Advertisement

Jumat, yang dalam bahasa Indonesia terkadang disebut jumahat, makna asalnya adalah: perkumpulan, perhimpunan, per- – sahabatan, kerukunan dan persatuan di samping juga berarti pekan dan segeng­gam. Namun demikian, dalani percakapan sehari-hari kata Jumat lebih banyak diper­gunakan untuk pengertian nama hari, yak­ni hari keenam yaitu hari Jumat. Hari ke­enam itu dinamakan hari Jumat, agaknya karena pada hari tersebut umat Islam (da­lam hal ini kaum laki-lakinya) disuruh berkumpul dalam waktu dan tempat-tem­pat tertentu (terutama mesjid) guna men­dirikan ibadat salat yang lazim disebut sa­lat Jumat.

Sebagai akan diuraikan nanti, salat Jumat harus dilaksanakan dengan cara berjemaah dan tidak boleh dilakukan se­cara sendiri-sendiri (munfarid). Dalarn salat berjemaah khususnya jemaah Jumat, sudah tentu umat Islam berkumpul di tempat-tempatyang suci terutama di mes­jid-mesjid. Di tempat-tempat yang suci itu mereka berhimpun dengan penuh bersaha­bat dalam suasana rukun yang mencermin­kan persatttan dan kesatuan sesama umat muslimin.

Advertisement

Menegakkan salat Jumat, yang oleh se­bagian umat Islam Indonesia sering dise­but dengan istilah “Jumatan,” hukumnya fardu ain (kewajiban individu) bagi setiap laki-laki mukmin yang akil-balig (perhati­kan al-Quran surat al-Jumah: 9), tetapi tidak wajib bagi wanita muslimah dan anak-anak kecil yang belum balig sebagai terdapat dalam hadis. Ketidakwajiban salat Jumat ini juga diberlakukan kepada laki-laki muslim jika ada halangan yang dibenarkan syariat seperti di waktu beper­gian (musafir), sakit dan lain-lain.

Berbeda dengan salat-salat fardu lain­nya yang boleh ditegakkan sendiri-sendiri meskipun amat sangat dianjurkan berje­maah, salat Jumat yang hanya dua rakaat itu pelaksanaannya tidak boleh (tidak sah) dikerjakan sendirian karena harus dilaku­kan secara berjemaah seperti telah dising­gung di atas. Tidak ada perbedaan penda­pat di kalangan para ulama dalam mene­tapkan keharusan berjemaah sebagai salah satu syarat bagi kesahan pelaksanaan salat Jumat, kendati pun mereka tidak sepakat dalam menentukan jumlah minimal untuk dapat mendirikan salat Jumat di suatu tempat.

Salat Jumat dilakukan seusai khutbah, dan selama khatib menyampaikan khut­bahnya jemaah Jumat diperintahkan supa­ya mendengarkannya baik-baik di samping tidak dibenarkan (dilarang) berbicara dan dianjurkan supaya diam. Adapun menge­nai waktu pelaksanaan salat Jumat, menu-rut pendapat kebanyakan ahli fikih Islam (fukaha) sama dengan waktu salat zuhur yakni setelah matahari tergelincir ke arah barat (ba`da zawffl asy-syams). Sedangkan menurut sebagian yang lain, boleh mendi­rikan jumatan (salat Jumat) sebelum ter­gelincir matahari atau sebelum masuk waktu zuhur.

Dalam pada itu perintah yang mewajib­kan salat secara berjemaah sebagai terda­pat dalain salat Jumat, tidak kita jumpai di hari-hari lain. Ini mengisyaratkan ten-tang ciri khas dan bahkan kelebihan atau keistimewaan hari Jumat daripada hari­hari yang lain, sungguh pun secara umum pada hakikatnya semua hari mempunyai nilai yang sama.

Bahwa hari Jumat itu mempunyai kele­bihan dari hari-hari yang lain, di antaranya dapat diketahui dari beberapa julukan yang diberikan kepadanya seperti sayyid al-ayam dan sayyid al-usbit yang masing­masing berarti “penghulu had” dan “peng­hulu minggu.”

Penggunaan “al-Jumah” sebagai nama bagi salah satu surat dalam al-Quran yakni surat yang ke-62, kiranya menjadi tanda lain bagi keistimewaan hari Jumat meng­ingat hari-hari lain tidak ada yang dijadi­kan nama bagi surat-surat yang ada dalam al-Quran.

Di samping yang telah dikemukakan di atas, kelebihan dan kemuliaan Jumat terli­hat dalam sejumlah Hadis Rasulullah yang secara khusus menyebut-nyebut tentang kebaikan dan keistimewaan hari Jumat. Kecuali itu, ada pula beberapa hadis yang berisikan anjuran kepada umat Islam supa­ya melakukan amalan-amalan ibadat ter­tentu di malam dan atau siang hari Jumat. Di antaranya ialah anjuran berdoa, mem­perbanyak bacaan salawat kepada Nabi, membaca surat al-Kahfi dan lain-lain.

Keistimewaan hari Jumat dari hari-hari yang lain sebagai telah dikemukakan di atas, bukanlah merupakan hal ganjil yang mengherankan karena keistimewaan se­suatu dari sesuatu lain yang sejenis tidak hanya terdapat dalam hari akan tetapi juga terdapat pada bulan, tempat, nabi­nabi Allah dan lain-lain sesuai Sunnah Allah.

Dalam hal bulan umpamanya, al-Quran (surat at-Taubat: 36) mengungkapkan ten-tang empat macam bulan suci yang dihor­mati atau empat bulan haram (Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rajab) dari kedua belas bulan yang ada. Dalam pada itu bu­lan Ramadan lazim dijuluki sebagai sayyid asy-syuhar (penghulu bulan), syahr al­magfirat (bulan ampunan), syahr at-tattbat (bulan tobat) dan lain-lain gelaran yang menandakan bulan ini memiliki berbagai keistimewaan daripada bulan-bulan yang lain. Demikian pula mengenai tempat dan nabi-nabi Allah memilih tanah haram di Mekah Saudi Arabia, dan Nabi Muham­mad sebagai Nabi dan Rasul Allah terakhir, sering disebut sayyid al-anbiya wa al-mur­salin yang berarti “penghulu para nabi dan para rasul.”

Advertisement