Advertisement

Kemalisme (Ataturjuluk), satu ideologi yang berkembang di Turki akibat revolusi yang dipimpin Mustafa Kemal Ata­turk semenjak 1919. Sebagai sebuah ideo­logi yang diasosiasikan dengan seorang fi­gur nasional seperti Ataturk maka tak mengherankan kalau sulit untuk diidenti­fikasi secara tepat. Ia mengalami perubah­an yang terus menerus selaras dengan image Ataturk bagi bangsa Turki. Karena itu perlu dibatasi bahwa pengertian Ke­malisme di sini difokuskan pada corak ideologi yang dikembangkan Ataturk se­masa hidupnya. Ideologi ini berkenaan pa­ling tidak dengan enam unsur: republikan­isme, nasionalisme, kerakyatan, sekularis­me, etatisme, dan revolusionisme.

Republikanisme merupakan ciri awal dari Kemalisme. Keberhasilan mengubah bentuk “negara Turki” dari dinasti (kesul­tanan atau kekhalifahan) menjadi republik sebagaimana dicantumkan dalam Konsti­tusi 1923 adalah merupakan kernenangan Ataturk awal yang menyolok. Tak seorang pun bahkan kaum pembaharu baik Us­mani Muda maupun Turki Muda pernah mengajukan konsep republik semacam ini. Diproklamirkannya Turki sebagai negara republik telah mengakhiri kekuasaan tung­gal sultan; bahkan setahun kemudian, pa­da 1924 lembaga kekhalifahan yang sebe­lumnya dipisahkan dari kesultanan juga ikut dihapuskan. Republikanisme menjadi ciri tersendiri bagi berkembangnya peme­rintahan yang diidamkan Ataturk.

Advertisement

Nasionalisme Turki berkembang secara konkrit setelah runtuhnya kesultanan Us­mani. Memang pada awal abad ini Ziya Gokalp telah mengembangkan konsep na­sionalisme Turki, tetapi is tidak mengha­silkan ide tumpah darah yang faktual dan konkrit. Di pihak lain, kelompok-kelom­pok non muslim, khususnya di Balkan dan Yunani, telah lebih dulu mengembangkan nasionalisme yang jelas dan praktis. Nasio­nalisme Turki yang akhirnya berkembang meliputi tiga aspek, historis, kebudayaan dan kemanusiaan. Secara historis perasaan nasionalisme ini berkenaan erat dengan timbulnya konsep wilayah Republik Turki yang meliputi kawasan-kawasan Anatolia dan Rumelia (Thrace). Ia bukan entitas (wujud) Usmani atau Turani yang lebih besar. Unsur penting dalam nasionalisme Turki adalah kebudayaan. Nasionalisme tersebut bukan didasarkan atas ras melain­kan kebudayaan, yaitu nasionalisme bagi orang-orang yang berbaha.sa Turki, berbu­daya Turki, dan hidup di Turki. Nasional­isme Turki bukanlah menuju kepada chau­vinisme. Ia justru menekankan perdamai­an dan persahabatan di antara umat manu­sia.

Kerakyatan merupakan prinsip baru yang dikumandangkan Ataturk. Artinya demokrasi di Turki adalah “pemerintahan rakyat, bersama rakyat, dan untuk rak­yat.” Hal ini sangat bertentangan dengan konsep sebelutnnya yang dianut penguasa Usmani. Istilah re `ayah telah digunakan untuk mengidentifikasikan orang keba­nyakan yang mayoritas petani. Pada 1924 Ataturk telah menggunakan istilah khalq (hulk) dalam arti rakyat, sebagai ganti millet yang berbau keagamaan. “Parlemen ini adalah parlemen rakyat (halk) Turki. Kedudukan dan kekuasaannya dapat men­jadi efektif hanya apabila didasarkan ke­pada kepercayaan rakyat Turki di bumi Turki,” ucapnya di depan sidang parlemen tahun itu. Memang ide populisme (kerak­yatan) yang dike tengahkan Ataturk men­jamin adanya ekualitas, tanpa pengistime­waan, bagi seluruh lapisan rakyat Turki.

Etatisme sebagai prinsip yang telah la­ma berkembang di Eropa, khususnya pada abad ke-19, cenderung memberikan ke­kuasaan besar terhadap negara untuk men­campuri masalah ekonomi. Konsep etatis­me Ataturk berbeda dengan yang tumbuh di Eropa dalam satu hal, etatisme di Barat berkembang untuk mengurangi ketidak­seimbangan pemilikan kekayaan dalam ne­gara, di Turki Ataturk menginginkan ne­gara untuk mendatangkan kekayaan. Se­bagaimana diumumkan pada 1931 etatis­me di Turki memberikan wewenang pe­nuh kepada negara untuk mengelola tam-bang, hutan, jalan air, kereta api, perusa­haan transportasi, bank, dan keperluan umum. Dalam hal ini jelas negara tidak memonopoli semua aktivitas ekonomi, bahkan selaras dengan ide kerakyatan dan nasionalisme individu diberi kebebasan untuk mengembangkan interes ekonomi mereka. Hanya saja diusahakan agar ada balance antara ambisi pribadi dan keperlu­an bersama sebagai satu bangsa. Karena­nya etatisme diharapkan menjadi katalis dalam inisiatif dan pemerataan ekonomi.

Dalam proses penataan masyarakat dan negara Turki, Ataturk melancarkan politik sekularisme. Menurut versinya, sekularis­me bukan saja memisahkan masalah ber­negara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) dan pengaruh agama melainkan juga mem­batasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai satu bangsa. Sekularis­me ini adalah lebih merupakan antagonis­me terhadap hampir segala apa yang berla­ku di masa Usmani. Ataturk sendiri tidak menggunakan kata sekularisme, tetapi lihat sebagian dan ucapannya, “Pemerin­tah yang dibentuk oleh Majelis Nasional Turki adalah nasionalis dan materialistis, ia menyembah realitas. Ia bukanlah peme­rintah yang mau membunuh atau memba­wa bangsa ke dalam lumpur guna meng­ikuti ideologi (baca: agama) yang tidak bermanfaat. . . Setiap pribadi bebas untuk berpendapat dan mempercayai (agama), bebas untuk menganut aliran politik yang sesuai untuk dirinya, bebas untuk bertin­dak apa pun guna kebaikan dirinya dalam hal yang berkenaan dengan peraturan ke­agamaan.” Upaya Ataturk yang begitu ta­jam menggusur pengaruh dan peranan aga­ma dalam kehidupan publik di Turki tidak diragukan sangat dipengaruhi oleh kekece­waannya atas penggunaan simbol Islam oleh penguasa Usmani terutama guna memberikan legitimasi terhadap keduduk­an mereka.

Revolusi yang dimotori Ataturk harus selalu bersifat revolusioner, karena ia me­rupakan “reform atas prinsip-prinsip” ber­negara. Revolusi Turki menurutnya adalah “sebuah hasil alami dan abadi dari prinsip­prinsip revolusioner sehingga kehidupan dianggap sebagai berdasarkan kepada tan­tangan duniawi belaka.” Sebagai pengeja­wantahannya Ataturk mengacu kepada sentralitas ilmu pengetahuan dalam men­ciptakan perubahan-perubahan penting dan spektakular. Dengan berpegang kepa­da ilmu positif, bukan yang mistis dan dogrnatis, maka prinsip-prinsip akan terus diperbaharui guna menjaga vitalitas dan relevansi. Menurut Ataturk, “Kita mem­peroleh inspirasi bukan dari langit tetapi langsung dari kehidupan.”

Advertisement