Advertisement

Jihad makna asalnya ialah berbuat sesua­tu secara maksimal, atau mengorbankan segala kemampuan. Arti lain dari jihad ialah berjuang dengan sungguh-sungguh se­perti dalam firman Allah: “Wajahida fi sabIl Allah haqqa jihridih.” Artinya: Dan beijuanglah kamu di jalan Allah dengan perjuangan yang sungguh-sungguh (al­Quran surat al-Hajj: 78).

Adapun yang dimaksud dengan jihad menurut terminologi para ulama seperti dikemukakan oleh sebagian mereka ialah: “mengerahkan segala kemampuan yang ada atau sesuatu yang dimiliki untuk me­negakkan kebenaran dan kebaikan serta menentang kebatilan dan kejelekan de­ngan mengharapkan rida Allah.

Advertisement

Di antara bentuk jihad yang umum di­kenal ialah perang suci yang dilakukan umat Islam terhadap orang-orang kafir (non muslim) dalam rangka menegakkan dan mempertahankan agama Islam. Ini tidak berarti bahwa kata jihad harus ha­nya berarti peperangan sebagaimana di­anggap, sebab, seperti dikemukakan di atas, kata jihad pada dasarnya mengan­dung pengertian yang amat luas dan men­cakup setiap bentuk perjuangan yang di­ridai Allah.

Termasuk ke dalam pengertian jihad memerangi hawa nafsu, bahkan perjuang­an memerangi hawa nafsu seperti dinyata­kan dalam salah satu Hadis Rasulullah dan menurut kesepakatan para ulama, merupa­kan jihad (perjuangan) yang lebih besar dan berat. Diriwayatkan bahwa suatu keti­ka, sepulang dari salah satu peperangan yang cukup dahsyat, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya yang juga ikut bertempur: “Kita sekarang pulang dari melakukan jihad kecil (al jihad al-asgar) untuk kemudian menuju jihad yang lebih besar (al-jihad al-akbar). Ketika Nabi dita­n ya tentang mana jihad yang lebih besar itu. Dia menjawab: “Jihad (perang) mela­wan hawa nafsu.”

Al-Quran sendiri melarang umat manu­sia mengikuti hawa nafsu (perhatikan an­tara lain surat an-Nina: 135), karena hawa nafsu cenderung membawa seseorang ke­pada kejelekan (al-Quran surat Yusuf: 53) bahkan tidak jarang menyesatkan orang yang mengikutinya dari jalan Allah (Sad: 26).

Termasuk ke dalam jihad fi sabilillah juga memerintahkan orang mengerjakan yang baik dan melarangnya dari berbuat yang murikar (al-amr bi al-ma`ruf wa an-nahy ‘an al-munkar). “Siapa yang melihat kemunkaran, demikian kata Rasulullah dalam salah satu sabdanya, hendaklah ia mencegah kemunkaran tersebut dengan tangan (kekuasaan)nya. Kalau tidak mam­pu (karena tidak mempunyai wewenang), hendaklah ia mencegahnya dengan lidah (melarang atau menasihati). Kalau dengan lisan juga tidak mampu, maka hendaklah ia mencegah kemunkaran tersebut de­ngan hatinya (berdoa), tetapi yang disebut terakhir mencerminkan betapa lemah iman orang tersebut.”

Tujuan jihad fi sabilillah yang utama ialah meninggikan kalimat Allah (li kalimat yakni menyebarkan agama Islam dan menegakkannya serta memper­tahankan eksistensi dan keselamatannya dari gangguan orang-orang yang tidak me­nyukai Islam. Termasuk juga ke dalam ji­had membela kesucian agama Islam dari noda-noda penghinaan yang dilakukan se­seorang atau sekelompok orang terhadap agama Islam.

Beijihad di jalan Allah pada dasarnya merupakan kewajiban setiap muslim se­suai dengan kesanggupan dan kemampuan masing-masing, dan setiap orang Islam pa­da hakikatnya memiliki kesempatan un­tuk beijihad dalam pengertian yang luas seperti dikemukakan di atas. Berjuang di jalan Allah dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan dan pemikiran, di samping harta benda dan bahkan jiwa di mana per­lu (al-Quran surat at-Taubat: 41 dan al­Anfal: 72).

Syariat Islam, seperti dapat disimak da­ri beberapa ayat al-Quran dan hadis, pada dasarnya mencintai perdamaian di antara sesama umat manusia dan tidak menye­n-angi tindakan permusuhan dan kekerasan apalagi peperangan yang merenggut ba­nyak korban. Sikap perdamaian yang di­maksudkan bukan hanya sesama umat Is­lam melainkan juga dengan sesama umat manusia yang lain (non muslim). Namun demikian jika umat Islam diserang orang lain atau ajaran mereka dinodai, umat Is­lam dibenarkan melakukan peperangan melawan musuh dalam rangka membela diri dan mempertahankan keselamatan agamanya dari gangguan orang-orang yang memusuhinya. Bahkan dalam kondisi ter­tentu seperti jika umat Islam diusir dari tempat tinggal atau tanah airnya, mereka diwajibkan mengangkat senjata alias ber­perang melawan musuh.

Adapun dasar hukum untuk melakukan jihad dalam bentuk peperangan itu di an­taranya ialah: al-Quran surat al-Hajj: 39­41, al-Bagarah; 190, 191, 193, dan 216, at-Taubat: 36, 41 dan 122. Al-Quran me­larang umat Islam melarikan diri dari me­dan peperangan, kecuali ada alasan terten­tu yang dibenarkan syariat seperti guna mengatur kekuatan yang lebih besar dan setrategis atau karena keadaan memang sama sekali tidak berimbang (al-Quran su­rat al-Anfal: 15 dan 16). Meninggalkan medan tempur tanpa alasan yang dibenar­kan syariat, oleh al-Hadis dinyatakan se­bagai dosa besar.

Bersikap waspada terhadap musuh dan menyiapkan berbagai kekuatan umat Is­lam untuk berjaga-jaga dari kemungkinan adanya serangan dari musuh, merupakan suatu hal yang dianjurkan agama Islam ba­gi Para pemelulcnya (al-Quran 8: 60). Na­mun demikian, sekalipun dalam Islam ter­dapat ajaran jihad dalam bentuk peperang­an, tidak berarti peperangan hams selalu dikobarkan. Jihad fi sabilillah, bukanlah suatu langkah atau tindakan yang harus dilakukan jika usaha-usaha lain seperti perjanjian, perundingan dan perdamaian masih dapat diusahakan sebaik mungkin (al-Quran surat al-Anfal: 61).

Advertisement