Advertisement

Kafa’ah (kafa’ah), yang juga lazim dise­but dengan istilah kufu, secara harfiah mempunyai banyak arti. Di antaranya: jodoh, pasangan, seimbang, sepadan, se-banding, setara, sesuai, sederajat, cocok dan sama. Dalam fikih Islam, kata kafa’ah lebih banyak dipergunakan dalam kontek pembicaraan perkawinan, yaitu persesuai­an atau keseimbangan antara calon mem­pelai laki-laki dengan calon mempelai wa­nita yang hendak melangsungkan akad perkawinan, baik keseimbangan itu berke­naan dengan soal agama dan kebangsaan, maupun berhubungan dengan status sosial dan lain-lain.

Fikih Islam tidak menetapkan kafa’ah sebagai salah satu syarat bagi sahnya suatu perkawinan, namun demikian fikih Islam tetap memandang kafa’ah sebagai salah satu rnasalah penting yang perlu diperhati­kan oleh orang-orang yang hendak meni­kah. Mernang banyak perkawinan yang ti­dak sekufu berjalan langgeng dan harmo­nic (bahagia), tetapi tidak sedikit pula pa­sangan suami istri yang retak dan bahkan berakhir dengan perceraian karena meng­abaikan faktor kafa’ah.

Advertisement

Di kalangan para ahli fikih Islam terda­pat perbedaan pendapat dalam menentu­kan unsur-unsur penting yang patut di­perhitungkan dalam soal kafa’ah. Menurut umumnya mazhab Syafi`i, kafa’ah meli­puti empat perkara: keagamaan, kebangsaan, kemerdekaan dan perusahaan (mata pencaharian).

Yang dimaksud dengan keagamaan di sini ialah ketaatan masing-masing calon mempelai. Dalam mazhab ini, perempuan yang baik-baik (menjaga kesucian dan ke­hormatan dirinya) hanya sejodoh (seku­fu) dengan laki-laki yang baik-baik pula, dan wanita yang fasik juga hanya sekufu dengan pria yang fasik.

Mengenai kebangsaan, mazhab ini mem­bagi kebangsaan manusia ke dalam dua ke­lompok, yakni bangsa Arab dan bukan Arab (ajam). Bangsa Arab terdiri dan dua suku yakni suku Quraisy dan suku bukan Quraisy. Bagi mereka (mazhab Syafi`i), wanita Quraisy hanya sejodoh dengan laki-laki Quraisy dan tidak dengan suku atau bangsa lainnya. Sedangkan perem­puan ajam (bukan Arab) juga hanya sejo­doh dengan laki-laki yang bukan Arab (ajam).

Menurut mazhab Hambali, selain ke­empat unsur tersebut masih ada satu un­sur lagi yang harus diperhatikan dalam kafa’ah, yaitu unsur kekayaan. Menurut mazhab ini, laki-laki miskin tidak sekufu dengan perempuan yang kaya.

Berbeda dengan mazhab Syafi`i, tidak sama dengan mazhab Hambali walaupun di sana-sini terdapat banyak persamaan­nya, mazhab Hanafi menentukan enam macam unsur kafa’ah: keislaman, keaga­maan, perusahaan (status sosial), kebang­saan, kekayaan dan kemerdekaan.

Mengenai keislaman, mazhab Hanafi berpendapat bahwa laki-laki muslim yang bapaknya kafir tidak sekufu derigan wa­nita muslimah yang bapaknya juga mus­lim. Sedangkan mengenai keagamaan, ke­bangsaan dan perusahaan hampir sama de- ngan pendapat mazhab Syafi`i. Bedanya dalam soal keagamaan, mazhab Hanafi berpendapat, perempuan saleh yang ba­paknya fasik, bila perempuan tersebut ka­win dengan laki-laki yang fasik, bapak si perempuan tadi tidak berhak memfasakh­kan pernikahan anaknya mengingat is sama-sama fasik seperti suami anaknya. Sedangkan mazhab Syafil berpendapat se­baliknya, ayah perempuan, walaupun dia fasik, berhak membatalkan perkawinan anak perempuannya yang saleh jika kawin dengan laki-laki yang fasik.

Dalam soal kebangsaan, Hanafi berpen­dapat bahwa lald-laid bukan Arab yang alim. walaupu’n miskin, sejodoh dengan wanita Arab yang jahil lagi kaya, bahkan sejodoh dengan wanita-syarifah (mulia) keturunan alawiyah.

Mengenai jodoh (kufu) dalam soal ke­kayaan, mazhab Hanafi hampir sama pen­dapatnya dengan mazhab Hambali. Ada-pun terhadap kufu kemerdekaan, mazhab Hanafi menyatakan laki-laki yang asalnya budak kemudian dimerdekakan tidak sejo­doh dengan wanita yang merdeka sejak lahir.

Berlainan dengan ketiga mazhab di atas, mazhab Maliki hanya menentukan dua macam raja kafa’ah yang penting diperha­tikan, kedua kafa’ah dimaksud ialah: ke­agamaan dan kesehatan (fisik maupun mental).

Menurut mazhab ini, perempuan sale­hah tidak sekufu dengan laki-laki fasik, dan perempuan yang tidal(‘ cacat tidak se­kufu dengan laki-laki yang cacat seperti gi­la, mengidap penyakit lepra dan lain-lain.

Adapun mengenai kekayaan, kebangsa­an, perusahaan, kemerdekaan dan lain-lain, oleh mazhab ini tidak dianggap seba­gal ihwal yang penting diperhitungkan da­lam masalah kafa’ah. Laki-laki bangsa In­donesia (ajam) umpamanya, menurut mazhab Maliki tetap sekufu dengan wani­ta Arab baik dan suku Quraisy maupun non Quraisy. Demikian pula laki-laki yang miskin atau rendah status sosialnya tetap sekufu dengan wanita kaya atau tinggi sta­tus sosialnya.

Tanpa ada maksud mengabaikan apalagi merendahkan pendapat mazhab-mazhab yang lain, dalam masalah kufu ini mazhab Maliki tampaknya lebih dekat pada al­Quran dan al-Hadis yang menilai perbeda­an manusia hanyalah dari segi ketakwaan­nya (lihat al-Quran surat al-Hujurat ayat 13), tidak dan segi-segi yang lainnya.

Advertisement