Advertisement

Kada, Kadar, dan Takdir (gads’, qadar, dan taqdir) adalah tiga kata yang pengertiannya berkaitan erat. Kada me­ngandung arti putusan atau ketetapan, kadar mengandung arti ketentuan, ukur­an, atau keterhinggaan; dan takdir me­ngandung arti penentuan kadar (bagi se­suatu).

Ketiga kata di atas sering muncul dalam pembicaraan sehari-hari di kalangan kaum muslimin, terutama di kalangan seseorang atau banyak orang sedang ditimpa oleh suatu musibah atau malapetaka, seperti bencana alam, kecelakaan lalu lintas, ke­bakaran, sakit yang berat, kematian, dan sebagainya. Muncul pembicaraan seperti: “Sebaiknya musibah ini diterima dengan sabar, karena semua yang terjadi, terjadi dengan kada, kadar, atau takdir Tuhan”. Kendati pembicaraan sehari-hari tentang ketiga kata itu lebih sering muncul pada waktu-waktu kemalangan, namun setiap muslim berkeyakinan bahwa apa saja yang terjadi dalam alam ini, baik menguntung­kan atau merugikan kepada manusia, ti­dak ada yang lepas dan kada, kadar, atau takdir Tuhan. Semua yang telah, yang se­dang, dan yang akan terjadi, niscaya terjadi menurut kada (keputusan/ketetapan) Tu­han, atau sesuai dengan kadar dan takdir­Nya.

Advertisement

Keyakinan kaum muslimin terhadap adanya kada, kadar, atau takdir Tuhan itu didasarkan kepada pernyataan-pernyataan dalam al-Quran dan Hadis Nabi. Di dalam al-Quran disebutkan antara lain: “Bila Ia (Allah) telah mengkada sesuatu, maka Ia mengatakan kepada sesuatu itu ‘Adalah kamu’, maka adalah ia.” (2:117; 3:47), “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadarnya.” (54:49); “Tidak ada sesuatu pun melainkan pada nisi Kamilah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan kadar tertentu.” (15:21); “Dan la menciptakan segala sesuatu, maka Ia tentukan kadar­nya.” (25:2); “Dan matahari berjalan (beredar) pada tempat peredarannya; demikianlah takdir Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui”. (36:38). Hadis Nabi antara lain mengatakan bahwa “Iman itu adalah: anda beriman dengan Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan anda beriman dengan kadar, baik dan buruknya.” (di­riwayatkan Muslim). Kendati hanya dalam Hadis Nabi dijumpai ungkapan beriman dengan kadar Tuhan, tidak dijumpai da­lam al-Quran, namun pernyataan-pernya­taan tentang ketiga kata itu dalam al-Qur­an dan Hadis Nabi cukup banyak untuk membuat setiap muslim yakin pada ada­nya kada, kadar, dan takdir Tuhan, yang berlaku bagi segenap alam ciptaari-Nya.

Hanya saja perlu diketahui bahwa ter­dapat dua pemahaman tentang kada, ka­dar, dan takdir Tuhan. Menurut satu pe­mahaman, kada, kadar, dan takdir Tuhan yang berlaku pada segenap alam semesta ini, tidaklah memberi ruang atau peluang bagi adanya kebebasan pada diri manusia untuk berkehendak dan berbuat menurut kehendaknya. Menurut pemahaman ini, kehendak atau kemauan manusia itu tidak ada sama sekali; oleh karena itu kebebasan untuk memilih ketaatan kepada Tuhan atau kedurhakaan kepada-Nya tidak dimi­liki oleh manusia. Semua sudah dirancang Tuhan sedemikian terperinci, sehingga se­muanya betalan menurut rancangan yang terperinci itu. Hidup manusia juga demi­kian, sehingga masing-masing manusia tinggal menjalani rancangan atau suratan hidup yang sudah dikada atau ditakdirkan Tuhan. Manusia kelihatannya saja memili­ki kemauan dan kebebasan untuk berbuat, padahal ia tidak lebih dari seperti debu yang diterbangkan angin, seperti wayang di tangan dalang, atau seperti robot yang dikendalikan dari luar. Paham kada, ka­dar, dan takdir seperti ini dikenal juga de­ngan paham jabariyah. Paham ini secara implisit tidak mengakui adanya tanggung­jawab pada manusia bagi kebahagiaan atau kesengsaraan hidupnya, dan telah mem­buat perintah, larangan, janji, dan ancam­an Tuhan dalam kitab suci menjadi hal yang tidak berarti sama sekali.

Bertolak belakang dengan paham di atas, paham berikut ini menyatakan bah­wa apa yang dikada atau dit4dirkan ka­darnya oleh Tuhan tidak lain dari keter­hinggaan potensi-potensi yang dimiliki oleh alam semesta yang diciptakan-Nya, dan teratur serta tetapnya hukum-hukum atau sifat-sifat bagi aktualisasi potensi­potensi tersebut. Dangan kata lain Tuhan telah mengkada atau mentakdirkan bahwa alam ciptaan-Nya hanya memiliki potensi­potensi yang terbatas, dan aktualisasi alam ini berjalan menurut hukum-hukum ter­tentu, yang sekarang dikenal dengan hu­kum-hukum alam. Dalam paham kedua ini diakui bahwa tidak ada sesuatu yang da­pat melepaskan diri dari kada, kadar, atau takdir Tuhan, dan itu hanya berarti bahwa tidak ada sesuatu dalam alam ini yang tidak terikat dengan hukum-hukum alam yang sudah dikada atau ditakdirkan-Nya. Tidak ada peristiwa yang merupakan pe­langgaran terhadap hukum-hukum alam; manusia mana pun tak akan bisa melang­gar hukum-hukum alam tersebut. Menurut paham kedua ini, manusia pun diberi po­tensi-potensi yang banyak tapi terbatas, di antaranya potensi berpikir untuk me­nentukan baik dan buruk atau benar dan salah, potensi berkehendak, menentukan pilihan, dan berbuat menurut pilihan atau kehendaknya. Jadi, dalam paham kada, kadar, dan takdir kedua ini, dipositifkan adanya ruang bagi kebebasan kemauan dan partisipasinya untuk berbuat menurut kemauan atau pilihannya dalam rangka mengaktualkan potensi-potensi dirinya dan lingkungan hidupnya. Manusia mem­punyai potensi untuk mentaati atau men­durhakai bimbingan Tuhan, dan karena itu ia diuji untuk menentukan pilihan. Bila ia memilih kada, kadar, atau takdir yang membawa kepada kebahagiaan, ten­tu ia akan bahagia; bila sebaliknya tentu sengsara. Paham kedua ini dikenal juga­dengan paham qadariyah.

Advertisement