Advertisement

Kalamullah berarti sabda atau firman Allah. Pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, terjadi diskusi atau perdebat­an sengit di kalangan ulama Islam tentang apa maksudnya ungkapan “kalamullah” itu clan “al-Quran sebagai kalamullah”. Se­kiranya al-Quran, sebagai kalamullah, me­rupakan sifat Allah, maka mestilah ia ke­kal (kadim), tidak diciptakan; tapi kalau sekiranya ia dipandang tersusun, maka se­suatu yang tersusun mestilah diciptakan dan tidak kekal. Demikian jalan pikiran ulama-ulama dalam ilmu kalam (teologi Islam).

Kaum Mulazilah menyelesaikan per­soalan itu dengan menyatakan bahwa fir- man Allah itu bukanlah sifat-Nya, tetapi perbuatan-Nya. Kalamullah berarti kalam (sabda atau firman) yang diciptakan Allah. Al-Quran adalah sabda yang dicip­takan-Nya; ia baharu dan bukan kadim. Argumen mereka adalah: al-Quran tersu­sun dari bagian-bagian (berupa ayat dan surat; ayat atau surat yang satu mendahu­lui ayat atau surat yang lain) dan kenyata­an demikian membuatnya tidak bisa bersi­fat kadim (tak bermula), karena yang tak bermula tidak didahului oleh apa pun.

Advertisement

Kaum Asy`ariyah berpendirian bahwa kalamullah itu adalah sifat Allah dan ka­rena itu mestilah kadim. Untuk mengatasi persoalan bahwa Yang tersusun tidak bisa bersifat kadim, mereka memberi definisi lain tentang kalam (sabda). Kalam bagi mereka adalah arti atau makna abstrak dan tidak tersusun. Kalam bukanlah apa yang tersusun dari huruf dan suara; kalam yang tersusun itu disebut kalam, hanya dalam arti kiasan. Kalam hakiki (yang se­benarnya) ialah apa yang terletak di balik yang tersusun itu. Kalam yang tersusun dari kata-kata, bukanlah kalam Allah. Al­Quran, sebagai kalamullah, bukanlah apa yang tersusun dari huruf-huruf, kata-kata, ayat-ayat, dan surat-surat, tapi arti atau makna abstraknya. Dalam arti demikian­lah al-Quran, menurut Asrariyah, disebut sebagai kalamullah yang kekal. Dalam arti huruf, kata, ayat, dan surat yang diba­Ca atau ditulis, al-Quran bersifat baharu serta diciptakan dan bukanlah kalamullah.

Kaum Maturidiyah sependapat dengan kaum Asy `ariyah, bahwa al-Quran, kalamul­lah itu, kekal. Ia sifat kekal dari Tuhan, satu, tidak terbagi, tidak berbahasa Arab, atau berbahasa lain, tetapi diucapkan ma­nusia dalam ekspresi berlainan. Apa yang tersusun dan disebut al-Quran, bukanlah kalamullah, tapi merupakan tanda dari ka­lamullah. Ia disebut kalamullah dalam arti ldasan.

Lain lagi pandangan Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, yang menamakan diri mereka dengan kaum Salafiyah. Menurut mereka, para ulama salaf (pendahulu) me­mandang bahwa al-Quran seluruhnya ka­lamullah, bukan makhluk-Nya. Ia bukan terdiri dari makna-makna saja, bukan pula terdiri dari huruf-huruf saja, tapi merupa­kan kesatuan dari keduanya, seperti” hal­nya manusia merupakan kesatuan dari roh dan tubuh. Allah, menurut mereka, berbi­cara dengan makna dan suara, tapi suara­Nya lain dari suara makhluk-Nya. Al-Qur­an, sebagai kalamullah, ada dalam lembar­an-lembaran yang dibukukan (mutshaf), sebagaimana kalam manusia ada dalam lembaran-lembaran yang ditulis. Menurut mereka, jangan dikatakan tinta dan kertas­nya itu al-Quran, tapi katakanlah bahwa al-Quran yang ada dalam mushaf itu, atau yang dibaca oleh kaum muslimin, adalah kalamullah, bukan makhluk.

Kendati para ulama berbeda pendapaf seperti di atas, mereka semua sepakat bah­wa al-Quran, sebagai kalamullah, merupa­kan pedoman hidup paling utama, yang semestinya dipedomani oleh segenap umat manusia, demi merealisasikan cita-cita hi­dup bersama: kebahagiaan hidup duniawi, yang berlanjut dengan kebahagiaan hidup ukhrawi.

Advertisement