempuran yang dimenangkan oleh para pejuang. Akhir 1860, ditandai dengan pertempuran di bukit Madang, benteng pertahanan •Pangeran Antasari. Dua kali ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh De Brauw gagal. Penyerbuan selanjut­nya melibatkan, di samping De Brauw, Kapten Koch, Letnan Coenen, Mayor Scnuak, Kapten Weyten, Letnan Groen, dan Mayor Verspijk sebagai penanggung jawab. Setelah bertempur hampir sebulan lamanya (dimulai 3 September 1860), baru benteng Madang jatuh ke tangan Be­landa. Pada akhir tahun itu, perjuangan Pangeran Hidayat sudah melemah, namun baru menyerah pada 1862. Anak buahnya, di bawah pimpinan Demang Lehman terus mengadakan perlawanan, sampai Demang itu tertangkap hidup dan dihukum gan­tung (27 Pebruari 1862).

Advertisement

Dengan menyerahnya Pangeran Hidayat, Pangeran Antasari diangkat oleh rakyat sebagai pemimpin rohani dan duniawi de­ngan gelar Panembahan Amiruddin Khali­fatul Mu’minin. Perjuangan dilanjutkan sampai Pangeran Antasari wafat (11 No­pember 1862). Perjuangan selanjutnya dipimpin oleh putranya, Muhammad Se-man (1862-1905). Tercatat pada Agus­tus 1864 pejuang-pejuang Banjar masih menyerang pos Belanda di Barabai, dan bulan berikutnya Tumenggung Suropati menggempur benteng Belanda di Muara Teweh. Januari 1865, beberapa kali patroli Belanda disergap, dan di samping itu, Suropati masih beberapa kali menyer­bu benteng Muara Teweh, meskipun selalu gagal. Tahun 1870, Wangkang dan anak buahnya terlibat pertempuran dan baru berhenti setelah ia tewas. Dalam pada itu, Gusti Muhammad Seman mendirikan ben­teng di Pucuk Cau, dan ba’ 1900 Belan­da mendirikan benteng serupa di situ. Se-lama 2 tahun usaha untuk menangkap Muhammad Seman sia-sia. Tanggal 14 Januari 1905, Belanda mendatangkan 2 brigade marsose dipimpin oleh Letnan H. Christoffel, berhadapan dengan pasukan Muhammad Seman yang setelah bexjuang dengan gigih, gugur. Gusti Kuwing yang menggantikannya, tertangkap 14 Pebruari tahun itu juga, dan dengan itu, berakhir­lah perlawanan rakyat Banjar.

Advertisement