Advertisement

Kenduri. Sebagaimana diketahui, tata keberagamaan masyarakat tradisional ber­beda dengan masyarakat modern. Ciri uta­ma tata keberagamaan masyarakat tradi­sional adalah diwarnai oleh berbagai upa­cara dan nilai-nilai tradisi yang disesuaikan dengan ajaran-ajaran agama. Karena itu, secara sekilas, tata keberagamaan mereka mengesankan bentuk sinkretisme. Gejala seperti ini masih banyak ditemukan di ka­langan masyarakat Islam Indonesia, ter-_ utama di Jawa. Upacara tradisi yang dise­suaikan dengan ajaran-ajaran agama ini, di Jawa, terkenal dengan istilah kenduri, se-lam at an .

Selain itu, sesungguhnya, gejala kenduri merupakan bagian dari proses islamisasi yang belum selesai, sejak Islam masuk ke wilayah nusantara yang dibawa oleh para wali. Proses Islamisasi yang begitu panjang bukan saja disebabkan oleh latar belakang nilai-nilai budaya sebelumnya yang begitu kuat dianut, tetapi juga, sebagaimana di­ketahui, proses Islamisasi yang dilakukan para wali cenderung mengadakan kompro­mi ataupun mentoleransi nilai-nilai buda­ya lokal. Upaya para wall ini, sesungguh­nya, harus dipahami sebagai sebuah sikap metodik dan strategi dakwah di kalangan masyarakat tradisional. Dengan kata lain, pada dasarnya, proses Islamisasi yang dila­kukan para wali bukan untuk mengadakan kompromi budaya, melainkan bagaimana Islam bisa tersebar secara damai dan ce­pat.

Advertisement

Dalam upacara kenduri atau selamatan sangat terlihat percampuran dua tata ni­lai, antara nilai tradisi dengan nilai dok­trin. Secara formal is menampilkan ben­tuk tradisi, sedangkan secara esensial su­dah diislamisasikan. Kenduri ruwahan (da­ri kata Arab: arwah), misalnya, yang dise­lenggarakan pada bulan Sya`ban — bulan ketujuh menurut penanggalan Hijriah —merupakan upacara selamatan untuk men­doakan roh-roh (arwah) para sanak keluar­ga khususnya dan arwah kaum muslimin pada umumnya, agar mereka diterima di hadirat Allah. Mendoakan orang yang su­dah meninggal memang diajarkan oleh Is­lam: terutama seorang anak terhadap orang tuanya. Namun tatacaranya yang di­lembagakan menjadi upacara kenduri ru­wahan tidak dikenal dalam doktrin Islam.

Atas dasar itu, kemudian, tidak meng­herankan jika upacara kenduri menjadi ge­jala umum dalam tata keberagamaan ma­syarakat Islam tradisional di Indonesia. Gejala tersebut, sesungguhnya, tidak bersi­fat khas Islam Indonesia, melainkan telah menjadi gejala universal masyarakat tradi­sional dunia Islam. Namun, tentu saja, bentuk upacara kenduri (selamatan) anta­ra satu negara dengan negara lainnya bisa berbeda; dan perbedaan tersebut sangat ditentukan oleh latar belakang sosial bu­daya masyarakatnya.

Di balik itu, mekanisme tata nilai ken-dun itu sendiri, sesungguhnya, kecuali da­lam Batas-batas tertentu, tidak dimengerti masyarakat. Dalam pengertian dan kesa­daran mereka upacara kenduri merupakan doktrin agama. Karena itu, keterlibatan dan aktivitas mereka dalam tata kenduri disadarinya sebagai bagian dari praktek­praktek ibadat pada umumnya. Karena alasan ini, mereka akan menolak keras ter­hadap segala kekuatan yang berupaya mengubah dan menghilangkan tradisi ken-dun ini. Dalam sejarah perkembangan pe­mikiran (pembaharuan) Islam di Indone­sia, misalnya, dilihat dari satu segi, ke­munculan NU pada 1926 tidak dapat di­pisahkan dari upaya reaksi terhadap ke­munculan Muhammadiyah (1912) yang cenderung mengikis tradisi kenduri terse-but.

Rangkaian upacara kematian, kebiasaan mengunjungi kuburan-kuburan yang dike­ramatkan, upacara sepuluh Muharam (sura), dan upacara tulak bala (rebo we­kasan [teralchir] bulan Safar), merupakan beberapa kebiasaan utama dari tradisi kenduri dalam kehidupan keagamaan ma­syarakat Islam tradisional Indonesia, ter­.utama di Jawa.

 

Advertisement