Advertisement

Kasidah merupakan salah satu dari seni sastra Arab. Bentuknya merupakan bagian dari puisi atau sanjak, dapat juga berupa puisi lirik yang dinyanyikan. Biasanya ka­sidah ini disampaikan dengan cara dise­nandungkan atau dinyanyikan. Pada per­kembangan selanjutnya kata kasidah ma­suk dalam khazanah kosa kata bahasa In­donesia. Dalam kosa kata bahasa Indone­sia istilah kasidah dimaksudkan sebagai suatu grup musik yang peralatan musik­nya didominasi oleh rebana, dan grup ini biasanya membawakan lagu-lagu yang ber­napaskan agama, sekitar pujian terhadap Tuhan dan rasul-Nya, ketaatan kepada ajaran agama dan lain sebagainya.

Kasidah sebagai salah satu dari sastra Arab berbentuk syair yang tnempunyai irama dan patokan atau pedoman tertentu dalam penggubahannya. Ilmu untuk menggubah kasidah ini tercakup dalam pengetahuan membuat syair yang dikenal dengan nama Ilmu al-Arud. Kasidah seba­gai syair Arab terdiri dari antara enam sampai sepuluh bait. Setiap bait terdiri dan sekitar sepuluh baris, sehingga secara keseluruhan kasidah itu terdiri dan seki­tar enam puluh sampai seratus baris. Dan tidak lebih dan seratus dua puluh baris. Kasidah ini sudah dikenal lama sebelum datangnya Islam, karena kasidah ini ter­masuk salah satu kebudayaan Arab yang dikenal sangat menyukai syair. Isi kasidah sebelum datangnya Islam biasanya berki­sar pada puji-pujian (ode) dan penghor­matan pada pahlawan, orang besar, bang­sa, tanah air, keindahan dan kecantikan wanita dan masalah-masalah penting lain­nya. Menuxut sejarah penyair pertama yang mengenalkan kasidah adalah al-Mu­halhal bin Rabiah at-Tuglabi. Selanjutnya, dalam sejarah sastra Arab, dikenal bebera­pa nama yang sangat terkenal seperti Imru al-Qais, Alqamah, Ubaid dan lain-lainnya. Sedangkan cara penyampaian kasidah ini biasanya dengan cara didendangkan, se­hingga akan semakin menambah menarik dari lirik-lirik yang dikandung dalam ka­sidah itu.

Advertisement

Setelah datangnya Islam seni penggu­bahan kasidah tetap berkembang. Perkem­bangan puisi, syair dan kasidah sesudah. datangnya Islam banyak beralih fungsi menjadi semacam sarana untuk dakwah dan pendidikan ajaran Islam. Pada masa al-Khulafa ar-Rasyidun sampai pada masa Dinasti Umayyah kandungan syair atau kasidah dapat digolongkan dalam dua ben­tuk, yaitu bentuk satire atau sajak ce­mooh yang berisi kecaman terhadap suatu keadaan atau perbuatan yang mungkin sa­ja menyangkut masalah politik, kekacau­an, kejahatan, masalah pribadi dan masa­lah lainnya. Sedang yang kedua berbentuk pujian terhadap keindahan dan kecantikan wanita, percintaan dan lainnya yang lazim disebut gazal.

Pada masa Abbasiyah, kebudayaan Islam mendapat pengaruh dari beberapa kebuda­yaan di sekitar Arab, seperti kebudayaan Yahudi, Aramia, Siria dan Arya. Unsur­unsur kebudayaan itu mempunyai pe­ngaruh yang besar pada perkembangan syair dan kasidah. Oleh karena itu kasidah pun kemudian mengalami perubahan dari bentuknya yang asli. Namun kemudian muncullah penyair yang kemudian terke­nal, yaitu Ahmad bin Husein yang dikenal dengan nama al-Mutanabbi (w. 965 M), yang mengembalikan bentuk syair dan ka­sidah ke bentuk aslinya. Pada masa muda­nya is hidup di tengah suku badui yang masih terhitung murni kebudayaannya, termasuk sastra dan bahasanya. Hal ini berpengaruh besar pada kemampuan sas­tra al-Mutanabbi, yang kemudian muncul dengan karyanya dalam bentuk kasidah sebagaimana yang dikenal semula. Para sarjana Barat, khususnya yang mengkhu­ suskan penelitiannya pada bidang sastra Arab, menganggap al-Mutanabbi sebagai penyair Islam terbesar. Karya-karyanya banyak dikutip dan disebarluaskan. Pada masa Mainalik muncullah penyair al-Busiri dengan kasidah Burdahnya, yang berisi pujian kepada Rasul. Kasidah al-Burdah ini sangat berpengaruh besar terhadap ka­sidah-kasidah pujian terhadap Rasul se­sudahnya, seperti Barzanzi dan lainnya. Kemudian perkembangan kasidah ini juga mewarnai perkembangan sastra Turki yang mengakar pada kebudayaan Arab dan Persia. Dalam kasidah ditemukan ga­zal untuk menggambarkan percintaan dan kelezatan anggur, selain itu ada juga sajak tunggal dari kasidah itu yang diperguna­kan untuk puji-pujian, masnawi untuk epyc atau cerita dan pendidikan, rubai untuk epigram atau bentuk sajak pendek yang berisi fatwa, nasihat atau falsafat. Sedangkan yang menjurus kepada keainta­an pada Tuhan dikenal dengan nama syair sufisme. Di antara penggubah kasidah yang terkenal pada masa Usmani ini ada­lah Yazry Oghlu.

Kesenian kasidah masuk ke Indonesia seiring dengan masuknya para pedagang yang membawa agama Islam. Dalam lite­ratur sastra Melayu ditemukan bentuk­bentuk masnawi, Rubai, Kit’ah, dan Na­zam. Ini menandakan adanya pengaruh kasidah dari sastra Arab pada sastra Indo­nesia (Melayu). Syair atau puisi, hasil pengaruh sastra Arab itu, biasanya berte­ma puji-pujian dan sajak-sajak pendek yang biasa disebut pantun. Pantun yang demikian ini sangat digemari di kalangan rakyat maupun bangsawan dan isinya ber­isi ajaran-ajaran Islam.

Dengan adanya kasidah modern, maka corak seni kasidah sudah lebih mengarah pada salah satu jenis irama musik dengan ciri khusus. Hal ini membangkitkan krea­tivitas dalam penggubahan lirik-lirik ber­tema ajaran agama yang dinyanyikan. Li­rik kasidah kadang-kadang memakai baha­sa Arab dan juga bahasa Indonesia. Untuk penampilan lirik-lirik kasidah ini biasanya diiringi dengan musik dari alat-alat seperti kecapi, gambus, biola, gitar, bas dan reba­na.

Advertisement