Advertisement

Jenazah berasal dari kata kerja Janaza yang berarti menutup. Kata jenazah itu sendiri dalam bahasa aslinya (Arab) bisa mempunyai dua pengertian, dan perbeda­an antara keduanya terletak pada peru­bahan bunyi pada suku pertama dari kata tersebut. Tempat mengusung mayat di ka­la mayat berada di atasnya disebut jina­zah, sedangkan mayat itu sendiri disebut janazah. Kata jamaknya adalah jandiz. Wa­laupun kata jenazah sama artinya dengan mayit (dalam bahasa Indonesia populer disebut mayat), namun dalam hadis-hadis yang menyangkut dengan orang mati lebih banyak dipakai jenazah.

Umat Islam sering diingatkan dalam hadis-hadis Rasulullah agar banyak meng­ingat mati. Di antaranya hadis yang diri­wayatkan oleh Tirmizi yang mengingatkan agar: “Perbanyaklah mengingat suatu yang menghilangkan segala kelezatan, yaitu mati.” Sering mengingat mati mem­buat seseorang selalu bersiap meng,hadapi­nya dengan banyak melakukan ibadat dan kebajikan serta bertobat dan menjauhi se­suatu yang dilarang oleh agamanya.

Advertisement

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seseorang yang masih hidup terhadap seseorang yang wafat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Majah disebut bahwa Rasulullah menyuruh umatnya agar m e­mejamkan mata seseorang yang telah wa­fat dan memperbanyak menyebut-nyebut kebaikannya. Setelah matanya ditutup, hendaklah seluruh tubuhnya ditutup de­ngan kain, seperti dilakukan atas jenazah Rasulullah. (H.R. Bukhari dan Muslim). Selain itu ada lagi beberapa kewajiban ka­urn muslimin terhadap seorang muslim yang meninggal dunia, yaitu:

  1. Memandikannya.

Setelah dibersihkan dari najis, langsung dimandikan sekurangnya sekali rata se­luruh tubuhnya. Air yang dipakai un­tuk memandikan sebaiknya dicampur dengan kapur barus atau sesuatu yang harum. Dalam sebuah hadis Rasulullah menganjurkan agar mayat dimandikan dengan air yang dicampur dengan kapur (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam ha­. dis lain Rasulullah bersabda: “Mandi-kanlah mayat dengan air dan daun bida­ra (suatu yang bisa menghilangkan da­ki).

  1. M engafaninya.

Seorang yang meninggal dunia wajib di­kafani oleh yang masih hidup. Ongkos pengafanan ditarik dari hartanya. Jika­lau ia tidak meninggalkan harta, maka ongkos pengafanannya ditanggung oleh yang wajib membiayainya ketika ia ma­sih hidup. Jika yang wajib membiayai­nya itu tidak mampu, maka ongkos pe­ngafanannya ditarik dari Baitul-mal (kas negara). Jika baitul-mal tidak ada, maka wajib atas orang Islam yang mam­pu untuk membiayainya. Demikian pu­la dengan segala perongkosan sampai je­nazah dikuburkan. Jadi dalam agama Is­lam pembiayaan pengurusan jenazah dari kalangan yang tidak mampu, terle­tak di atas pundak kaum muslimin yang mampu. Mereka wajib menyumbangkan dana untuk keperluan tersebut.

Kafan sekurangnya selapis kain yang menutupi seluruh tubuh jenazah, baik mayat lelaki maupun perempuan. Yang lebih utama bagi mayat lelaki tiga lapis kapan, tiap lapisnya menutupi seluruh tubuhnya. Ada yang mengatakan bah­wa satu dari tiga lapis itu sebagai kain sarungnya, sedangkan dua lapis lagi me­nutupi seluruh tubuhnya. Adapun ma­yat perempuan yang lebih utama de­ngan lima lapis kain, yaitu satu lembar sebagai kain sarung (bagian bawah), satu lapis lagi untuk baju, satu lapis un­tuk kerudung dan dua lapis menutupi seluruh tubuhnya.

Setelah jenazah dimandikan, dan dika­fani, maka wajib disalatkan, dengan em-pat kali takbir termasuk takbiratul­ihram. Membaca Fatihah setelah takbir pertama (takbiratul-ihram). Kemudian setelah takbir yang kedua membaca sa­lawat atas Nabi Muhammad seterusnya membaca doa untuk si mayat setelah takbir yang ketiga, dan demikian pula membaca doa setelah takbir yang ke­empat. Setelah itu salat disudahi de­ngan salam. Demikian cara menyalat­kan mayat dengan tidak melakukan ru-

ku dan sujud. Cara yang demikian dila­kukan baik mayat itu berada di tempat, maupun ia berada jauh yang disebut de­ngan salat gaib.

Setelah mayat disembahyangkan, ia di­bawa untuk dikuburkan. Kubur digali kira-kira tidak tercium baunya keluar dan tidak dapat dibongkar oleh bina­tang buas.

Hukum memandikan, mengafani, me­nyalatkan dan menguburkan mayat atas orang yang masih hidup adalah fardu ki­fayah. Artinya suatu kewajiban atas kaum muslimin yang bisa diwakili oleh beberapa orang saja. Apabila beberapa di antara ma­syarakat setempat telah melaksanakan hal­hal tersebut, maka anggota masyarakat yang lainnya terlepas dari kewajiban terse-but. Akan tetapi apabila tidak ada seorang pun yang melakukannya, maka seluruh kaum muslimin setempat dimurkai Allah.

Ahli waris si mayat hendaklah dengan segera membayarkan utang si mayat jika ia meninggalkan utang. Dalam sebuah ha­dis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal Rasulullah mengingatkan bahwa ruh seorang mukmin tidak sampai ke ha­dirat Allah selama utangnya belum diba­yar. Untuk membayar utang itu uang dita­rik dari harta peninggalannya sebelum di­bagi kepada ahli warisnya. Jika ia tidak meninggalkan harta pusaka, maka pemba­yaran utangnya itu ditanggung oleh ahli warisnya.

Masyarakat sekitarnya hendaklah mem­beri makan keluarga yang dapat musibah kematian itu seperti dianjurkan oleh Ra­sulullah dalam sebuah hadis yang diriwa­yatkan oleh Abu Daud. Keluarga yang di­tinggal si mayat sudah jelas dalam kesi­bukan dan belum sempat mengurus ma­kanan mereka. Sebab itu wajarlah jika te­tangganya membantu mereka sampai me­reka sempat mengurus diri.

Advertisement