Advertisement

Kaum Muda. Sudah menjadi fenomena social bahwa dalam sejarah pergerakan pe­mikiran keagamaan, di mana pun dan da­lam agama apa pun, selalu terjadi perten­tangan keras antara dua garis pemikiran utama, yang satu-sama lain cenderung sa­ling berbeda orientasi dalam upaya menca­pai tujuannya. Dua garis pemikiran utama tersebut, biasanya, terkenal dengan sebut­an atau diposisikan sebagai kaum mo­dernis dan tradisionalis. Tentu saja, pengutuban (polarisasi) ini — kecuali un­tuk lebih memudahkan dalam memahami

dan menjelaskan struktur fenomena per­gerakan pemikiran keagamaan — sama sekali tidak bermaksud menyingkirkan fa­riasi bentuk-bentuk lainnya yang cukup kompleks.

Advertisement

Untuk kasus Islam, misalnya, claim se­jarah pergerakan pemikiran keislaman di Indonesia, fenomena tersebut mulai mun­cul secara jelas ke permukaan pada tahun­tahun awal dasawarsa pertama abad ke-20 ini: pertentangan antara Kaum Tua (tradi­sionalis) dengan Kaum Muda (modernis) dalam masyarakat Minangkabau sejak 1903. Dasawarsa berikutnya, fenomena ini muncul di Jawa, terutama pertentang­an antara kelompok Muhammadiyah de­ngan Nandhatul Ulama. Namun sejak ma­sa Orde Baru, pertentangan antara kedua­nya semakin memudar. Sementara NU, terutama dalam pandangan politiknya se­makin moderat dan karena itu lebih bisa rnenyesuaikan diri dengan modernisasi po­litik, sedang Muhammadiyah masih mem­perlihatkan kekakuannya. Dengan demi­kian, tidak selamanya NU bisa diidentifi­kasikan dengan kelompok tradisionalis, dan sebaliknya, Muhammadiyah pun tidak bisa selamanya dianggap sebagai kelom­pok modernis.

Khusus untuk masyarakat Minangka­bau, fenomena pertentangan antara Kaum Muda dengan Kaum Tua — dan istilah ini pun lebih banyak digunakan di sana — ti­dak selamanya bersifat keagamaan. Seba­gaimana diketahui, selain fenomena per­tentangan yang bersifat keagamaan, di ma­syarakat Minangkabau pun scbelumnya telah muncul fenomena pertentangan an­tara kaum adat dengan kaum agama. Atas dasar itu, konotasi Kaum Muda pun bisa dipertentangkan dengan kaum adat, ter­utama sebelum pertentangan yang bersifat keagamaan meruncing. Karenanya, kelom­pok yang menamakan dirinya Kaum Mu­da — identifikasi untuk mereka yang me­nentang adat — tidak selamanya menye­tujui gagasan-gagasan perubahan yang ber­sifat keagamaan, yang dipelopori oleh kaum agama, terutama kalangan mo­dernisnya. (lihat Kaum Tua).

Advertisement