Advertisement

Kasyaf (kasyf) berarti penyingkapan. Kata ini lazim dipakai dalam lapangan ta­sawuf, dan mengacu kepada penyingkap­an dinding (hijab) yang membatasi hati manusia dengan Tuhan. Ia dapat dipahami sebagai hasil terakhir dari suatu aktivitas panjang yang dilakukan oleh calon sufi, dan karena itu ia mengacu kepada penger­tian lenyapnya segala dinding yang mem­batasi hati manusia dengan Tuhan. Bila kasyaf (total) ini terjadi pada seseorang, berarti ia sudah dekat sekali dengan Tu­han, karena ia berhadapan dengan-Nya tanpa batas. Orang yang belum mengalami kasyaf tersebut berarti masih berada di ha­dapan tirai yang membatasinya dengan Tuhan, dan dalam keadaan begini ia dika­takan belum dekat benar dengan-Nya.

Kasyaf dapat pula dipahami bukan se­bagai hasil terakhir, tapi sebagai upaya yang panjang dan berat sekali, karena la­pisan-lapisan dinding yang membatasi hati manusia dengan Tuhan amat banyak dan sulit dihitung, sepadan dengan keadaan tak terhitungnya jumlah obyek yang da­pat menarik perhatian hati. Perhatian hati kepada harta, pangkat, keluarga, dan bah­kan kepada surga, dipandang sebagai din-ding yang menghalangi perhatian manusia kepada Tuhan. Pendek kata, perhatian se­seorang kepada apa saja selain Tuhan, di­pandang sebagai dinding tebal yang dapat melekat kuat pada hatinya.

Advertisement

Peijalanan panjang melalui maqam (ta­hap/stasiun) demi maqam, yang harus di­tempuh oleh calon sufi untuk mendekat­kan dirinya kepada Tuhan, pada hakikat­nya merupakan upaya penyingkapan (ka­syaf) satu demi satu lapisan dinding yang membatasi hatinya dengan Tuhan. Selama lapisan itu masih ada, selama itu pula ca-Ion sufi itu dituntut untuk berupaya me­nyingkapkan atau melenyapkannya. Bila semua lapisan itu sudah lenyap, barulah kasyaf (secara total) sebagai hasil proses upaya, merupakan nikmat yang luar biasa bagi calon sufi, dan sering juga dikatakan sebagai karunia dari Tuhan. Pada saat itu, calon sufi yang sudah meningkat menjadi sufi, dapat menyaksikan langsung dengan mata batinnya keberadaan dan keindahan Tuhan. Ia dapat langsung mengetahui rahasia-rahasia-Nya, dan mengalami rasa ba­hagia sejati, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Jika kasyaf, sebagai proses upaya, sa­ngat panjang dan lama, maka kasyaf (to­tal) dalam arti basil akhir, berupa keadaan hati yang sama sekali tanpa dinding pem­batas, tidak bisa panjang dan lama. la ha­nya sesaat atau beberapa saat, karena jiwa yang mengalaminya, masih berkaitan erat dengan pancaindera dan berbagai kebu­tuhan tubuh yang mesti dipenuhi. Gang­guan yang keras lewat pancaindera, ke­butuhan tubuh yang sudah sangat mende­sak, atau kelelahan yang menyebabkan berkurangnya daya konsentrasi hati kepa­da Tuhan, dapat menjadi sebab berakhir­nya pengalaman kasyaf itu. Hati dengan demikian kembali memberikan perhatian kepada diri dan lingkungannya atau kem­bali kepada kesadaran yang biasa. Bila is yang sudah menjadi sufi itu, berupaya keras lagi rnenyingkapkan hijab-hijab yang ada, tentulah kasyaf (secara total) itu da­pat terjadi lagi, lebih mudah dari penga­laman pertama. Pengalaman kasyaf itu da­pat terjadi secara berulang-ulang pada se­seorang sufi.

Ide kasyaf muncul dalam lapangan tasa­wuf sejak abad ke-9 (3 H), yakni sejak ide ma`riliztullah (mengetahui Allah) dengan hati nurani, diperkenalkan oleh tokoh sufi, Zunnun al-Misri (w. 860/245 H). Pengetahuan tentang Allah melalui hati nurani itu, tidak mungkin diperoleh oleh seseorang, bila tidak terjadi kasyaf secara total terhadap dinding-dinding yang me­nutup penglihatan hati sanubari.

Advertisement