Advertisement

Kongres Islam Sedunia (Congress of the Islamic World) adalah serentetan kong­res Islam bertaraf antarbangsa yang di­adakan berturut-turut di Kairo (1926), Mekah (1926), dan Yerusalem/al-Quds (1931). Topik utama yang dibicarakan adalah masa depan umat, khilafah dan an­caman Barat terhadap dunia Islam. Bagai­manapun kongres-kongres tersebut diada­kan tanpa koordinasi dan kerjasama; jadi seakan-akan berdiri sendiri-sendiri.

Tindakan Mustafa Kemal (Ataturk) menghapuskan posisi khalifah Usmani pa­da 1924 telah menggemparkan dunia Is­lam. Sebenarnya jauh sebelum itu tanda­tanda ke arah peminggiran lembaga ke­islaman Usmani telah nampak. Demonstra­si dan gerakan khilafat yang dilancarkan di anak benua India seusai Perang Dunia I, umpamanya, adalah bukti nyata terhadap kekhawatiran umat Islam seluruh dunia. Perebutan kekuasaan di Arabia antara Ibnu Saud dan Syarif Mekah pada 1920-an juga menambah keruhnya suasana. Bagi Khazraj, yang selama bertahun-tahun ter­libat pula dalam permusuhan. Kaum emi­gran, terutama dan suku bangsa Quraisy datang dan Mekah dengan meninggalkan rnua miliknya, keluarga dan harta Ben­da, termasuk Nabi sendiri yang pada wak­ru datang tidak lebih sebagai kepala kaum emigran. Mesldpun sebagian penduduk Madinah yang sudah masuk Islam membe­ri perlindungan secukupnya, masih diper­lukan kemantapan dan kedudukan yang jelas, baik dari segi kependudukan mau­pun ekonomi, di samping kemungkinan adanya tantangan terutama dari kaum Ya­hudi. Ditinjau dan segi keagamaan, di sa­na terdapat, paling tidak, tiga macam ke- percayaan, Yahudi, Jahiliyah dan Islam yang masih baru. Al-Quran sebagai pedo­man pokok Islam, ayat-ayatnya yang me­ngenai tata kemasyarakatan belum turun, setidak-tidaknya belum lengkap, dan se­andainya sudah lengkap pun, masih me­merlukan penafsiran-penafsiran untuk penjabarannya, karena ayat-ayat kemasya­rakatan itu sedikit sekali dan umumnya hanya merupakan prinsip-prinsip dasar.

Advertisement

Materi ketetapan-ketetapan itu terdiri dari 47 butir yang inti sarinya dapat di­simpulkan sebagai berikut:

  • Kaum Muslimin dan mereka yang ber­gabung bersama merupakan satu umat (butir 1),
  • Setiap kelompok masyarakat (umum­nya kelompok-kelompok waktu itu berdasarkan garis keturunan) bertang­gungjawab atas pembayaran ganti rugi (diyat) atau tebusan (fidyat) yang ha­rus dibayarkan atas nama anggota ke­lompok yang bersangkutan sebagai akibat pelanggaran anggota kelompok itu atas anggota kelompok lain (butir 2-11),
  • Setiap anggota masyarakat harus me­nunjukkan solidaritas yang tinggi da­lam menghadapi kejahatan, termasuk kejahatan yang dilakukan oleh keluar­ga sendiri (tradisiJahiliyah selalu mem­bantu anggota kelompoknya meski­pun jelas anggota itu melakukan keja­hatan), jika tindak kejahatan itu me­nimpa salah seorang anggota masyara­kat umat (butir 13, 21),
  • Semua anggota masyarakat wajib me­nunjukkan solidaritas yang tinggi da­lam menghadapi orang-orang kafir, baik dalam masa damai, apa lagi dalam masa perang (butir 14, 17, 19, 44). Solidaritas yang sama perlu diberikan kepada mereka yang meminta atau membutuhkan perlindungan (butir 15),
  • Orang-orang Yahudi dari berbagai ke­lompok merupakan anggota masyara­kat umat, dan bebas memeluk dan me­lakukan upacara agama mereka. Mere­ka dan kaum muslimin harus saling membantu (termasuk bantuan militer) apabila diperlukan (butir 24-35, 37 — 38, 46).

Butir-butir yang tidak secara eksplisit masuk dalam 5 nomor kesimpulan di atas, dapat dimasukkan pengertiannya ke da­lamnya atau, paling tidak, tidak berten­tangan; seperti: Membunuh tanpa hak, termasuk dosa besar (butir 21); Terlarang menyayangi orang yang jelas-jelas berbuat kejahatan (butir 22); Pelaksanaan konsti­tusi yang menimbulkan perbedaan penda­pat harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya (butir 23); Terlarang memberi perlindungan kepada orang kafir Quraisy (butir 43), Perjanjian perdamaian dengan musuh (butir 45) dan sebagainya.

