Advertisement

Jinabat atau Janabat makna asalnya adalah jauh, seperti dalam kata ujnubni dan junubin yang masing-masing terda­pat dalam surat Ibrahim: 35 dan surat al­Qasas: 11. . Kemudian kata .janabat atau jinabat itu dipergunakan untuk suatu pe­ngertian yang menunjukkan pada suatu keadaan orang yang keluar air mani atau bersetubuh dan belum melakukan mandi jinabat, yaitu mandi yang harus dilakukan karena keluar air mani atau bersenggama. Karena mandi jinabat itu tergolong ke da­lam mandi yang diwajibkan, maka mandi jinabat tentu harus diawali dengan niat dan dilakukan dengan cara menyiram air ke seluruh anggota tubuh sebagaimana mandi-mandi wajib lainnya.

Kata janabat terkadang diartikan air mani, namun demikian lebih sering diiden­tikkan dengan senggama (jimak dalam isti­lah fikih Islam). Antara bersenggama dan keluar air mani memang ada hubungan erat karena bersenggama pada umumnya mengeluarkan air mani dan keluar air ma­ni pada umumnya disebabkan persetubuh­an meskipun banyak pula yang karena se­bab lain seperti mimpi bersenggama (ihti­lam) dan lain-lain.

Advertisement

Orang yang keluar mani dan melakukan jimak itu disebut junub selama belum me­lakukan mandi jinabat, ialah karena keluar air atau bersetubuh itu menjauhkan (rnelarang)• seseorang dari mengerjakan perbuatan ibadat seperti salat, tawaf dan lain-lain. Janabat tergolong ke dalam ha­das besar, dan karenanya orang yang ju­nub belum dipandang suci dari hadas ter­sebut sebelum mandi.

Menurut syariat Islam, orang yang keluar air mani diwajibkan mandi. Demikian pula orang yang bersenggama, walatipun tidak sampai keluar air mani.

Dalam pada itu patut diketahui bahwa keluar air mani yang diwajibkan mandi itu adalah keluar air mani yang disertai rasa nikmat. Sedangkan keluar air mani yang tidak disertai kenikmatan seperti karena sakit atau kedinginan, setidak-tidaknya menurut sebagiah ahli fikih tidak mewa­jibkan mandi. Demikian pula tidak wajib mandi bagi orang yang mimpi bersetubuh tetapi tidak keluar air mani. Adapun orang yang melakukan sanggama, dia di­wajibkan mandi walaupun tidak sampai keluar air mani.

Nabi bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian duduk di antara dua kaki dan dua tangan istrinya dan kemudian menggaulinya, maka is wajib mandi jana­bat sekalipun tidak mengeluarkan air mani.” (H.R. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Hal lain yang penting diketahui oleh orang-Orang Islam berkenaan dengan soal janabat ini ialah tentang beberapa larang­an yang tidak boleh dilakukan oleh mere­ka yang sedang mempunyai janabat (ju­nub). Menurut hukum Islam, orang yang junub diharamkan menegakkan salat baik salat wajib maupun salat sunah (al-Quran surat an-Nina: 43 dan al-Maidah: 6), me­megang, membawa dan membaca al-Qur­an (menurut umumnya ahli-ahli fikih, tasawuf dan berdiam diri di mesjid).

 

Advertisement