Advertisement

Jahil berarti tidak tahu. Dari kata jahil ini kemudian timbul istilah Jahiliyah, yak­ni suatu masa pra Islam bagi masyarakat Arab. Kata jahil dengan demikian merupa­kan lawan dari kata akal dan ilmu, dua ka­ta yang telah mengantarkan manusia kepa­da kerhajuan kebudayaan dan peradaban bila kedua-duanya dipergunakan. Oleh se­bab itu kejahilan adalah musuh dari akal dan ilmu yang harus diberantas. Karena kejahilan akan menggiring manusia kepada kelemahan dan kebekuan berpikir.

Kejahilan itu ada dua macam, yakni ja­hil basit dan jahil murakkab. Jahil basit atau kejahilan yang sederhana adalah keja­hilan yang disebabkan oleh keadaan sese­orang yang benar-benar tidak tahu tentang sesuatu dan kebenaran. Ia memang tidak mernpanyai pengetahuan, pengalaman dan ilmu tentang sesuatu tersebut. Namun orang yang seperti ini, menginsafi betul­betul bahwa sebenarnya ia tidak tahu. Oleh sebab itu bila ia terlanjur mengerja­kan sesuatu kesalahan, disebabkan oleh ketidaktahuannya, maka ia cepat-cepat berbalik ke jalan yang benar dan mau me­nerima petunjuk orang lain untuk membe­tulkan kesalahannya itu.

Advertisement

Sementara itu jahil murakkab atau jahil kesombongan adalah kejahilan bukan ka­rena tidak tahu atau tidak pernah menga­lami, tetapi kejahilan dalam arti tidak mau tahu sama sekali. Atau juga disebut jahil murakkab bila seseorang sebenarnya tidak tahu tetapi merasa diri tahu, sehingga ia menjadi orang yang sok tahu. Biasanya si­kap seperti ini timbul akibat kesombong­an dan takabur semata. Oleh sebab itu, se­seorang yang tingkat kejahilannya sudah sampai ke tingkat jahil murakkab, tidak mau lagi menerima nasihat dan siapa pun, tidak menerima kebenaran dan orang lain, sehingga timbul sikap angkuh dan keras kepala. Jenis jahil murakkab inilah sebenar­nya yang diidap oleh masyarakat Arab pra Islam yang disebut dengan masa Jahiliyah itu. Maka Jahiliyah di sini mengacu kepa­da sifat-sifat negatif, seperti, pemarah dan kepala batu.

 

Advertisement