Advertisement

Khalifah, sebuah istilah klasik bagi pe­mimpin tertinggi di dunia Islam. (Di anta­ra kelompok sufi dan tarekat istilah khali­fah juga dipakai, tentunya dengan makna yang khas sufi). Kata khalifah yang ber­asal dari kata ketja khalafa berarti peng­ganti atau penerus. Dalam al-Quran (2:30; 38:26) kata khalifah mengacu kepada pe­ngertian “penerima otoritas di atas bumi yang bersumber dari Tuhan.” Dengan demikian, pengertian istilah khalifah se­bagaimana lazimnya dipergunakan adalah merupakan produk pengalaman umat sete­lah meninggalnya Nabi. Sebelum wafat­nya, jelas istilah “penerus Nabi” (khalifat Rasalillah!) belum ada; dan kelihatannya konsep mengenai penerus Nabi juga tak pernah muncul di kala Nabi masih hidup. Hal ini menjadi semakin jelas kalau dihu­bungkan dengan pertikaian dan perselisih­an yang timbul di antara para sahabat se­telah Nabi wafat. Memang pada saat itu pokok masalahnya bukanlah siapa yang akan menggantikan Muhammad cum nabi melainkan menggintikannya sebagai pe­mimpin umat. Sebab Nabi tidak pernah secara eksplisit, kecuali menurut versi Syi`ah, menentukan corak dan individu pemegang kepemimpinan setelah mening­galnya, teori khalifah dan semacamnya seperti imamah adalah hasil ijtihad belaka. Namun sebagai upaya aproksimasi terha­dap sebuah kepemimpinan ideal kelihatan­nya pengalaman para khalifah awal (al­khulafar-rasyidin) tetap menarik bagi ge­nerasi muslim yang datang kemudian.

Tatanan yang diketengahkan di masa Khulafaur Rasyidin menunjukkan sifat yang terbuka. Entusiasme yang tinggi di antara para sahabat untuk merealisir pan­dangan hidup berdasarkan contoh-contoh Nabi telah mendorong keempat khalifah awal mengikuti pola-pola kepemimpinan Nabi. Memang semenjak terpilihnya Abu Bakar, ide bahwa hanya orang-orang Qu­raisy saja yang berhak memimpin telah di­sepakati, kendatipun pengalaman Khulafa­ur Rasyidin menunjukkan adanya mobili­tas jalur individu para khalifah. Mereka bukan anggota satu keluarga melainkan datang dari berbagai kelompok baik yang pernah dominan seperti Umayyah mau­pun yang tak populer seperti Taim.

Advertisement

Pengaruh Bani Umayyah yang cukup besar semenjak masa pra Islam telah diper­kuat dengan semakin kokohnya posisi me­reka dalam urusan pemerintahan di masa Usman. Karenanya tak mengherankan kalau Mu`awiyah berhasil menggalang ke­kuatan dengan mengembangkan konsep kepemimpinan yang tertutup, berbeda dengan corak kepemimpinan Khulafaur .Ra­syidin. Walaupun para penguasa Umayyah tetap menyebut diri sebagai para khalifah, mereka telah menjadikan kekhalifahan su­atu warisan bagi mereka. Kalau di masa Khulafaur Rasyidin (632-661/11-40 H) penentuan suksesi dilakukan ad hoc dan spontan, di masa Umayyah (661-749/ 40-132 H) suksesi pada umumnya diten­tukan sebelumnya dan terbatas di antara kerabat dekat, anak atau saudara. Karena coraknya yang tertutup serta dibebani dengan pengangkatan pribadi-pribadi yang tak kompeten, maka wajar kalau timbul kritik dan perlawanan terhadap konsep kepemimpinan para khalifah Umayyah.

Gerakan-gerakan oposan melawan ke­kuasaan Umayyah yang menawarkan alternatif kepemimpinan berhasil mela­pangkan jalan bagi berdirinya khalifah Abbasiyah pada 749 (132 H). Para khalifah Abbasiyah menekankan legitimasi kepe­mimpinan atas hubungan kekerabatan yang mereka miliki dengan Nabi. Hal ini terli­hat jelas dari slogan kampanye yang me­reka populerkan ar-rida min All Muham­mad. Berdasarkan klaim ini memang me­reka berhasil memenangkan dukungan luas di belahan timur. Walaupun kenyata­annya para khalifah Abbasiyah tidak jauh berbeda dengan Umayyah, kepemimpinan Abbasiyah menyaksikan partisipasi yang meluas dari kelompok-kelompok non Arab (inawall). Hal ini memang sangat di­pengaruhi corak perjuangan Bani Abbas yang banyak bertopeng kepada kekuatan kelompok Khurasani. Kursi khalifah selalu dipegang keluarga Bani Abbas bahkan sampai kehancuran Bagdad pada 1258 (656 H) oleh Hulagu; namun semakin ber­pengaruhnya, pertama, orang-orang Persi yang menguasai administrasi dan kemudi­an, kelompok Turki yang memiliki ke­kuatan militer tangguh akhirnya telah me­lemahkan kekuasaan para khalifah Abba­siyah.

Tatanan kekhalifahan ternyata tetap di­pertahankan bahkan setelah berakhirnya kekuasaan Bani Abbas di Bagdad. Keber­hasilan Bani Abbas kelihatannya cukup menggoda kelompok-kelompok lath dari keluarga Nabi, termasuk kaum Ismaili, guna mengambil aliti. kekuasaan. Gerakan yang mendasarkan tuntutannya atas legi­timasi kepemimpinan (imamah)Bani Ismail akhirnya berhasil mendirikan ke­khalifahan Ismailiyah atau Fatimiyah yang berpusat di Tunis pada 909 (297 H) kemu­dian dialihkan ke Kairo pada 973 (361 H) yang bertahan hingga 1171 (567 H). Di camping itu, keluarga Umayyah yang ber­hasil menyelamatkan did ke Andalusia serta menyusun pemerintahan otonom merasa perlu mengokohkan legitimasi ke­kuasaan mereka dengan mengganti gelar yang selama ini dipakai, amir, menjadi khalifah pada 928 (316 H). Semenjak itu hingga meninggalnya khalifah Umayyah pada 1031 (422 H) di dunia Islam terdapat tiga khalifah sekaligus: Abbasiyah, Fatimi­yah, dan Umayyah. Hal ini terulang lagi untuk beberapa tahun sewaktu kaum Mu­wahhidun berkuasa. Kemudian setelah ja­tuhnya Bagdad, para sultan Mamluk di Kairo berhasil menabalkan anggota keluar­ga Abbasiyah sebagai khalifah yang lebih menyerupai simbol legitimasi daripada pe­megang kekuasaan. Hal ini terus diperta­hankan sampai hancurnya kekuasaan Mamluk di tangan sultan Usmani pada 1517 (923 H). Kelihatannya para sultan Usmani tidak merasa perlu menabalkan figur-figur Abbasiyah sebagai khalifah teta­pi langsung menyatakan did mereka seba­gai khalifah yang tentunya merupakan inovasi atas paham yang selama ini dianut bahwa “hanya orang-orang Quraisylah yang berhak atas kekhalifahan” (banding­kan pendapat Ibnu Khaldun (w.1406/808 H). Sistem kekhalifahan Usmani berakhir pada 1924 sewaktu Mustafa Kamal Ata­turk memecat khalifah terakhir Abdul Ma­jid. Berbagai upaya untuk menghidupkan kekhalifahan ternyata tak berhasil.

Advertisement