Advertisement

Kauman berasal dari bahasa Arab (Qa­um) yang berarti kelompok adalah sebut­an khan bagi masyarakat Islam tradisional yang tinggal di sekitar mesjid. Dalam pe­ngertian yang lebih luas, kauman merupa­kan istilah untuk perkampungan Islam yang penduduknya terdiri dan orang­orang yang taat beragama. Dengan kata lain, kauman merupakan perkampungan masyarakat santri. Selain itu, dalam pe­ngertian yang agak negatif, istilah kauman dilekatkan kepada kelompok ulama tradi­sional, khususnya yang tinggal di pedesaan (ulama kampung).

Dalam tatanan kehidupan sosial keaga­maan masyarakat Islam tradisional, khu­susnya di Jawa, dikenal dua kategori pengelompokan keagamaan yang relatif cukup tajam, santri dan abangan. Kategori santri biasanya dilekatkan kepada kelom­pok masyarakat yang taat beragama dan setia kepada tradisi keislaman: Sedangkan kategori abangan merupakan sebutan un­tuk kelompok masyarakat yang tidak, atau kurang sekali, taat beragama dan te­tap setia kepada tradisi-tradisi sebelum Islam: baik Hinduisme, Budhisme, atau­pun kepercayaan-kepercayaan tradisional, yang kemudian disebut tradisi kejawen. . Dalam sejarah Islam Indonesia, masya­rakat kauman Yogyakarta merupakan contoh unik dan tipe perkampungan Is­lam tradisional. Keunikannya, bukan saja mereka berada di pusat kota dan secara ekonomi sebagian besar adalah pedagang menengah, tetapi juga mereka mendapat perhatian khusus dan Sultan. Di samping itu, sebagaimana diketahui, dari masyara­kat kauman Yogyakarta inilah perkurn­pulan Muhammadiyah lahir pada 1912. Selain keunikan tersebut, sesungguhnya, istilah kauman itu sendiri tidak berlaku urnum di seluruh Jawa. Di Jawa Barat mi­salnya, perkampungan Islam tradisional dan masyarakat Islam yang tinggal di seki­tar mesjid tidak disebut kampung dan ma­syarakat kauman.

Advertisement

 

Advertisement