Advertisement

Kitabullah berarti kitab (secara harfi ki­tab berarti tulisan, buku, atau ketetapan) yang berasal dari Tuhan. Term itu menga­cu kepada firman-firman-Nya yang diwah­yukan dalam rangkaian kata-kata kepada setiap nabi atau rasul-Nya. Sebutan atau term lain untuk firman-firman tersebut adalah zabiir, yang secara harfi berarti tu­lisan atau buku, dan suhuf, yang secara harfi berarti lembaran-lembaran tulisan atau buku. Disebutnya firman-firman Tu­han, yang diwahyukan dalam rangkaian kata-kata itu, dengan ketiga term tersebut, agaknya merupakan isyarat bahwa firman­firman itu telah ditulis oleh nabi atau ra­sul yang me nerimanya atau oleh para peng­ikutnya dalam lembaran-lembaran, baik dalam bentuk buku atau bukan; minimal merupakan isyarat bahwa firman-firman demikian selayaknya dicatat dalam lem­baran-lembaran yang dapat ditulis.

Kitabullah adalah wahyu matluw (wall­yu yang dibacakan), yang didiktekan ke dalam hati setiap nabi atau rasul. Hanya manusia yang berstatus nabi atau rasul Tu­han, yang memiliki kapasitas untuk mene­rima wahyu tingkat tertinggi itu. Wahyu dalam tingkatan yang lebih rendah, seperti mimpi (rukyah) yang benar, terbukanya hijab-batin (kasyf), timbulnya dorongan­dorongan atau ide-ide kepada kebaikan dalam hati (inspirasi atau ilham), dan lain sebagainya, baik yang dialami oleh nabi dan rasul. Tuhan atau oleh manusia yang tidak berstatus nabi atau rasul, tidaklah disebut kitabullah. Itulah sebabnya dari semua wahyu yang diterima Nabi Muham­mad, hanya wahyu matluw, yakni al-Qur­an al-Karim saja yang disebut kitabullah. Sedangkan wahyu-wahyu dalam tingkatan yang lebih rendah, yang juga ia terima dari Tuhan, dan kemudian ia ungkapkan dalam hadis-hadisnya, tidaklah disebut kitabul­lah, tapi disebut hadis atau sunah Nabi saja.

Advertisement

Jumlah kitabullah itu sama banyaknya dengan jumlah nabi atau rasul. Jika jum­lah nabi dan rasul itu banyak sekali, kare­na “setiap umat di bumi ini pernah keda­tangan nabi atau rasul, dan hanya sebagian saja (25 orang) yang diperkenalkan oleh al-Quran, maka dari jumlah kitabullah yang banyak itu, hanya tiga nama saja yang dapat dikenal lewat al-Quran, yaitu: al-Quran, yang diwahyukan kepada Nabi terakhir, Muhammad; Injil, yang diwahyu­kan Tuhan kepada Nabi Isa; dan Taurat, yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Mu­sa. Adapun zabur yang diberikan Tuhan kepada Nabi Daud, bukan nama kitabul­lah. Zabur dan suhuf adalah sebutan lain untuk kitabullah. Bukan Daud saja yang menerima zabur dari Tuhan, tapi juga na­bi-nabi yang lain.

Pentingnya kitabullah terletak pada ke­nyataan bahwa ia berasal dari zat yang Maim Tahu dan Bijaksana. Ia merupakan pedoman hidup untuk kepentingan atau kemaslahatan umat manusia. Pewahyuan kitabullah itu merupakan manifestasi ke­bijaksanaan, kebaikan, atau kasih sayang Tuhan kepada umat manusia. Ia haruslah difungsikan sebagai pedoman atau petun­juk dasar untuk membimbing emosi, ke­mauan, pikiran, sikap, dan tingkah laku manusia, agar tercapai kebaikan atau ke­bahagiaan bersarn a, yang didambakan oleh setiap manusia. Dalam al-Quran dikatakan bahwa barang siapa mengikuti petunjuk (hidayah) Tuhan, niscaya ia akan bebas dari kekhawatiran dan frustrasi (2:38), serta tidaklah ia akan sesat dan sengsara (20 :123).

Berirnan dengan kitab-kitab Allah ada­lah salah satu dari lima rukun iman yang terdapat dalam al-Quran (yang empat lagi adalah iman dengan: Allah, malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Akhirat). Itu ber­arti bahwa umat Islam selain harus meng­akui dan menghormati kedudukan al-Qur­an sebagai pedoman hidup yang paling utama bagi mereka, juga mengakui dan menghormati kedudukan kitab-kitab Allah yang lain sebagai pedoman hidup paling utama bagi umat-umat pada perio­de sebelum turunnya al-Quran. Dengan pewahyuan al-Quran, sebagai kitabullah yang terakhir melalui nabi-Nya yang ter­akhir, maka jadilah al-Quran sebagai pedo­man hidup paling utama, yang sepatutnya menjadi pegangan seluruh umat, pada pe­riode sejak pewahyuannya sampai akhir zaman. Kedudukan kitab-kitab Allah yang terdahulu, sebagai pedoman hidup utama, berakhir dengan lahirnya al-Quran. De­ngan kedudukannya sebagai pengganti atau pelanjut kitab-kitab Allah terdahulu, al-Quran mengabadikan (memuat) butir­butir ajaran yang bersifat abadi dari kitab­kitab terdahulu, dan mengganti nilai-nilai yang bersifat temporal yang cocok untuk umat-umat masa lalu, dengan nilai-nilai baru yang lebih cocok untuk umat manu­sia periode al-Quran.

Incoming search terms:

  • yang dimaksud dengan kitabullah
  • apa itu kitabullah

Advertisement
Filed under : Review, tags:

Incoming search terms:

  • yang dimaksud dengan kitabullah
  • apa itu kitabullah