Advertisement

Kebatinan berasal dari kata batin, kata Arab yang telah di Indonesiakan. Dalam bahasa Arab kata tersebut dikon­traskan dengan kata zahir, yang kemudian telah menjadi bahasa Indonesia pula, yak­ni yang lahir, yang jelas, yang sebelah luar. Sedangkan batin bermakna yang tersem­bunyi, yang sebelah dalam.

Dalam sejarah Islam ditemukan sekte yang diberi nama dengan Batiniyah, yakni suatu sekte yang mencari arti yang dalam dan tersembunyi dari kitab suci al-Quran. Mereka tidak menerima pengertian harfiah kitab suci. Sekte Batiniyah ini dikenal me­rupakan sempalan dari Syi`ah, yakni Syi­`ah gulat (ekstrim) yang dikenal dengan nama Qaramitah.

Advertisement

Kecenderungan mengambil makna ba­tin dari al-Quran dan Hadis, muncul pula dalam bentuk kebatinan di Indonesia. Aliran Kebatinan yang kemudian populer dengan nama Aliran Kepercayaan, teruta­ma yang berasal dari induk agama Islam, sering mempergunakan makna batin, atau makna yang sudah jauh sekali keluar dari makna harfiah yang dipunyai oleh istilah­istilah yang sudah disepakati dalam tradisi Islam. Umpamanya baitul muharram (mesjid Haram) diartikan sebagai rumah tempat larangan Tuhan yang berada di da­da Adam, baitul Muqaddas (mesjid Aqsa) diartikan sebagai rumah kesucian Tuhan yang berada di pelir Adam, akidah (aqi­dah) diartikan dengan sastra, syahadat di­artikan dengan gending.

Inti ajaran dalam aliran kebatinan ter­se but adalah bersatunya hamba dengan Tuhan (manunggaling kawulo Ian gusti). Kebatinan dengan demikian menekankan tujuan utama manusia dalam hidup terse-but dengan jalan mem bersihkan diri dari sifat-sifat yang buruk dan tercela atau de­ngan kata lain berusaha menciptakan budi luhur guna kesempurnaan hidup.

Advertisement