Advertisement

Jamrah (Jumrah), yang asal maknanya batu kecil (kerikil), ialah nama atau sebut­an bagi tempat yang dilempari dengan ba­tu-batu kecil oleh para jemaah haji. Ada tiga tempat jamrah yang dilempari jemaah haji, semuanya berada di Mina dan satu sa­ma lain letaknya berdekatan.

Pertama: Jamrah akabah (al-Jamrat al­`Aqabat) yang juga lazim disebut dengan Jamrah Kubra, ialah Jamrah yang terletak .di sebelah kiri orang yang memasuki Mi­na.

Advertisement

Kedua: Jamrah Wusta (al-Jamrat al­Wustc7) yang letaknya sejauh 116, 77 m dari Jamrah Akabah.

Ketiga: Jamrah Sugra (al-Jamrat S’ugrc7) yakni Jamrah yang mengiringi Mes­jid al-Haif yang letaknya sekitar 156, 40 m sesudah Jamrah Wusta.

Di ketiga tempat tersebutlah (terutama Jamrah Akabah) orang-orang yang menu­naikan ibadat haji melemparkan batu-batu kecil (ramy- al-1,2171Yr), yang menurut kebar nyakan ahli hukum Islam (jumlfur al-fuqa­h) hukumnya wajib bukan rukun. Orang yang menunaikan ibadat haji tanpa me­lontar jamrah, demikian menurut mereka, hajinya tetap sah akan tetapi diharuskan membayar dam (denda). Sementara seba­gian ulama yang lain memandang melon-tar jamrah sebagai salah satu rukun haji. Orang yang tidak melempar jamrah di waktu melaksanakan ibadat haji, hajinya dianggap tidak sah menurut pendapat yang kedua.

Menurut sejarahnya, syariat tentang melontar jamrah berasal dari peristiwa pe­lemparan yang dilakukan Nabi Ibrahim terfiadap setan yang menghalanginya seba­gai dikisahkan Hadis (riwayat al-Baihaqi dari Ibnu Abbas): “Sewaktu Nabi Ibrahim menunaikan ibadat haji, dihadang setan di tempat Jamrah Akabah, kemudian Nabi Ibrahim melemparinya dengan tujuh butir batu kecil sampai setan itu terbenam ke dalam bumi (menghilang). Kemudian se• tan menghadang lagi di jamrah kedua (Jamrah Wusta), dan dilempar lagi oleh Nabi Ibrahim dengan tujuh butir kerikil sampai terbenam ke dalam tanah; dan ke­mudian setan menghadang lagi di jamrah yang ketiga (Jamrah Sugra) dan Nabi Ib­rahim melemparnya juga dengan tujuh bu­tir batu kecil hingga ia masuk ke dalam bumi.”

Melempar jamrah yang dilakukan Nabi Ibrahim tersebut dilestarikan oleh Nabi Muhammad dan ia menjadikannya seba­gai salah satu kegiatan dari seluruh rang­kaian ibadat haji. Kegiatan melontar jam-rah itu dilakukan pada tiga atau empat ha­ri yaitu: Hari Nahar atau Hari Raya Kur­ban (10 Zulhijjah) dan dua atau tiga hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Pada hari pertama, 10 Zulhijjah, hanya melaku­kan Jamrah Akabah dan tidak jamrah-jam­rah yang lain. Sedangkan pada hari kedua dan seterusnya yakni 11, 12 dan 13 Zul­hijjah (hari-hari Tasyriq), jamrah dilaku­kan untuk Jamrah Akabah (Jamrah Kub­ra), Jamrah Wusta dan Jamrah Sugra.

Untuk kepentingan melempar jamrah tersebut dibutuhkan 70 atau 49 buah keri­kil (batu kecil) dengan perincian: 7 buah untuk melempar Jamrah Akabah di Hari Nahar (hari pertama) dan masing-masing 21 buah untuk hari kedua, ketiga dan atau keempat 11, 12 dan 13 Zulhijjah) dengan ketentuan sebanyak 7 buah untuk masing­masing ketiga jamrah yakni Jamrah Aka-bah, Jamrah Wusta dan Jamrah Sugra. Na­mun demikian ada sebagian ulama yang memandang boleh melontar Jamrah de­ngan lima butir batu dan ada pula yang mengatakannya enam butir batu untuk se­tiap Jamrah.

Adapun waktu yang utama untuk me­lontar jamrah seperti dikatakan para ula­ma ialah di waktu Duha (setelah terbit matahari dan meninggi sedikit) untuk Jam-rah Akabah di hari Nahar, dan ketika atau setelah tergelincir matahari ke arah Barat (waktu zuhur) sampai saat matahari terbenam untuk melempar jamrah pada dua atau tiga hari lainnya. Ketentuan de­mikian tidak bersifat mengikat (keharus­ an), maksudnya boleh dikerjakan di luar waktu-waktu yang barn saja disebutkan seperti di malam hari terutama jika ada halangan seperti sakit dan lain-lain. Bagi orang yang tidak mampu melempar jamrah seperti sakit atau lemah, boleh diwakili orang lain dengan ketentuan orang yang menggantikannya itu telah selesai melon-tar jamrah untuk dirinya sendiri dan ke­tika hendak melempar ia berniat bahwa lemparan yang dilakukannya untuk orang yang ia wakili.

Dalam pada itu ada beberapa hal pen­ting yang patut diperhatikan oleh setiap jemaah haji berkenaan dengan soal melon-tar jamrah ini. Di antaranya: batu-batu yang dipergunakan untuk melempar jam-rah (yang diambil di Mashab — tempat yang terletak antara Mina dan Muzdalifah) hendaknya batu-batu yang berukuran ke­cil (kerikil) dan tidak najis, bukan batu­batu yang berukuran besar dan najis. Me­lempar jamrah dengan batu-batu yang be­sar atau najis hukumnya makruh.

Lemparan dilakukan satu­persatu, dan diusahakan sedemikian rupa agar tepat pada sasaran yang menjadi ke­wajiban melempar jamrah itu sendiri. Me­lemparkan batu ke udara umpamanya, meskipun temyata kemudian jatuh persis di tempat sasaran, tidak sah hukumnya dan demikian pula jika batu-batu itu dile­takkan begitu saja (tanpa dilemparkan).

Sebagai telah disinggung di atas, melem­par jamrah dianjurkan sekuat tenaga dan dilakukan dengan tangan kanan. Bagi orang lelaki dianjurkan sampai kelihatan ketiaknya di waktu melempar jamrah, te­tapi dianjurkan bagi kaum wanita meskipun tidak pula dibenarkan untuk terlalu pelan apalagi bersikap santai dalam melakukan lontar jamrah.

Advertisement