Advertisement

Jabariyah (Jabariyyat) adalah paham atau kecenderungan yang menyatakan adanya jabar (jabr) Tuhan, yakni paksaan atau pengendalian-Nya, atas segenap alam ciptaan-Nya, termasuk atas segala gerak­gerik perbuatan manusia. Jabar Tuhan itu sedemikian rupa, sehingga tidak terbatas dalam pengertian pengendalian atas sege­nap alam menurut hukum-hukum tertentu yang tertib dan berlaku sepanjang zaman, tetapi lebih dari itu, sehingga pengendali­an Tuhan itu menafikan adanya kehendak atau kemauan pada din manusia. Dalam paham jabariyah ini dinyatakan bahwa manusia ini kelihatannya raja memiliki ke­mauan dan tenaga sendiri, sehingga dapat menggunakan tenaganya itu menurut ke­mauannya untuk berbuat baik atau buruk, tetapi sebenarnya ia tidak memilikinya sa­ma sekali. Tenaga pada manusia itu tidak lain dan manifestasi tenaga Tuhan, dan ia sama sekali majbar (dipaksa atau diken­dalikan), atau berada dalam jabar (paksa­an atau pengendalian) Tuhan. Keberadaan manusia dalam hubungannya dengan Tu­han, seperti keberadaan debu yang diter­bangkan ke sana ke man oleh angin, atau seperti wayang yang berbuat ini dan itu karena digerakkan oleh dalang, atau se­perti robot yang bergerak mengikuti ran­cangan perancangnya. Menurut jabariyah, garis hidup setiap manusia ini secara ter­perinci telah digariskan atau ditentukan (ditakdirkan) Tuhan sejak masa silam yang tak bermula (kadim). Manusia ting-

gal pasif dalam pengendalian Tuhan, dan dalam keadaan seperti itu ia menempuh garis atau suratan hidup, seperti yang su­dah ditentukan itu. Dalam paham jabari­yah ini, diyakini bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang secara hakiki memiliki kehendak, kekuasaan, dan perbuatan, se­dang selainNya sama sekali tidak memi­likinya.

Advertisement

Lawan dari paham jabariyah disebut paham qadariyah (qadariyyat). Dalam pa-ham kedua ini juga diyakini sungguh-sung­guh kekuasaan dan pengendalian Tuhan atas segenap ciptaan-Nya, termasuk atas manusia, tetapi pengendalian-Nya itu hanya dalam arti menciptakan, memeliha­ra, menggerakkan, . atau mengembangkan segenap ciptaan-Nya, menurut hukum-hu­kum yang tertib dan tetap (sudah lazim disebut menurut hukum-hukum alam). Jabariyah dan qadariyah sama-sama meng­akui adanya kehendak, kekuasaan, per­buatan, atau pun jabar Tuhan, tapi dalam paham pertama diingkari adanya pada ma­nusia kehendak dan kemampuan untuk mewujudkan perbuatan menurut kehen­dak tersebut, sedang pada paham kedua diyakini adanya pemilikan manusia atas kemauan bebas (free will) dan tenaga (se­bagai anugerah dari Tuhan) untuk mewu­judkan perbuatan menurut pilihan kemau­an yang bebas itu, sejauh yang dimungkin­kan oleh hukum hukum alam ciptaan Tu­han. Demikianlah perbedaan esensil antara jabariyah dengan lawannya, qadariyah.

Sebagaimana qadariyah, paham jabari­yah itu (esensinya) sudah berusia lama, su­dah ada jauh sebelum datangnya Islam. Paham seperti itu sudah terdapat di ka­. Langan kaum Yahudi, Kristen, bahkan juga di kalangan kaum filosof kuno. Sejak ma­sa Nabi Muhammad, bibit paham jabari­yah dan lawannya sudah terdapat di ka­langan umat Islam. Diketahui bahwa Nabi pernah memarahi dua orang yang sedang bertengkar tentang ayat-ayat takdir, dan diduga bahwa yang bertengkar itu memi­liki kecenderungan yang berbeda, satu ja­bariyah dan yang lain qadariyah. Diketa­hui juga bahwa Umar bin Khattab pernah menghukum pencuri dengan hukum yang lebih berat, karena pencuri itu mengatakan bahwa ia mencuri lantaran begitulah suratan takdir Tuhan (esensi paham jabari­yah terdapat dalam pembicaraan pencuri). Pada waktu yang lain, Umar bin Khattab membatalkan perjalanannya menuju Syam, dan balik kembali ke Madinah, karena ber­jangkitnya penyakit cacar di Syam. Bagi sebagian umat Islam pada waktu itu, Umar bin Khattab dipahami sebagai lari dan takdir Tuhan. Bagi mereka, Umar bin Khattab tetap saja terus ke Syam, dan bila tidak ada suratan takdir bahwa ia terkena penyakit, tentu ia tidak akan terkena pe­nyakit cacar itu (ini paham jabariyah). Sebaliknya Umar menyatakan bahwa ia la­ri dari takdir Tuhan (yang buruk) kepada takdir-Nya (yang baik). Dalam pandangan Umar, harus ada upaya atau ikhtiar untuk memilih sikap atau tindakan yang meng­untungkan (baik); pada Umar ada esensi paham qadariyah.

Ketika Mu`awiyah bin Abi Sufyan ber­hasil dengan segala cara mewujudkan am­bisinya ‘(menjadi khalifah sejak 660/40 H), ia dan pendukungnya sengaja mencipta­kan kondisi sedemikian rupa, sehingga sebagian masyarakat menjadi pasrah dan beranggapan bahwa apa yang telah terjadi, termasuk berkuasanya Bani Umayyah dan diburu-burunya turunan Ali atau turunan Nabi Muhammad, tidak lain dan perwu­judan sesuatu menurut suratan yang sudah ditakdirkan Tuhan.

Pada 690-an (70-an H), muncullah per­tama kali di kalangan umat Islam seorang mutakallim (teolog), Mas`bad al-Juhani, yang merumuskan dan menyiarkan paham qadariyah, dalam rangka melawan paham jabariyah yang secara diam-diam semakin menguasai umat yang banyak. Tapi segera pula muncul Ja`d bin Dirham dan Jaham bin Safwan, sebagai dua tokoh pertama yang terang-terangan menyiarkan paham jabariyah, pada perempatan pertama abad ke-2 H. Sejak adanya penyiaran secara te­rang-terangan itu, baik paham jabariyah maupun lawannya tetap memperoleh penganut sepanjang zaman. Yang dianggap berpaham atau dekat dengan paham ja­bariyah adalah yang sebagian kaum Ah­lus Sunnah wal-Jamaah, yakni mereka yang berkeyakinan bahwa kemauan dan daya yang dimiliki manusia tidak efektif dalam mewujudkan suatu perbuatan.

Advertisement