Advertisement

Kiblat adalah arah menghadap pada wak­tu salat. Kiblat umat Islam pada waktu salat adalah Ka’bah di Mekah. Orang yang langsung dapat melih at ka’bah wajib meng­hadap padanya. Sedangkan orang yang ti­dak dapat melihatnya langsung, hanya wa­jib menghadap ke arahnya saja.

Semula umat Islam salat dengan Baitul­muqaddas di Palestina sebagai kiblat, na­mun setelah datang perintah Allah untuk mengalihkan kiblat ke B,aitullah di Mekah, maka b.erpindahlah kiblat umat Islam se­jak waktu itu. Firman Allah dalam al-Qur­an: “Sesungguhnya Kami melihatmu Mu­hammad membolak-balikkan wajahmu ke langit, mengharapkan wahyu turun, maka sungguh akan Kami palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wa­jahmu ke arah Ka’bah yang ada di Mesjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada ha­dapkanlah wajahmu ke arahnya.” (2:144)

Advertisement

Dalam keadaan tertentu di mana sese­orang menemui kesulitan dalam menentu­kan arah kiblat, maka is harus mengambil sikap yang telah digariskan oleh syariat. Di zaman sekarang, menentukan arah kiblat bukanlah suatu hal yang sulit, sebab telah banyak alat penunjuk arah kiblat diperjualbelikan orang, bahkan banyak pula tikar salat dibuat lengkap dengan alat penunjuk arah kiblat itu.

Pada dasarnya menghadap kiblat meru­pakan syarat sah salat yang tidak dapat di­tawar-tawar, kecuali dalam beberapa hal:

Pertama, bagi mereka yang dalam ke­takutan, keadaan terpaksa, keadaan sakit berat, diperbolehkan tidak menghadap ki­blat pada waktu salat. Kata al-Quran: “Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya) maka salatlah sambil beijalan atau berken­daraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (salatlah) se­bagaimana Allah telab mengajarkan kepa­damu apa yang belum kamu ketahui.” (2: 239).

Kedua, begitu pula mereka yang salat sunah di atas kendaraan, dibolehkan tidak menghadap kiblat, sesuai dengan hadis Nabi riwayat Bukhari dari Jabir bin Ab­dullah, dan juga menurut Imam Muslim, Ahmad dan Tirmizi, yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengerjakan sa­lat sunah di atas kendaraannya, ketika da­lam perjalanan dari Mekah menuju Madi­nah. Pada waktu itulah turun firman Allah: “… maka ke manapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah ….” (Q.2:115)

 

Advertisement