Advertisement

Ka’bah, Bait Allah, kiblat dan pusat ber­bagai peribadatan kaum muslimin, terletak di kota suci Mekah. Ka’bah telah ada sebe­lum Islam sebagai pusat keagamaan. Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, diyakini, se­bagai pendiri bangunan aslinya. Inti ba­ngunan “segi empat” tersebut adalah “Ba­tu Hitam” (al-Hajar al-Aswad). Sampai pa­da saat kaum Quraisy melaksanakan reno­vasi lima tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad, bangunan Ka’bah masih sa­ngat sederhana sekali, bahkan tanpa mema­kai atap yang sempurna. Memang secara ke­seluruhan bangunan Ka’bah kala itu ter­diri atas batu (radrn). Perbaikan tersebut akhirnya menghasilkan sebuah bangunan lengkap dengan atap yang ditopang kayu. Namun struktur bangunan tetap diperta­hankan seperti aslinya yang terdiri atas pojok Batu Hitam, pojok Yaman, bagian muka (zahr al-Ka`bah), dan bagian bela­kang.

Semenjak Ka’bah diambil alih secara penuh pada 630 (8 H) sebagai pusat per­ibadatan dan kiblat umat Islam, is men­jadi sentral dalam berbagai aspek kehidup­an umat termasuk keagamaan, sosial-poli­tik, dan keilmuan.

Advertisement

Pelaksanaan berbagai ibadat Islam ber­kaitan erat dengan Ka’bah. Ka’bah beserta kawasan sekitarnya dinyatakan sebagai “Tanah Suci.” khusus bagi kaum mush-min. Komplek Ka’bah sendiri menjadi sua­tu mesjid besar (al-Masjid al-Hardm). Hanya di mesjid inilah didapati keragaman arah wajah orang-orang yang bersembah­yang, kendatipun mereka sama-sama menghadap kiblat yang satu. Kesatuan kiblat sembahyang orang Islam kemudian mempenggruhi berbagai pandangan hidup mereka, termasuk konsep umat, persauda­raan, dan solidaritas. Di samping itu, pe­laksanaan ibadat haji dan umrah tidak bisa dilepaskan dari upacara ritus di sekitar Ka’bah, khususnya tawaf. Namun pada saat pelaksanaan puncak ibadat haji seusai menginap di Mina, para jemaah haji akan kesulitan untuk mendekati Ka’bah karena terlalu banyak dan berjejalnya jemaah, apalagi di zamanmodern ini.

Pemusatan Ka’bah dalam kehidupan keagamaan kaum muslimin mengundang penguasa muslim untuk membuat nama mereka mengumandang di Tanah Suci. Meskipun Mekah dan Hijaz secara umum telah dikalahkan sebagai pusat pemerin­tahan oleh metropolis-metrop.olis di luar Jazirah Arabia, namun Mekah dengan Ka’bahnya dan Madinah dengan mesjid Nabinya tetap menjadi simbol ideal bagi para penguasa muslim guna memenang­kan simpati dan dukungan umat. Hal ini tentunya menuntut penguasaan Mekah secara politis, sehingga memungkinkan untuk mensponsori perawatan dan “peng­gantian baju” Ka’bah (kiswah) dan meme­nangkan semacam hak penyebutan nama mereka dalam khutbah yang dibacakan di Mesjid al-Haram. Terkadang para penguasa yang ingin memantapkan kebijaksanaan yang diambilnya perlu meletakkan dan mengumumkan keputusan mereka di Ka’bah; lihat umpamanya inisiatif Harun ar-Rasyid (w. 809/193 H)) menggantungkan isi wasiat buat kedua anaknya Amin dan Makmun di dinding Ka’bah. Di zaman modern berbagai penguasa muslim berupa­ya memanfaatkan kekuasaan mereka, atau usaha menguasai, atas Ka’bah guna meme­nangkan simpati umat Islam secara luas, sebagaimana terlihat dari inisiatif Syarif Husein, dan dinasti Sa`ud.

Sebagai suatu tempat berkumpul bera­gam bangsa, Ka’bah dengan Mesjid al­Haramnya menjadi tempat strategis dan populer bagi penyebaran ilmu dan penga­jaran agama. Walaupun Mekah tidak per­nah menjadi pusat pemerintahan, banyak dan beragamnya penziarah ke Ka’bah te­lah melestarikan sarana pendidikan di Mesjid al-Haram. Namun ketiadaan spon­sor serta “dana tetap” yang dapat meno­pang sistem pendidikan tersebut telah me­ngurangi kemampuannya untuk berkem­bang. Di lain pihak, berkumpulnya ber­bagai bangsa di Ka’bah telah menyediakan sarana komunikasi dan tukar informasi yang bersifat personal dan terbuka. Ke­sempatan dan fasilitas yang sulit ditemu­kan bahkan dalam komunikasi dan per­edaran informasi modern yang canggih dan cepat sekali pun.

 

Advertisement