Penggunaan kata ummat (umat) untuk pengertian masyarakat, dan bukannya qaum (kaum) atau qabilat (suku bangsa) yang lebih lazim dipergunakan waktu itu, agaknya untuk menghindari konotasi ke­kerabatan yang terdapat dalam kedua kata itu, karena di antara tujuan kerasulan Nabi Muhammad adalah untuk menghi­langkan dominasi kekerabatan dalam hi­dup bermasyarakat dan menggantikannya dengan dominasi agama dengan pengertian bahwa kepentingan bersama diatur bersa­ma, sedangkan masalah yang lebih me­nyangkut keagamaan, diputuskan oleh agama yang bersangkutan, seperti Islam dan Yahudi waktu itu. Dengan demikian, kata “umat” konotasinya adalah agama, meskipun tidak menghilangkan kesan bah­wa pengertian kata itu adalah masyarakat dalam wilayah tertentu, terlepas dari un­sur etnis dan agama.

beberapa pihak ide untuk menghidupkan khilafah adalah tepat guna menyatukan urnat dalam menghadapi tantangan dan krisis. Pada Maret 1924 — menyusul ke­putusan Ataturk yang kontroversial dan pernyataan diri Syarif Mekah sebagai kha­lifah — di Mesir pada tokoh dan ulama, termasuk Syekh al-Azhar dan Amir Umar Tusun, bekerjasama dengan pemerintahan Perdana Menteri Sead Zaglul merencana­kan dan menyiapkan pengadaan Kongres Islam (rnu`tarnar diniy Islamiy) pada Ma­ret 1925 di Kairo. Kongres ini direncana­kan, di antaranya, akan membicarakan masalah khilafah dan mungkin akan meng­usulkan pengangkatan Raja Fu’ad (w. 1936) sebagai khalifah. Tetapi krisis poli­tik dan kekacauan yang di antaranya mengakibatkan peletakan jabatan oleh Sead Zaglul pada akhir November 19.24 -telah menghalangi pengadaan Kongres pa­da waktunya. Sementara itu pada perte­ngahan 1925 terbit pula buku Syekh Ali Abdur-Raziq, al Islam wa-Usrd

yang tegas menolak sistem khilafah. Ken­dati Syekh All akhirnya pada Agustus 1925 dijatuhi hukuman dan dipecat dari posisinya tetapi keberanian Syekh Ali memang luar-biasa; mungkin karena du­kungan kuat dari kaum Liberal (al-Ahreir ad-Dustiiriyiin) yang bermusuhan dengan kelompok nasionalis Wafd dan pendu­kung-pendukungnya. Sewaktu Kongres jadi diadakan pada Mei 1926 hanya sedi­kit peserta luar negeri yang hadir; juga tidak terdapat suara bulat tentang siapa yang akan menduduki posisi khalifah, ha­nya saja disepakati rencana penghidupan kembali khilafah. Rencana keberangkatan delegasi Indonesia (diwakili tokoh-tokoh Komite Pusat Islam/Khilafat — KPIK) yang dipersiapkan semenjak Kongres al-Islam luar biasa di Surabaya pada Desem­ber 1924 terpaksa digagalkan, terutama melihat krisis intern yang timbul di Kairo dan ketidakpastian pengadaan Kongres Islam Sedunia tersebut.

