Advertisement

Jamiat Khair adalah nama organisasi yang didirikan di Jakarta pada 17 Juli 1905 oleh Sayid Mu­hammad al-Fachir bin Abdur-Rahman al­Masyhur, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Syihab, Sayid Idrus bin Ahmad bin Syihab, dan Sayid Syehan bin Syihab. Ja­miat Khair, meskipun seluruh pendirinya orang Arab, bahkan, keturunan Sayid, ter­buka untuk setiap muslim menjadi anggo­ta, tanpa diskriminasi asal-usul. Namun demikian, sudah barang tentu, sebagian besar anggotanya adalah orang-orang Arab. Pada sekitar 1910, di antara para tokoh masyarakat Indonesia yang menjadi ang­gota Jamiat Khair adalah K.H. Ahmad Dahlan dan R. Hassan Djajadiningrat. Ha­nya saja, kedua tokoh ini tidak pernah menjadi anggota aktif.

Jamiat Khair sebagai organisasi sosial, khususnya, bergerak dalam bidang pendi­dikan. Mekanisme operasional organisasi ini, ditandai oleh pembangunan sekolah dasar Jamiat Khair pada 1905. Sekolah ini selain hanya tidak bersifat keagamaan se­mata-mata, juga bersifat modern: di sam­ping pengetahuan umum yang mendapat­kan perhatian penting, sekolah ini pun menggunakan sistem klasikal dan kuriku­lum yang teratur. Bahasa pengantar yang digunakannya adalah bahasa Indonesia atau Melayu. Hal yang menarik, di sekolah ini tidak diajarkan bahasa Belanda, tetapi bahasa Inggris sebagai gantinya. Agaknya, gejala ini dapat ditafsirkan sebagai reaksi halus terhadap dominasi bahasa acing ko­lonial, bahasa Belanda.

Advertisement

Untnk menunjang kelancaran mekanis­me pendidikan, Jamiat Khair banyak mengundang guru dari daerah-daerah lain, selain dari luar negeri, untuk mengajar di sekolah tersebut. Misalnya pada 1907 Mu­hammad Mansur, seorang guru dari Pa­dang, Sumatra Barat, mengajar di sekolah ini. Ia terpilih selain karena pengetahuan­nya dalam bidang agama, juga kemampu­annya dalam bahasa Melayu. Empat tahun kemudian, 1911, guru-guru dan luar nege­ri berdatangan. Al-Hasyimi dari Tunisia, seorang yang pernah melakukan pembe­rontakan terhadap kekuasaan Perancis, misalnya, datang ke Jamiat Khair dan mengajarkan lebih banyak tentang gerak­an kepanduan. Ia tercatat sebagai orang yang pertamakali memperkenalkan dan mendirikan gerakan kepanduan di kalang­an orang-orang Islam di Indonesia.

Pada Oktober 1911 datang lagi tiga orang guru dan bergabung ke Jamiat Khair; mereka adalah Syekh Ahmad Surkati da­ri Sudan, Syekh Muhammad Taib dari Ma­roko, dan Syekh Muhammad Abdul-Ha­mid dari Mekah. Dari ketiga guru penda­tang ini, Ahmad Surkati adalah yang ter­penting dan paling berperan dalam menye­barkan pemikiran-pemikiran baru di ling­ kungan masyarakat Islam Indonesia. Dua orang lainnya, di samping tidak terkenal pemikirannya, juga mereka tidak lama mengajar di Jamiat Khair. Sekitar tiga ta­hun kemudian, 1913, Muhammad Taib, kembali ke negerinya, Maroko; sedangkan Abdul-Hamid, kemudian pindah ke Bogor, Jawa Barat, dan mengajar di sekolah de­ngan nama yang sama, Jamiat Khair, na­mun tidak ada kaftan organisatoris dengan Jamiat Khair Jakarta.

Adapun kedatangan guru-guru dari luar negeri gelombang ketiga bersamaan de­ngan tahun kepulangan Muhammad Taib, 1913; mereka semuanya adalah sahabat Ahmad Surkati kecuali seorang, Muham mad Abu al-Fadl al-Ansari, adiknya. Tiga orang lainnya adalah Muhammad Noor (Abu al-Anwar) al-Ansari, Hasan Hamid al-Ansari, dan Ahmad al-Awif; yang di­sebut belakangan, kemudian, dikirim ke Jamiat Khair yang didirikan di Surabaya, Jawa Timur. Mereka semuanya bisa dika­takan — bahkan mereka sendiri meng­akui — sebagai murid-murid Muhammad Abduh, atau setidaknya berorientasi kepa­da pemikiran-pemikiran Abduh karena, sesungguhnya, hanya Syekh Muhammad Noor yang secara resmi pernah belaiar di al-Azhar selama tujuh tahun, 1899-1906, dan berguru langsung kepada Muhammad Abduh.

Kecuali sebagai salah-satu pengembang sistem pendidikan modern dan yang mem­perkenalkan pembaharuan pemikiran, Jamiat Khair, sesungguhnya, tergolong se­bagai organisasi yang kecil dan lambat ber­kembang. Ketika didirikan, organisasi ini beranggotakan antara 60-70 orang; sam­pai sepuluh tahun kemudian, 1915, selu­ruh anggotanya tercatat sekitar 900-1000 orang. Di samping itu, bahkan, pada usia­nya yang kesepuluh, Jamiat Khair telah memperlihatkan tanda-tanda kemundur­annya; selain pertambahan anggota yang seret dalam tubuh organisasi ini pun telah terjadi keretakan yang, selanjutnya, meng­akibatkan perpecahan.

Latar-belakang perpecahan tersebut, terutama, disebabkan oleh kemunculan dua kubu, antara golongan sayid dan non­sayid. Golongan sayid merasa status sosial mereka lebih tinggi, karenanya kalangan non-sayid, termasuk pribumi, harus mem­berikan penghormatan lebih terhadap me­reka; sedangkan golongan non-sayid ber­pandangan lebih egalitarian, semua manu­sia memiliki derajat sosial yang sama. Akhirnya, golongan non-sayid berhasil mendirikan organisasi tandingan dengan nama “Jam`iyat al-Islam wa al-Irsyad al-`Arabi”, disingkat “al-Irsyad”.

Pada 1920, giliran golongan sayid men­dirikan organisasi baru dengan nama “ar­Rabithah al-Alawiyah”; kemudian, selu­ruh sekolah Jamiat Khair berada di bawah naungannya. Di samping itu, lembaga ke­sayidan pun dibentuk dengan nama “al­Maktab ad-Daimi”. Lembaga ini dibentuk untuk melakukan registrasi seluruh go­longan sayid yang ada di Indonesia.

Mulanya Ahmad Surkati, seorang figur terpenting di Jamiat Khair, tidak setuju dengan perpecahan ini. Kalaupun ia per­nah mengemukakan pendapatnya tentang persamaan derajat antara sesama muslim, samasekali bukan dilatarbelakangi oleh ke­bencian terhadap sayid. Atas dasar ini, ia pun tetap mengajar di Jamiat Khair sam­pai golongan sayid tidak menyukai keha­dirannya.

Advertisement