Advertisement

Kaligrafi (Khatt), adalah seni tulis yang berkembang dalam Islam dengan rnenggunakan huruf Arab sebagai materi. Walau tulisan Arab dalam bentuknya yang sederhana telah dikenal sebelum Islam, te­tapi di tangan orang Islamlah tulisan ter­sebut mengalami perkembangan pesat de­ngan digunakannya sebagai medium tulis­an utama untuk penyebaran ajaran, ad­ministrasi, korespondensi dan bahkan seni tulis.

Tulisan Arab kelihatannya merupakan produk budaya dalaman masyarakat Ara­bia. Hal ini tnenjadi lebih jelas kalau diper­hatikan bahwa studi paleografi tentang tulisan-tulisan kuna yang digunakan di se­kitar Arabia termasuk Nabatiah. Siria dan Mesopotamia tidak menunjukkan adanya hubungan yang jelas dengan tulisan Arab. Bahkan teori yang pernah dikembangkan bahwa tulisan Arab berasal dari tulisan Nabatiah telah dibantah oleh pakar-pakar paleografi tentang Nabatiah. Memang sulit untuk menentukan lokus.yang tepat baik Hirah, Mekah maupun kawasan Yaman se­bagai tempat perkembangan tulisan Arab yang dini. Bagaimanapun sewaktu Nabi

Advertisement

Muhammad memulal misinya, telah men­dapati adanya pemakaian tulisan Arab di antara penduduk Mekah dalam bentuknya yang arkais.

Kedatangan Islam mendorong perkem­bangan tulisan Arab. Semenjak awal Nabi telah menyadari pentingnya perekaman wahyu Quran dalam naskah. Tentunya naskah yang dikerjakan para pengikutnya di Mekah adalah bertuliskan Arab. Keajek­an dan kesungguhan perekaman Quran yang diwahyukan kepada Nabi jelas mele­bihi perhatian para penulis dalam menukil syair-syair Arab bahkan yang tergolong “Kumpulan Tujuh” (al-mu’allaqat as­sab ah) sekali pun yang legendari tersebut. Perhatian Nabi yang khas terhadap tulis baca ini lebih dibuktikan dengan tin dak­annya untuk memberi kesempatan kepada para tawanan PerangiBadr 624 (2 H) yang pandai tulis baca untuk membebaskan diri dengan mengajarkan keahlian mereka ke­pada penduduk Madinah. Di samping itu, semakin luasnya jangkauan teritorial dak­wah dan pengaruh Nabi juga mendorong pemakaian tulisan sebagai alat komunikasi dan korespondensi.

Sepeninggal Nabi penggunaan tulisan Arab terus mengalami kemajuan pesat, terutama dalam penulisan teks agama dan berlakunya Bahasa Arab sebagai bahasa administrasi di seluruh wilayah kekhali­fahan Islam sejak pemerintahan khalifah Umayyah kelima, Abdul Malik bin Mar-wan (w. 705/86 H). Di sekitar masa itu akhir abad pertama Hijrah tulisan Arab su­dah memiliki tanda pembeda yang berben­tuk semacam garis atau titik, umpamanya untuk membedakan antara huruf ba, ta, dan Sa; dan kemudian juga tanda vokal pendek fathah, dommah, dan kasrah. Bah­kan pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik (w. 715/96 H) semacam Kali­grafi Arab awal telah muncul dengan ditu­lisnya berbagai kutipan berhuruf Arab pa­da dinding Qubbat as-Sahra di Rait al­Maqdis yang megah itu.

Kemajuan yang dicapai oleh para pe­nguasa dan dinasti muslim serta partisipasi yang semakin luas dari berbagai bangsa da­lam kehidupan Islam telah mendorong, di antaranya, peningkatan unsur praktis dan estetis dalam tulisan Arab. Kecenderungan para ahli kaligrafi untuk memilih corak tulisan “kufi” yang lancip ataupun “nas­khi” yang lebih fleksibel dan kebulat-bu­latan telah menimbulkan berbagai variasi tipe tulisan. Biasanya tipe tulisan ini diba­gi menjadi 6 tipe induk: at-tumar al-kamil, mukhta.sar at-turnar, at-taue , ar­rig`ah dan algubar. Dari enam tipe ini te­lah muncul pula cabang-cabang perkem­bangan tipe bare, kendati terjadi juga se­mentara tipe atau subtipe yang tidak lagi populer, atau bahkan tidak dikembang­kan. Peranan tiga pakar kaligrafi penting Ibnu Muglah (w. 940/328 H), Ibnu al­Bawwab (w. 1022/418 H) dan Yaqut al­Mustesimi (w. 1858/656 11) tidak dapat dikesampingkan dalam perkembangan kaligrafi Islam berhuruf Arab.

Luasnya pengaruh Islam sebagai agama dan jalan hidup telah menjadikan huruf Arab digunakan oleh berbagai suku bang­sa. Di beberapa kawasan huruf Arab telah menggantikan sistem tulisan yang ada dan kemudian telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi bahan seni tulis yang tinggi dan beragam. Memang huruf Arab telah digunakan oleh berbagai ke­lompok non Arab yang mayoritas muslim sebagai media bahasa mereka seperti Pasy­to, Persi, Turki-Usmani, Urdu, Melayu, Swahili, Barbari, Kroasia, dan Andalusia. Dalam perkembangan kaligrafi Islam jus­tru peranan kelompok “Persi” dan “Tur­ki” sangat mewarnai tipe-tipe tulisan yang menjadi populer seperti rezim yazi (gam-bar yang berunsur tulisan), dan khatt-i inu’amma7 (nukilan ayat Quran atau ha­dis Nabi dalam bentuk yang sangat kom­pleks sehingga sering menyulitkan untuk dibaca).

Di Asia Tenggara, pemakaian huruf Arab (pegon atau jawi) guna menuliskan bahasa lokal masih terus dipertahankan. Kendati huruf Latin telah merebut ber­bagai posisi jawi atau pegon, tetapi bukan berarti yang disebut belakangan telah di­lupakan. Di Malaysia, beberapa harian dan majalah, di camping buku-buku agama Is­lam, tetap menggunakan tulisan jawi. Di Brunei, secara luas dan resmi jawi masih dipergunakan, bahkan sebagai penjelasan

rambu-rambu lalu-lintas. Juga, di Indone­sia, Filipina Selatan, dan Muang Thai Se­latan berbagai pusat pendidikan Islam cen­derung mempertahankan penggunaan pegon atau jawi. Karenanya tidak meng­herankan bahwa di kawasan ini kaligrafi . Islam terus berkembang, diwarnai dengan unsur dan corak lokal yang unik.

Advertisement