Advertisement

Istishab menurut bahasa ialah selalu berdampingan atau selalu bersama. Ada-menurut istilah usul-fikih ialah menganggap sesuatu hukum tetap seperti semula, selama tidak ada suatu bukti yang merubahnya. Artinya sesuatu hukum yang diyakini. tetap pada suatu masa, bisa dianggap tetap pada masa berikutnya sampai ada bukti yang merubahnya. Seseorang yang meyakini dirinya dalam keadaan berwudu pada suatu waktu, pada waktu berikutnya wudu itu tetap ding-
gap ada selama belum ada bukti meyakinkan yang membatalkannya. Adanya keraguan tanpa alasan untuk membatalkannya tidak berpengaruh terhadap wudunya. Perasaan ragu tidak bisa mengalahkan sesuato yang diyakini. Demikian dikatakan oleh kaidah hukum fikih.

Istishab adalah salah satu dalil hukum yang dipakai oleh ahli-ahli hukum Islam. Ia adalah jalan terakhir bagi seorang muj­tahid dalam usaha memecahkan sesuatu hukum. Ia bukanlah suatu metode istim­bat yang bisa menghasilkan hukum baru, akan tetapi hasilnya adalah merupakan ke­lanjutan dan hukum yang sudah ada. Da-lam masalah makanan, pada dasarnya se-gala jenis makanan yang bermanfaat dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia, hukumnya adalah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Demikian pula jenis makanan yang mendatangkan muda­rat bagi manusia pada dasarnya adalah ha-ram, sampai ada suatu dalil yang membo­lehkannya. Seseorang pada dasarnya bebas dan segala bentuk tuduhan, baik menyang­kut hutang piutang maupun tuntutan ke­jahatan, sampai ada bukti bahwa ia berhu­tang atau terlibat dalam tindakan kejahat­an. Prinsip bebas tersebut merupakan pelindang bagi seseorang agar orang lain tidak mudah melontarkan tuduhan kepa­danya. Oleh karena itu, barang siapa me­nuduh seseorang berbuat kejahatan atau berhutang, penuntut harus mengajukan bukti. Bukti di sini diperlukan untuk mengimbangi kedudukan si tertuduh yang kokoh karena adanya prinsip orang bebas dari segala tuduhan. Dengan lain kata pa­da dasarnya si tertuduh adalah orang yang bersih dari segala bentuk tuduhan. Oleh karena sesuatu yang diyakini tidak bisa di kalahkan dengan sesuatu yang diragukan, maka Islam menegaskan bahwa penuntut dtharuskan mengajukan, saksi atau barang bukti (al-hadis).

Advertisement

Pada dasarnya ulama-ulama fikih sepa­kat memakai metode istishab, tetapi da­lam rinciannya mereka berbeda pendapat. Umpamanya dalam masalah almafqiid (seorang yang hilang tidak diketahui di mana), para ulama berbeda pendapat me­ngenai hal yang menyangkut dengan harta benda dan haknya untuk mewarisi atau menerima wasiat. Ulama dan kalangan Syafilyah dan Hambali berpendapat, bah­wa seorang mafqud tetap dianggap masih hidup sampai ada bukti yang menunjuk­ kan bahwa ia telah mati. Oleh karena ia masih dianggap hidup, maka segala keka­yaannya tetap menjadi miliknya sebagai pemilik yang masih hidup. Demikian juga istrinya tetap istrinya. Dalam hal apabila ada di antara ahli warisnya yang mening­gal dunia, ia tetap berhak mewarisinya sebagai seorang ahli waris yang masih hi­dup, dan demikian juga halnya dengan haknya menerima wasiat, hibah dan se­bagainya yang berkenaan dengan hak se­seorang yang masih hidup. Hal demikian masih tetap dianggap berlaku sampai ada bukti yang menunjukkan bahwa ia telah wafat. Dalam pandangan ini dalil istishab dipakai secara mutlak, baik untuk mem pertahankarr miliknya yang sudah ada, maupun untuk mendapatkan hak milk yang baru. Berlain dengan pendapat ter­sebut, adalah pandangan ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Kedua kelompok ulama ini berpendapat bahwa dalam hal tersebut di atas, dalil istishab hanya dapat digunakan untuk mempertahankan harta si mafqud yang sudah ada, dan tidak dapat diguna­kan sebagai dalil untuk mempertahankan haknya dalam mewarisi atau menerima hi-bah dan wasiat.

Seorang mafqud masih dianggap hidup dalam arti bahwa segala hartanya tetap menjadi miliknya dan tak boleh diwarisi oleh ahli warisnya sampai terbukti bahwa ia telah wafat. Akan tetapi ia dianggap te­lah wafat dalam hal hak mewarisi atau me­nerima hibah dan wasiat. Artinya si maf­qud tidak lagi berhak untuk mewarisi se­orang ahli warisnya yang meninggal dunia sepeninggalannya, karena dalam hal ini ia dianggap telah wafat. Jadi dalam pandang­an terakhir ini, istishab hanya dapat dipa­kai untuk mempertahankan hak milik si mafqud yang semenjak semula sudah ada, dan tidak dapat digunakan untuk menda­patkan milik yang baru.

Perbedaan dua pandangan tersebut di­dasarkan atas perbedaan pandangan terha­dap posisi istishab dalam masalah terse-but. Ulama dari kalangan Syafilyah dan Hanabilah melihat kepada dalil atau asal dari landasan istishab asalnya adalah ke­yakinan bahwa si mafqud masih hidup. Keadaan hidupnya itu diyakini. Oleh karena itu tidak bisa dighgat kecuali ada bukti yang kuat bahwa ia telah wafaf. Se-lama belum dapat dibuktikan, maka ia tetap dianggap masih hidup dan konse­kuensinya adalah bahwa segala haknya masih tetap sebagaimana layaknya bagi seorang yang masih hidup, baik menge­nai hartanya yang sudah ada, maupun mengenai hak milik yang baru, seperti me­warisi, menerima wasiat dan hibah. Bags mereka tidak ada alasan untuk membeda­kan antara haknya untuk mempertahan­kan hak miliknya yang sudah ada, dengan haknya untuk mendapatkan sesuatu yang baru, selama ia masih dianggap hidup. Adapun kalangan Malikiyah dan Hanafi­yah, berpendapat bahwa istishab hanyalah pelindung bagi hak milk yang sudah ada, dan tidal’ kuat untuk menghasilkan milk yang baru. Ini sama halnya dengan sese­orang yang membantah sesuatu dakwaan atau tuntutan, yang hanya dapat memper­tahankan hartanya agar tidak pindah ke tangan lain, tetapi tidak dapat menghasil­kan hak milik yang baru dengan bantahan­nya itu.

 

Advertisement