Di Arabia kemenangan mutlak Ibnu Saud atas Syarif Mekah pada 1925 telah mendorongnya mengadakan Kongres Is­lam (al-rnu`tarnar al-Istdmi). Semenjak Syarif Mekah menyatakan diri pada Maret 1924 sebagai khalifah, Ibnu Saud benar­benar memusatkan perhatian untuk mele­nyapkan kekuasaan Syarif. Menjelang’ke­menangan akhirnya, Ibnu Saud telah me­rencanakan berbagai cara untuk memberi­kan legitimasi atas upayanya menguasai Hijaz. Yang terpenting is mensponsori Kongres Islam Sedunia yang akan diada­kan pada 1 Juni 1926. Undangan pun akhirnya diedarkan ke negeri-negeri Islam, termasuk Hindia-Belanda, — yang diteri­ma KPIK setelah Agustus 1925. Argumen dasar Ibnu Saud adalah menegakkan netralitas dan kesucian Mekah dan Madi­nah serta Hijaz secara umum; kendati hal ini dapat ditafsirkan sebagai upaya me­langgengkan kekuasaannya atas Hijaz. Sampai di mana perhatian Ibnu Saud un­tuk menjadikan kongres ini sebagai kom­pensasi atau bahkan tandingan terhadap yang tak berhasil di Kairo adalah tidak di­ketahui secara pasti. Di Hindia-Belanda, susunan delegasi yang akan dikirim pun sangat berbeda dengan yang dipersiapkan ke Kairo; hanya nama O.S. Cokroamino­to yang ketua Syarekat Islam disebut da­lam kedua-dua delegasi. Jadi tidak oto­matis rombongan delegasi yang gagal ber­angkat ke Kairo kemudian dikirim ke Kongres Mekah. Di samping itu, timbul kekhawatiran di kalangan sebagian ulama, khususnya di Hindia-Belanda terhadap ke­dudukan dan praktek mazhab di tanah suci, mengingat Ibnu Saud secara gigih melancarkan Wahabisasi. Masalah pesan dan konsep yang akan dibawakan delegasi KPIK ke Mekah memang menjadi titik permulaan dari persaingan antara kelom­pok-kelompok Islam di Hindia-Belanda. Memang akhirnya Kongres berhasil diada­kan pada waktunya kendati jumlah negeri peserta Kongres tidak sebesar yang diha­rapkan masih lebih besar dibanding Kongres Kairo 60:30 — dan pemerintahan Ibnu Saud juga didesak untuk tidak me­maksakan prinsip-prinsip Wahabisme seca­ra keras di tanah suci. Berbeda dengan Kongres di Kairo, Kongres ini berhasil membentuk Komite Tetap yang berkedu­dukan di Mekah. Kalau kehadiran Ibnu, Sa`uct di Hijaz sendiri masih belum di­terirna secara penuh oleh kaum muslimin, apalagi ide untuk mengangkatnya sebagai khalifah samasekali tak populer. Pada 1930, memang Ibnu Saud diproklamirkan sebagai raja Najd dan Hijaz. Sekembalinya delegasi KPIK ke tanah air yang bertepat­an dengan Kongres al-Islam keenam di Su­rabaya pada September 1926 disampaikan hasil Kongres Mekah kepada para peserta. Kemudian diambil keputusan bahwa lem­baga-lembaga KPIK serta Kongres al-Islam dilebur menjadi Kongres Dunia Islam Ca-bang Hindia-Timur (baca: Indonesia) atau Mu`tamar al-Islaint far’ al-Hind asy-Sy arqiyah.

Sementara itu berbagai krisis yang me­landa dunia Islam sejak Kongres Islam 1926 telah membangkitkan para pemim­pin dan tokoh muslim untuk menguatkan solidaritas. Semakin kuatnya kehadiran Yahudi di Palestina yang didukung oleh kekuatan Barat, khususnya pada 1920-an telah mendorong diadakannya Kongres Islam Sedunia (General Islamic Congress) di al-Quds (Yerusalem). Di bawah pimpin­an Mufti Yerusalem, Haji Amin al-Huseini, dibentuklah panitia guna mempersiapkan Kongres tersebut. Sewaktu Kongres diada­kan pada 7-17 Desember 1931 di Yerusa­lem tidak kurang dari 400 peserta dari berbagai negeri muslim ikut hadir. Ber­bagai masalah termasuk krisis Palestina, konflik Saudi-Yaman, peristiwa Tripoli dan solidaritas Islam sempat mendapatkan pembahasan panjang. Bahkan salah satu resolusi yang diputuskan menyatakan per­lunya dibentuk sebuah universitas Islam di Yerusalem. Dalam berbagai hal memang Kongres Yerusalem dapat dikatakan lebih berhasil dari kedua kongres sebelumnya. Juga, Kongres yang mempunyai Panitia Tetap ini sangat berperanan dalam mendo­rong timbulnya gagasan persatuan Arab dan akhirnya Liga Arab (1944). Tetapi di Indonesia partisipasi organisasi Islam da­lam Kongres Yerusalem bisa dikatakan ti­dak sekompak dan seaktif pada saat peng­adaan Kongres Kairo dan Mekah, kendati pada periode sekitar 1931 berbagai unjuk rasa dilancarkan di berbagai kota guna mendukung perjuangan rakyat Palestina. Kongres Islam Sedunia yang diadakan an­tara 1926-1931 terus mengilhami timbul­ nya berbagai konferensi dan kongres di antara orang Islam. Memang pan-Islam­isme dalam anti solidaritas umat tetap hi­dup dan mengilhami corak hubungan dan visi umat Islam pada zaman modern.

Advertisement