Advertisement

Ittihad berarti bersatu, menyatu, atau ke­satuan (mengacu kepada suatu peristiwa atau hasilnya). Pengertian dari berbagai bentuk ittihad seperti bersatunya zat ga­ram dengan air di laut, bersenyawanya oxigen dan hidrogen dalam air, bersatunya berbagai golongan atau kelompok masya­rakat dalam satu kesatuan organisasi, un­tuk mewujudkan cita-cita bersama, dan lain sebagainya, tidaklah sukar dipahami, tetapi pengertian ittihad antara manusia sufi dengan Tuhan sering dirasakan kabur; yang akhir ini menjadi bahan perbincang­an yang hangat di kalangan para ulama.

Ide ittihad dalam tasawuf mulai mun­cul setelah Abu Yazid al-Bistami (w. 875/ 261 H), dan kemudian al-Hallaj (w. 914/ 301 H) mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang menggambarkan terjadinya peristiwa ittihad (bersatu) antara dirinya masing­masing dengan Tuhan. Ungkapan Abu Ya­zid al-Bistami yang dipandang menggam­barkan ide ittihad itu antara lain sebagai berikut: “Aku adalah Engkau, Engkau . adalah aku, aku adalah Engkau; konversa­ si pun terputus, kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu.” Sedangkan ung­kapan al-Hallaj berbunyi begini: “Roh-mu disatukan dengan rohku, sebagaimana ang­gur disatukan dengan air suci; maka jika ada sesuatu yang menyentuh Engkau, ia menyentuh aku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.”

Advertisement

Ungkapan-ungkapan seperti di atas tera­sa sangat aneh oleh kebanyakan ulama, ter­utama ulama syariat. Dengan munculnya ungkapan-ungkapan tersebut, hubungan antara para sufi dengan ulama syariat menjadi tegang. Tasawuf dinilai oleh para ulama syariat telah dimasuki oleh ide-ide yang menyimpang dari Islam. Namun ber­kat upaya keras dan ulama tasawuf juga, seperti Abu Talib al-Makki, al-Qusyairi, dan al-Gazali, untuk menunjukkan bahwa tasawuf itu tetap berada di atas jalan sya­riat, maka ia — minimal sampai ke tasawuf makrifat — dapat dipandang oleh umum nya umat atau ulama Islam sebagai bentuk penjabaran atau pengamalan ajaran al-Qur­an dan Hadis Nabi.

Ide ittihad, mungkin karena kerasnya reaksi ulama syariat terhadap ungkapan­ungkapan seperti di atas, jarang dijelaskan oleh para sufi yang menjadi penulis (pada masa klasik Islam) dalam •uku-buku me­reka, namun kebanyakan sufi secara diam diam agaknya tetap memiliki keinginan untuk mencapai pengalaman itu. Penjelas­an, barn banyak dijumpai pada zaman mo­dern ini, dan yang menjelaskannya adalah para sarjana dalam bidang tasawuf.

Disebutkan bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur tentang ittihad, antara lain sebagai berikut: “Makna hakiki bersatu dengan Allah adalah berlepas din dan makhluk dan din sendiri, serta me­nyesuaikan kehendak din dengan kehen­dak Allah, sehingga yang ada hanya ke­hendak-Nya. Inilah keadaan fana (lenyap dan selain Allah), dan dengan keadaan itu­lah sufi bersatu dengan-Nya. Bersatu de­ngan Allah tentu tidak sama dengan ber­satu dengan makhluk-Nya, karena Ia telah menyatakan ‘Tiada suatu pun yang serupa dengan-Nya’.”

Kelihatannya ittihad antara sufi dengan Tuhan, tidak lebih dari merasa bersatu dengan Tuhan. Tasawuf bukanlah olah-raga, bukan olah-akal, tapi olah-rasa. Setelah mengembangkan perasaan rida (senang) kepada Tuhan sedemikian rupa, orang ta­sawuf mengembangkan perasaan cinta se­demikian hebat kepada-Nya. Dalam ke­gairahan rasa cinta itu, sudah dapat di­inaklumi, bahwa bisa muncul ungkapan kepada Tuhan, seperti “Aku adalah Eng­kau dan Engkau adalah aku”. Apalagi bila di saat asyik maksyuk dengan Tuhan seba­gai Kekasihnya, terbuka hijab dan kein­dahan Kekasihnya menjadi tampak oleh mata batin orang tasawuf itu, maka dapat dipahami bahwa kesadarannya akan le­nyap (fana) dari segenap makhluk, atau dengan kata lain segenap makhluk sudah tidak ada dalam kesadarannya. Pada saat itu ia hanya merasa bersama Tuhan (baka) dan sekaligus merasa bersatu dengan-Nya (ittihad).

Dalam ittihad, yang dilihat oleh orang tasawuf hanya satu wujud, yaitu Tuhan, sungguh pun wujud alam ciptaan-Nya juga ada. Kehadiran Tuhan dalam kesadaran atau perasaan orang tasawuf sedemikian rupa, sehingga tidak ada tempat lagi bagi kehadiran sesuatu yang lain dari-Nya, iba­rat kaleng yang sudah penuh dengan mi­nyak tanah, tak memberi peluang bagi air untuk ikut berada dalam kaleng tersebut. Lenyapnya makhluk dari kesadaran orang­tasawuf pada waktu ittihad, seperti le­nyapnya cahaya bintang-bintang dalam ca­haya matahari yang terang benderang.

Ittihad itu tidak terus menerus berlang­sung dalam .perasaan orang yang mengala­minya. Setelah berlangsung sesaat atau be­berapa saat, orang itu kembali kepada ke­sadaran biasa. Hukum alam juga berlaku bagi perasaan. Bila sudah sampai ke pun­cak yang tertinggi, maka perasaan pun akan mengendor atau menurun ke taraf yang biasa kembali, dan pada taraf ini orang yang telah mengalami ittihad itu tentu selain merasakan kehadiran Tuhan, juga merasakan kehadiran alam yang me­mang berada di sekitar dirinya.

Bila ittihad dipahami lebih kurang se­perti ini, maka ittihad itu tidak dapat di­vonis sebagai ajaran tasawuf yang menyim­pang dari kebenaran Islam, atau ajaran se- sat yang menodai tasawuf. Ia haruslah di­pandang sebagai kelanjutan yang wajar da­ri perasaan cinta yang hebat kepada Allah. Baik al-Quran maupun Hadis Nabi meng­ajarkan agar orang rnencintai Tuhan lebih dari segala-galanya. Cinta itulah yang telah dikembangkan sedemikian hebat oleh orang tasawuf, sehingga sampai kepada puncaknya: rasa bersatu dengan Tuhan.

Advertisement