Advertisement

Kaisaniah (Kaysaniyyat), ada kala­nya disebut juga Al-Mukhtariah, nama sekte Syi’ah yang dipimpin oleh Kaisan Abu Amra, pemimpin pengawal pribadi dan pendukung_gerakan Mukhtar bin Abi Ubaid as-Saqafi yang menuntut bela ke­matian Al-Husein bin All yang gugur di Karbela, dan mengakui Muhammad bin al-Hanafiah (putera Ali bin Abi Talib bukan dan Fatimah binti Muhammad sebagai imam mereka. Semula mereka hanya sekelompok mawa/i (jamak dari mawla yang berarti budak yang sudah dimerdekakan) di kota Kufah yang dipim­pin Kaisan, kemudian pengertiannya me­luas menjadi semua pengikut Mukhtar. Sebenarnya, banyak pendukung gerakan ini yang berasal dan Yarnan yang tidak ada bukti bahwa mereka tunduk kepada kepe­mimpinan Kaisan, demikian pula golongan Saba’iyyyah, pengikut Abdullah bin Saba’, pengikut Abdullah bin Saba’, yang me­nyembah kursi All bin Abi Talib dan di bawanya ke mana mereka pergi. Mungkin Kaisan aktif memimpin sekte ini setelah Mukhtar tewas dalam pertempuran. Kaisa­niah ini disebut juga Al-Khasyabiah kare-

na mempergunakan kayu sebagai senjata, dan juga disebut Kafirkiibat (kelompok orang-orang kafir) oleh musuh-musuh me­reka, nama ejekan yang juga terdapat dalam pengikut Abu Muslim al-Khurisani.

Advertisement

Sekte ini menganggap Mukhtar mempu­nyai pengetahuan istimewa bahkan jibril menurunkan wahyu kepadanya dan Mukhtar dapat mendengarnya meski tak melihat sosoknya. Mengenai Muhammad bin al-Hanafiah mereka sepakat sebagai imam mereka. Ada yang percaya bahwa ia menggantikan Al-Husein. bin Ali, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ia lang­sung menggantikan ayahnya dengan me­nyingkirkan Al-Hasan dan Al-Husein. Alasannya, pada waktu Perang Unta, ayah­nya memberi tanggungjawab yang besar kepadanya.

Setelah Muhammad bin al-Hanafiah wa­fat, kira-kira tahun 700 (81 H), sebagian mengakui All bin Muhammad sebagai imam, sedangkan yang lain mengakui Abu Hasyim bin Muhammad. Pengikut yang kedua disebut Hasyimiah. Sepeninggal Abu Hasyim (716/98 H), pengikutnya pecah menjadi beberapa golongan, karena masalah pergantian imam. Sebagian besar mengakui Muhammad bin Ali bin Abdil­lah bin al-Abbas sebagai imam karena menjelang wafatnya, Abu Hasyim menye­rahkan kelanjutan perjuangannya kepada Bani al-Abbas tersebut. Yang lain meng­angkat Muhammad bin Abi Hasyim dan sebagian lagi kepada Abdullah bin Mu’awi­ah bin Ja’far bin Abi Talib yang kedua­nya masih kanak-kanak.

Ada pula segolongan Kaisaniah yang tidak mempercayai kematian Muhammad bin al-Hanafiah. Ia tetap hid up dalam ke­gaibannya di pegunungan Radhwa di sebe­lah barat Madinah dan pada suatu hari nanti akan menampakkan diri sebagai Al­Mandi untuk mengisi dunia ini dengan kebajikan setelah penuh dengan kemung­karan. Keyakinan tentang kegaiban dan kembalinya bin al-Hanafiah ini (al-ghaybat wa al-raj’at) dianut oleh Abu Karib (Ku­raib) sehingga pengikutnya disebut Kari­biyyah (Kuraibiyyah).

Ada pula ekstermis Syiah yang disebut Bayaniah (Bayaniyyat), pengikut Baya-n bin Sam’an. Bersama Sd’id al-Nandi, ia menjadi pendukung Hamzah bin Umara’ di Kufah. Setelah Abu Hasyim wafat, Bay5niah menekankan bahwa ia akan kembali sebagai Al-Mandi. Mereka dituduh penganut antropomofisme yang ekstrem sehingga dihukum mati di Kufah tahun 736 (119 H).

Sekte Kaisaniah tidak dapat menandi­ngi kekuatan golongan Imamiah (Isna ‘Asyariah dan Isma’iliah) dan Zaidiah. Pengaruh yang dapat disebutkan adalah pahamnya tentang ghaybat dan raj at yang tampak antara lain pada sekte Qa­iamithat.

Advertisement