Advertisement

Khurafat adalah kata yang mengacu ke­pada dongeng, legenda, kisah, cerita, asum­si, dugaan, kepercayaan, keyakinan, atau akidah yang tidak benar. Khurafat adalah kebatilan dan lawannya adalah kebenaran (al-INqq). Bagi umat Islam, apa saja peng­ajaran atau keyakinan, yang dapat dipasti­kan ketidakbenarannya atau yang jelas-je­las bertentangan dengan ajaran al-Quran dan Hadis Nabi, dimasukkan ke dalam ka­tegori khurafat.

Khurafat, yang banyak sekali berkem­bang dalam masyarakat manusia, merupa­kan jawaban yang tidak benar atas pernya­taan tentang sesuatu, yang muncul dalam kesadaran manusia. Setiap pertanyaan ten-tang sesuatu, dapat melahirkan sejumlah jawaban yang tidak benar atau khurafat. Dapat dibayangkan bahwa khurafat itu amat banyak sekali dalam masyarakat pri­mitif, atau dalam masyarakat yang tidak memiliki atau masih sedikit memiliki ilmu pengetahuan. Jawaban-jawaban mereka terhadap berbagai pertanyaan yang mun­cul di hati mereka, barn dalam taraf sang­kaan atau khayalan yang masih dangkal.

Advertisement

Tidak diragukan lagi bahwa kerja keras dalam penelitian ilmiah dapat dipandang sebagai upaya menghilangkan khurafat dan menggantinya dengan kebenaran. Melalui penelitian yang terus menerus terhadap dunfa empiris ini, maka dunia empiris tampak lebih terang. Dunia ilmiah sema­kin banyak menghasilkan jawaban atau keterangan yang sudah pasti kebenaran­nya atas pertanyaan yang muncul. Dunia ilmiah telah berjasa besar dalam menghi­langkan banyak khurafat. Namun karena dunia ilmiah membatasi penelitian pada alam empiris, tentulah dunia ilmiah tidak akan mampu mengikis habis khurafat itu. la telah berjasa mengalahkan khurafat, se­jauh khurafat itu berkaitan dengan atau terbatas pada kenyataan empiris. Salah satu upaya Islam untuk mengikis khurafat adalah mendorong umatnya agar memper­hatikan dan meneliti fenomena alam de­ngan penelitian yang cermat, serta men­dorong agar terus-menerusmenuntut ilmu.

Selain mendorong umatnya untuk me­ngetahui dengan benar dunia empiris, Islam juga mendorong umatnya untuk berpikir kritis melewati batas-batas empi­ris. Dengan kata lain Islam juga mendo­rong umatnya agar mengembangkan pemi­kiran falsafi. Sejarah pemikiran telah me­nunjukkan bahwa pemikiran falsafi, yang cukup mempertimbangkan penemuan-pe­nemuan ilmiah, juga telah berjasa banyak untuk mengalahkan khurafat-khurafat, yang berbicara dalam wilayah non-empiris. Sejarah pemikiran falsafi tidak lain dari sejarah pergumulan untuk mengalahkan khurafat, kendati tidak setiap hasil pemi­kiran falsafi mengandung kebenaran.

Pengajaran (agama) yang diwahyukan Tuhan melalui para nabi atau rasul-Nya, ju­ga bertujuan untuk menjauhkan umat ma­nusia dan khurafat. Semua ajaran atau pandangan yang jelas-jelas bertentangan dengan pengajaran yang diwahyukan Tu­han, berarti mengandung khurafat. Bagi umat Islam, hanyalah al-Quran satu-satu­nya yang menjadi ukuran yang tertinggi, untuk menilai khurafat atau bukan khu­rafatnya suatu ajaran atau pandangan. Ajaran atau pandangan yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran al-Quran, dapat disebut khurafat. Pandangan kaum materialis yang ateis, bahwa yang ada hanyalah materi, dan Tuhan sebagai pen­cipta materi tidak ada, jelas bertentangan dengan ajaran al-Quran, dan karena itu pandangan seperti itu adalah khurafat. Keyakinan masyarakat primitif, bahwa nasib mereka ditentukan oleh kekuatan-kekuat­an sakti yang buta (mana), atau oleh ar­wah nenek moyang yang bisa senang dan bisa marah, atau oleh aktivitas dewa-dewi, bertentangan dengan ajaran al-Quran, dan karena itu termasuk khurafat. Keyakinan di kalangan bangsa Yahudi, bahwa mere­ka umat kelas satu —sedang yang lainnya kelas dua— dan nabi-nabi hanya diturun­kan Tuhan di kalangan mereka, berten­tangan dengan ajaran al-Quran, dan karena itu termasuk khurafat. Keyakinan di kala­ngan umat Kristen, bahwa Isa al-Masih itu adalah satu di antara tiga oknum Tuhan, dan is mati tersalib, bertentangan dengan ajaran al-Quran, dan karena itu keyakinan tersebut termasuk (menurut pandangan umat Islam) khurafat.

Pandangan atau ajaran yang tidak jelas atau tidak pasti bertentangan dengan ajar-an al-Quran, tidak boleh disebut khurafat. Pandangan atau ajaran seperti itu, kendati berasal dari pemikiran atau renungan non muslim, boleh dipertimbangkan untuk di­anut. Pandangan atau keyakinan seperti bahwa Tuhan menciptakan alam sejak kidam/azali (sejak Ia ada dan tanpa ber­mula), sehingga alam itu menjadi kadim pula seperti kadimnya Tuhan (dari segi zaman), atau sebaliknya, keyakinan bah­wa alam yang diciptakan Tuhan itu tidak kadim, tapi hadis (baharu; pernah sebelum­nya tidak ada), kendati kedua pandangan itu bertentangan (tapi masing-masingnya tidak dapat dikatakan bertentangan de­ngan al-Quran), maka pandangan seperti itu, dari mana pun asalnya, tidak dapat dikatakan khurafat. Khurafat hanya mengacu kepada yang sudah dapat dipasti­kan kebatilannya (kekeliruannya), seperti yang dapat dilakukan oleh aktivitas ilmiah, atau yang jelas dan tegas bertentangan de­ngan ajaran yang terdapat dalam al-Quran, atau yang terdapat dalam hadis yang sung­guh-sungguh (pasti) dari Nabi Muhammad (Hadis Mutawatir).

 

Advertisement