Advertisement

Perang Badr sebuah. pertempuran penting yang terjadi antara pengikut Nabi dan pasukan Mekah pada 624 (2 H). Dalam perang ini Nabi sendiri untuk pertama kali memimpin pasukan Islam mengangkat senjata melawan orang-orang Quraisy. Se-. bagai dua kubu yang berselisih, Mekah yang Quraisy dan Madinah yang muslim menurut ukuran kontemporer berada da­lam situasi bermusuhan. Keberadaan dua

pasukan yang berlawanan di Back, sebuah kawasan terpencil di dekat Laut Merah, bukanlah perbuatan sepihak; keduanya te­lah bersiap menghadapi pertempuran. Ha­dirnya 950 tentara Mekah bukanlah sema­ta-mata merupakan reaksi guna menyela­matkan kafilah Mekah yang sangat berhar­ga dari serangan pasukan muslim yang ber­jumlah 316, terdiri atas 86 Muhajirin dan 230 Ansar. Melihat kerawanan kafilah me­reka yang ulang alik Mekah-Siria, tak mengherankan jika proteksi khusus disiap­kan guna menghadapi segala kemungkinan. Karenanya, melihat kesiapan dua pasukan di Badr, jelas mereka bukan hanya ber­urusan dengan kafilah dagang melainkan siap berperang.

Advertisement

Perang Badr adalah merupakan peristi­wa bersejarah dan krusial bagi masa depan umat Islam. Hijrah Nabi ke Madinah me­mang merupakan rangkaian awal bagi ke­mandirian umat dalam arti yang terbatas. Namun terpisahnya dua kelompok terse-but juga menegaskan adanya perselisihan dan permusuhan. Sebagai seorang utusan, Nabi tetap berusaha menyebarkan ajaran yang dibawanya. Oleh sebab itu Mekah se­bagai pusat tumpuan suku-suku di Jazirah Arabia tak pernah dilewatkan dari upaya dan strategi dakwah Nabi. Sedangkan kaum Quraisy di Mekah yang sangat ter­gantung dalam bidang ekonomi kepada perdagangan dengan dunia luar menjadi semakin terancam dengan berkembangnya pengaruh dan pengikut Nabi yang berpu­sat di Madinah. Perang Badr tak diragukan lagi adalah satu produk dari antisipasi ke­dua kelompok tersebut. Bagi Nabi sendiri Perang Badr merupakan tantangan penting guna menunjukkan kemampuannya meng­hadapi Quraisy.

Pemilihan Nabi atas Badr sebagai tempat menemui pasukan Mekah sangat mengun­tungkan pasukannya yang relatif lebih ke­cil jumlahnya. Perang itu terjadi di Badr karena pasukan Nabi bersiap di tempat tersebut. Hal ini sangat menguntungkan Nabi, sebab pasukannya terlebih dahulu telah mengenal medan secara baik, men­duduki tempat strategis dan menguasai slumber mata air di situ. Mungkin karena jumlahnya yang lebih besar pasukan Quraisy sangat optimis, tanpa memperhitung­kan keuntungan strategis Nabi, untuk me­nyerang. Di samping keuntungan strategis, pengikut Nabi memang mempunyai sema­ngat bertempur dan disiplin yang tangguh. Mungkin hal ini dihubungkan dengan per­tolongan Tuhan secara langsung sebagai­mana banyak dilukiskan dalam al-Quran (umpamanya 8:17). Akhir pertempuran di Badr menunjukkan bahwa pengikut Nabi yang lebih kecil mampu mengalahkan pa­sukan Quraisy bahkan menewaskan pim­pinan mereka Amr bin Hisyam bin al­Mugirah atau lebih terkenal dengan se­butan Abu Jahal. Kemenangan pasukan Madinah di bawah pimpinan Nabi ini di­ikuti juga dengan cara baru untuk meng­atasi masalah tawanan perang. Beberapa tawanan Quraisy bukan dibunuh, sebagai­mana lazimnya di kala itu, melainkan di-bed kesempatan untuk membebaskan diri dengan berbagai cara termasuk menerima ajaran Islam, mengajarkan tulis baca kepa­da penduduk Madinah; atau membayar te­busan.

Keberhasilan pasukan Madinah di Badr meningkatkan pamor Nabi. Di kalangan suku-suku sekitar, kemenangan atas Qu­raisy tersebut di satu pihak membuat me­reka benar-benar memperhitungkan posisi Madinah dan di pihak lain mengurangi apresiasi mereka selama ini atas hegemoni Mekah. Memang Perang Badr sendiri tak menghancurkan kekuatan Quraisy atau pun menutup hubungan dagang mereka dengan Siria, namun secara internal ke­menangan pengikut Nabi lebih mengokoh­kan solidaritas umat di bawah Nabi dan secara eksternal menjadikan rezim Madi­nah disegani. Ini bukan berarti bahwa kaum Quraisy menyerah, justru kekalahan di Bath mendorongnya untuk lebih ofen­sif menundukkan Madinah sebagai terbuk­ti dengan serangan-serangan mereka secara besar-besaran, seperti Perang Uhud pada 625 (3 H) dan Perang “Lubang” (Khan­daq) pada 627 (5 H). Melihat kemampuan Nabi dan Para pengikutnya mempertahan­kan Madinah dalam serangan-serangan ter­sebut dan bertambah besarnya kekuatan tempur Madinah kala itu, serta kemudian upaya ofensif Nabi terhadap Mekah, bisa disimpulkan bahwa Perang Badr mempu­nyai nilai penting atas perkembangan umat yang berpusat di Madinah.

 

Advertisement