Advertisement

Khataman al-Ouran, Bagi masyarakat beragama, kitab suci selain sebagai sumber hukum, juga merupakan pedoman etik da­lam tatanan kehidupan yang terpola dan termanifestasikan ke dalam tata perilaku .keseharian mereka. Hanya saja, dalam tingkat ketaatan dan lapisan sosial keaga­maan, satu sama lain tidak selalu se­, ragam dalam memahami, menghayati, dan menempatkan fungsi kepedomanan kitab suci tersebut. Masyarakat tradisional yang pandangan kehidupannya sangat banyak diwarnai sistem budaya primitif yang ber­sifat magis, misalnya, akan sangat berbeda dengan masyarakat modem yang sangat rasional dalam memahami, menghayati, dan menempatkan kitab suci sebagai pe­doman etiknya. Perbedaan mereka, ter­utama, dicirikan oleh penguasaan sistem pengetahuan yang, satu sama lain, sangat berbeda: sistem pengetahuan masyarakat tradisional masih diwarnai fenomena ma­gis, sedangkan sistem pengetahuan masya­rakat modern —, yang telah tersekulari­sasikan — sangat bersifat rasional. Karena itu, cara penguasaan sistem pengetahuan sangat berpengaruh terhadap dan tidak dapat dipisahkan dari cara mereka me­mandang kitab sucinya. Fenomena ini pun, tentu saja, terjadi dalam sistem kehidupan keagamaan masyarakat Islam di manapun, tidak terkecuali di Indonesia.

Upacara khataman al-Quran, misalnya, merupakan bagian dart cara masyarakat tradisional dalam memandang kitab suci­nya. Upacara tersebut, biasanya, dilaku­kan ketika seorang anak telah menyelesai­kan seluruh pelajaran membaca al-Quran­nya: si anak bukan saja telah dianggap mampu membaca al-Quran, tetapi juga telah selesai membaca seluruh kandungan­nya. Adapun cara pelaksanaan upacara tersebut, sudah barang tentu, antara satu daerah dengan daerah lainnya ada perbe­daan. Di samping itu, tempat penyeleng­garaannya pun tidak selalu seragam: ada yang dilakukan di lembaga-lembaga pen­didikan dan pengajian al-Quran (surau, mesjid, dan lembaga khusus), dan ada pula yang dilakukan di rumah-rumah guru ngaji atau, bahkan, di rumah si anak yang telah mengkhatamkan al-Quran tersebut dengan cara mendatangkan gurunya ke sana. Di masyarakat Minangkabau, misalnya, upa­cara khataman al-Quran banyak dilakukan di lembaga-lembaga pengajian tradisional: surau dan mesjid, terutama bagi mereka yang tergolong tingkat pemula. Sedangkan di masyarakat Jawa, terutama Jawa Barat, selain upacara tersebut banyak diselengga­rakan di musala (tajug) dan mesjid (masi­git), juga tidak jarang diselenggarakan di rumah-rumah guru ngaji.

Advertisement

Dalam konteks masyarakat modern — yang pada dasarnya juga tidak dapat terlepas sepenuhnya dari bayang-bayang budaya masyarakat tradisional — upacara khataman al-Quran dapat dibandingkan, misalnya, dengan upacara wisuda sarjana. Namun yang disebut belakangan, memang, di samping sudah banyak meninggalkan citra budaya tradisional — setidaknya bagi masyarakat Indonesia.— juga jenjang pen­didikan yang diupacarainya sudah jauh lebih tinggi. Betapapun, pada dasarnya, upacara-upacara seperti itu senantiasa akan dijumpai di manapun dan dalam la­pisan masyarakat apa pun dengan berbagai variasinya.

Sebagaimana layaknya budaya masyara­kat tradisional yang masih banyak diwar­ nai fenomena magis, upacara khataman al­Quran bagi masyarakat Islam tradisional, pada dasarnya, tidak dapat dipisahkan dari cara mereka memandang al-Quran se­bagai kitab suci yang mengandung unsur adikodrati (supernatural), yang dalam ke­sadaran budaya masyarakat primitif disebut unsur magis. Sedangkan dalam konsep keagamaan, fenomena tersebut terkenal dengan istilah mukjizat. Dengan kata lain, cara masyarakat Islam tradisio­nal memandang kemukjizatan al-Quran belum sepenuhnya terbebas dari kesan, bahkan kesadaran, budaya  masyarak at tradisional pada umumnya.

Fenomena tersebut, misalnya, dapat dijumpai dalam kebiasaan masyarakat Islam tradisional membaca surat Yasin (Q.S.. 36) pada setiap Kamis malam (ma-lam Jumat), dan sekaligus surat tersebut sering dianggap dapat dan digunakan un­tuk mengusir roh-roh jahat (setan): suatu anggapan budaya yang masih cukup ber­sifat primitif. Di samping itu, masih ba­nyak surat lain serta ayat-ayat tertentu — ayat Kursi (al-Bagarah:55) misalnya —yang dianggap mempunyai khasiat-khasiat khusus, yang sangat jauh telah ke luar dari konteks makna dan tafsiran rasional ter­hadap kitab suci yang berfungsi sebagai sumber hukum dan pedoman kehidupan (hid ay ah).

Namun sekarang, dengan melalui proses modemisasi sosial budaya, fehomena se­perti itu semakin menyurut, terutama di kalangan masyarakat terpelajar. Bahkan, di kalangan masyarakat umum pun kesu­rutan tradisi tersebut, secara perlahan, terus berkurang. Lebih dari itu mungkin karena terlalu kerasnya proses modernisa­si — tradisi baca al-Quran selepas salat Ma­grib pun semakin jarang terdengar di ru­mah-rumah keluarga miskin, baik di desa dan terutama di kota.

Advertisement