Advertisement

Jahiliyah, sebuah istilah periodesasi da­lam sejarah Islam yang identik dengan. “pra-Islam”. MesIdpun istilah jahiliyah dapat mencakup seluruh masa pra Islam, istilah tersebut lazim dipakai guna meng­kontraskan perubahan yang dikumandang­kan dan direalisir Islam atas corak kehi­dupan dan pemikiran sebelumnya di anta­ra suku-suku di Jazirah Arabia. Jahiliyah berasal dan kata jahil yang berarti bodcih dan terbelakang; jadi, Jahiliyah mengacu kepada periode dan tingkatan intelektual maupun spiritual yang dekaden. Dalam konteks Islami, periode Jahiliyah dipan­dang merupakan puncak kemunduran ke­hidupan keagamaan sebagaimana tereks­presikan dalam masyarakat Arab di Seme­nanjung. Tetapi hal ini tidak berarti bah­wa periode pra Islam sepi dari kemajuan dan capaian yang tetap bertahan, atau ma­lahan dipopulerkan, setelah masa Islam. Perkembangan ajaran Islam yang bermula di antara masyarakat Semenanjung Arabia tentunya tidak terlepas dari tatanan ling­kungan dan background kemasyarakatan yang mendukungnya sejak lahir.

Sikap Islam terhadap periode sebelum­nya bukan penolakan secara keseluruhan. Zaman Jahiliyah dikritik karena penyele­wengan doktrin tauhid yang merupakan asas kehidupan umat manusia. Di samping itu, ketiadaan sistem dan pola yang mam­pu menyatukan suku-suku Arab jelas me­rupakan alasan guna membedakan masa Islam yang memiliki panutan konkrit dan masa sebelumnya, yang Jahiliyah dan anarkis. Memang upaya sebagian penulis untuk menggambarkan ked’atangan Islam sebagai “cahaya” atas “kegelapan” Jahili­yah (bandingkan umpamanya Quran 61: 7-9) sering menimbulkan gambaran yang teramat sinis dan jelek atas masa pra Is­lam. Bagaimanapun tidak dapat dipungkiri bahwa sewaktu Nabi mengajarkan misi yang dibawanya ia hams menggunakan is­tilah, kata, dan jalan pikiran yang, secara umum, dapat dipahami. Jadi penggunaan ungkapan semacam Allah, surga (jannah), neraka (neir), haji (11ajj), dan ukhuwwah bukanlah asing di kalangan masyarakat ka­la itu. Karena Nabi membawa misi khusus, dengan sendirinya timbul modifikasi pe­ngertian sehingga sesuai dengan keseluruh­an konsep Islam yang dibawanya. Namun kenyataan ini menunjukkan bahwa pema­kaian istilah Jahiliyah harus tidak dipa­hami secara harfiah dan umum.

Advertisement

Kehidupan suku-suku Arab pra Islam (Jahiliyah) sebagaimana dicerminkan ma­syarakat Mekah sulit untuk dikatakan ter­belakang dan terisolir. Kemampuan kaum Quraisy menjadikan Mekah sebuah pusat hampir segala aktivitas suku-suku Arab menunjukkan adanya fermentasi politik, keagamaan, dan social. Sampai batas ter­tentu kaum Quraisy berhasil memberikan alternatif kepemimpinan semu atas ta­tanan suku yang anarkis dan cerai-berai. Hal ini terbukti dari dukungan suku-suku Arab atas praktek keagamaan, usaha pere­konomian, dan corak budaya serta bahasa yang dikembangkan kaum Quraisy. Hege­moni Mekah ini akhirnya menghasilkan akumulasi dana yang lebih memungkinkan munculnya para penyair, pemikir, dan saudagar supralokal; umpamanya, “pe­nyair tujuh” dengan karya monumental mereka as-Sab `ah, para ro­haniawan (13unafin, dan para pedagang yang pergi jauh ke utara, timur dan sela­tan. Aktivitas kelompok ini menopang berkembangnya budaya tulis-baca di Me­kah, meskipun masih sangat terbatas.

Sebagai istilah yang lazim dipakai, Jahi­liyah memang agak menelantarkan. Na­mun sampai batas tertentu, khususnya da­ri sudut pandangan moral dan agama, ke­datangan Islam memang membedakan dan menolak kehidupan pra-Islam yang tidak memiliki solidaritas dan aturan universal sehingga menghasilkan kehidupan yang, secara umum, rancu, labil, dan anarkis.

Advertisement