Advertisement

Konstitusi Madinah adalah ketetapan­ketetapan yang disusun oleh Nabi Muham­mad setelah hijrah dari Mekah ke Madinah yang harus ditaati oleh seluruh penduduk Madinah dalain hidup bermasyarakat, da­lam keadaan perang maupun damai. Kete­tapan-ketetapan. itu ditulis berupa doku­men yang dalam ,bahasa aslinya (Arab) di­kenal dengan nama as-Sahifat. Agaknya as-Sahifat ini asalnya lebih dari satu doku­men; paling tidak, terdiri dari dua doku­men yang berbeda. Dalam bentuknya yang sekarang, agaknya dokumen itu ditu­lis sekitar 627 (Nabi Muhammad hijrah 622). Butir-butir pokok dari ketetapan­ketetapan ini memang mungkin sekali di­susun pada awal sampainya Nabi di Madi­nah, atau paling akhir 624, kemudian bu­tir-butir ketetapan yang tidak relevan lagi dihapuskan atau dimodifikasikan di sam­ping adanya tambahan-tambahan. Dikata­kan demikian, karena terdapat pengulang­an-pengulangan dalam dokumen yang se­karang itu, lagi pula tiga suku Yahudi yang kuat, Bani Quraizah, Bani an-Nadir dan Bani Qainuqa, tidak lagi disebut-sebut di dalamnya, sedangkan suku-suku Yahudi lain yang masih tinggal di Madinah, terda­pat nama-namanya dalam dokumen itu. Ini merupakan indikasi yang kuat bahwa ketiga suku tadi sudah diusir dari Madinah atau sudah dihukum.

Urgensi disusunnya konstitusi ini, kare­na Nabi Muhammad setibanya di Madinah dihadapkan kepada kenyataan bahwa pen­duduk Madinah waktu itu merupakan ma­syarakat majemuk ditinjau dari banyak se­gi. Dan segi kependudukan, terdapat pen­duduk asli dan kaum emigran. Penduduk asli terdiri dari dua kelompok etnis, Arab dan Yahudi, yang sering timbul perselisih­an di antara mereka, lebih-lebih setelah kelompok yang pertama berbondong-bon­dong masuk Islam.

Advertisement

Advertisement