Advertisement

Khamar (khamr) terambil dari kata ichamara — yakhmuru atau yakhmiru — ;:hamran, artinya tertutup, terhalang atau tersembunyi. Kemudian kata khamar di­pergunakan untuk sebutan atau nama bagi (setiap) minuman keras seperti arak dan minuman-minuman keras lainnya yang se­jenis. Minuman keras itu disebut khamar, karena minuman keras dapat menutup akal pikiran sehat peminumnya atau menghalangi peminumnya dan mengerja­kan perintah-perintah agama (Allah dan Rasul-Nya).

Jenis khamar bisa berasal dan perasan kurma dan anggur (al-Quran surat an­Nahl: 67), bisa juga dan bentuk tumbuh­tumbuhan atau pepohonan yang lain se­perti minuman tuak yang dibuat dari nira dan lain-lain.

Advertisement

Meminum khamar hukumnya terlarang (haram) menurut syariat Islam, sama de­ngan hukum berjudi dan termasuk per­buatan dosa besar (al-Quran surat al-Baqa­rah: 219). Menurut al-Quran (surat al­Maidah : 90), khamar itu termasuk salah sa­tu perbuatan keji dan dinyatakan sebagai perbuatan setan yang hams dijauhi. Me­minum khamar banyak menimbulkan efek negatif yang sangat merugikan manusia bukan raja peminumnya melainkan juga orang lain yang sering-sering merenggut banyak korban jiwa karena sikap saling membenci dan permusuhan yang timbul akibat meminum khamar. Khamar dapat membuat peminumnya menjadi lupa diri, lupa keluarga dan lain-lain bahkan juga lupa kepada Tuhan yang menciptakannya (al-Quran surat al-Maidah: 91).

Para ahli fikih telah sepakat tentang ke­harusan (kewajiban) menghukum pemi­num khamar walaupun mereka berbeda pendapat tentang kadar hukumannya. Se­bagian fukaha seperti Abu Hanifah, Ma­lik, as-Sauri dan lain-lain, berpendapat bahwa hukuman (had) bagi peminum kha­mar ialah 80 kali jilid (dera). Tapi menu-rut. sebagian ulama yang lain seperti asy­Syafi`i, Ali bin Abi Talib dan lain-lain, hu­kuman dera bagi peminum khamar seba­nyak 40 kali.

Adapun cara-cara yang dapat ditempuh untuk menentukan seseorang itu memi­ num khamar, adakalanya dengan pengaku­an atau ikrar si peminum itu sendiri dan bisa juga melalui dua orang saksi yang da­pat dipercayai kebenaran katanya. Dalam pada itu pars ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya ditetapkan sese­orang itu meminum khamar berdasarkan bau mulutnya atau dengan cara lain yang sifatnya samar. Sebagian dari mereka se­perti kalangan Malikiyah memperbolehkan dan wajib dihukum si peminumnya jika penyelidikan hakim ternyata diperkuat oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi ahli di bidang itu. Sedangkan sebagian ula­ma yang lain seperti Abu Hanifah dan aszy-

tidak membenarkan menghukum orang yang dituduh meminum khamar hanya dengan berdasarkan bau mulutnya: Karena, demikian mereka berdalil, dalam penyelidikan semacam itu terdapat unsur keraguan sedangkan menjatuhkan hukum­an dalam masalah-masalah yang masih di­ragukan kebenarannya harus dihindarkan (ditangguhkan) menurut syariat.

Terlepas dari perselisihan pendapat Pa­ra ulama di atas, di zaman modern seka­rang ini agaknya tidak terlalu sulit untuk menentukan keterlibatan seseorang dalam masalah meminum minuman keras meng­ingat telah banyak peralatan canggih yang relatif mudah untuk mengetahui orang yang meminum minuman keras. Namun demikian patut pula diperhatikan Hadis Nabi yang menyuruh menangguhkan pe­laksanaan suatu hukuman jika pelanggar­annya itu sendiri masih diragukan kebe­narannya.

Hukuman (had) terhadap peminum khamar itu dikenakan apabila peminum­nya:

  • berakal sehat,
  • telah dewasa
  • minum atas kehendak sendiri. Orang yang tidak sehat akalnya (seperti orang gila atau orang bodoh), anak ke­cil dan orang yang tidak tahu atau ka­rena dipaksa, tidak dibenarkan dikenai hukuman (had) karena meminum kha­mar.

Para ulama juga berbeda pendapat ten-tang boleh-tidaknya berobat dengan kha­mar. Sebagian ulama berpendirian bahwa berobat dengan khamar tidak boleh dalam kondisi bagaimanapun, karena memegangi Hadis Rasulullah yang dengan tegas me­nyatakan tentang tidak mungkinnya kha­mar untuk dijadikan obat. Menurut Ha­dis yang diriwayatkan Ahmad, Muslim, Abu Daud dan at-Turmuzi dari Tariq ibnu Suwaid al-Ja`fi, Rasulullah pernah menya­takan: “Khamar itu bukan obat, tetapi dia adalah penyakit.”

Sebagian ulama yang lain tampak mem­bolehkan berobat dengan khamar, dengan syarat antara lain:

  • sama sekali tidak ada obat lain yang halal
  • oleh orang yang benar-benar ahli di­nyatakan bahwa hanya khamar itulah obat bagi penyakit yang diderita sese­orang
  • tidak melampaui ukuran (dosis) yang telah ditentukan oleh dokter yang me­nentukan
  • tidak ada niat untuk menikmati rasa lezatnya meminum khamar dengan da­lih berobat.

Ulama yang terakhir ini agaknya berpe­gang pada prinsip karena darurat. Dan pa­ra ulama usul dan fikih sendiri memang menetapkan kaidah umum yang menyata­kan bahwa: “Kondisi darurat itu membo­lehkan hal-hal yang dilarang.”

Advertisement