Advertisement

Ittisal (ittisal) berarti hubungan atau ko­munikasi. Istilah ini digunakan oleh para filosof muslim untuk menunjukkan pan­dangan mereka tentang bisanya terjadi ittisal (hubungan atau komunikasi) antara jiwa manusia dengan Tuhan, kendati me­lalui malaikat Jibril, yang lazim mereka sebut Akal Aktif.

Ittisal dalam paham mereka adalah ko­munikasi jiwa manusia dengan Akal Aktif sedemikian rupa, sehingga jiwa manusia melalui daya akalnya memperoleh lim­pahan ilmu dari Akal Aktif, berkenaan de­ngan Tuhan dan wujud-wujud rohani lain-n ya.

Advertisement

Kendati Akal Aktif selalu siap berittisal dengan manusia, tidaklah setiap manusia dapat mengalami ittisal itu. Manusia yang bukan nabi/rasul, haruslah terlebih dahulu mengembangkan potensi akal (daya pikir) mereka semaksimal mungkin, baik potensi berpikir praktis, sehingga ia dapat menge­tahui baik dan buruk, maupun potensi berpikir teoritis, sehingga ia dapat menge­tahui benar dan salah. Dengan kata lain manusia haruslah lebih dahulu menguasai semaksimal mungkin konsep-konsep ten-tang baik dan buruk serta tentang benar dan salah, yang dapat disimpulkan dari realitas-realitas empiris. Bila penguasaan konsep-konsep itu sudah demikian sem­puma, maka ia boleh berharap dapat ber­komunikasi (ittisal) dengan Akal Aktif.

Ittisal akal manusia dengan Akal Aktif diibaratkan dengan hubungan mata de­ngan sinar matahari. Dengan adanya sinar matahari, mata kepala dapat melihat ke­nyataan-kenyataan empris; demikian pula dengan adanya ittisal dengan Akal Aktif, maka akal manusia mampu menangkap keberadaan Tuhan dan wujud-wujud gaib ,lainnya. Dengan sinar dari Akal Aktif, akal manusia memperoleh ide-ide, makna­makna, atau bentuk-bentuk, yang tidak pemah berada dalam alam materi.

Manusia yang berittisal dengan Akal Aktif, berarti berkomunikasi dengan sum­ber pengetahuan yang istimewa. Ia menda­pat limpahan ilmu yang istimewa itu, dan dengan demikian is disebut memiliki akal mustafd (perolehan) atau ilmu mustafad dari Akal Aktif. Orang yang memiliki akal mustafad ini disebut filosof.

Tidak seperti filosof, para nabi/rasul, menurut para filosof muslim, memiliki jiwa yang istimewa. Tanpa harus melatih dengan keras daya akal mereka, seperti yang dilakukan para filosof, para nabi atau rasul dapat berittisal dengan Jibril, sehingga mereka menerima wahyu, yang berisi berbagai pengetahuan yang perlu di­sampaikan kepada masyarakat, demi ke­maslahatan mereka. Jadi dengan ittisal itu, nabi atau rasul memiliki akal mustafad atau ilmu mustafad, tanpa harus lebih du­lu bekerja keras seperti yang dilakukan pa­ra filosof. Para nabi atau rasul, karena ke­istimewaan jiwa yang mereka miliki, di­pandang oleh para filosof muslim sebagai manusia-manusia yang lebih unggul atau lebih utama dari para filosof.

Istilah ittisal juga kadang-kadang dipa­kai oleh kalangan sufi; dan istilah itu me­ngacu kepada hubungan nabi atau rasul atau para sufi sendiri dengan Tuhan tanpa hijab (dinding), yang membatasi hati nu-rani mereka dengan Tuhan. Jadi, kalau da­lam falsafat Islam, ittisal itu mengacu ke­pada hubungan jiwa manusia melalui daya akalnya dengan Akal Aktif, maka dalam tasawuf, ittisal itu mengacu kepada hu­bungan jiwa manusia melalui hati nurani­nya langsung dengan Tuhan.

nama malaikat yang, mengurus pen-. cahutan nyawa manusia. (lihat: Malaikat).

 

Advertisement
Filed under : Review,