Advertisement

Istiqamah adalah kata Arab yang me­ngandung arti tegak lurus. Kata tersebut dibentuk dan kata dasar q,Ima yang ber­arti berdiri. Maka istiqamah dal= hal ini berkonotasi keadaan seseorang yang te­gak lurus pada pendirian, tidak condong atau menyeleweng ke kiri atau ke kanan, tetap berjalan pada garis lurus yang telah diyakini.

Dalam bahasa Indonesia padanan kata istiqamah adalah kata taat-asas, yakni se­lalu taat dan setia kepada asas atau suatu keyakinan. Oleh sebab itulah orang yang istiqamah dikatakan juga orang bertaat­asas.

Advertisement

Seorang muslim yang sudah meyakini bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah Rasulullah harus­lah bersikap istiqamah atau bertaat-asas dalam pendirian tersebut. Orang yang menyatakan keyakinan tersebut, kemu­dian ragu-ragu sehingga ia mudah tersim­pang ke jalan yang lain, tidak tegak ber­diri pada jalan lurus sebagai dimaksud da­lam keyakinan tersebut, tidaklah diang­gap orang beristiqamah.

Dalam sejarah Islam secara populer si­kap istiqamah digambarkan oleh Bilal bin Rabah, yang dikenal dengan muazin Ra­sulullah. Bilal bin Rabah, seorang budak hitam yang memeluk agama Islam, meng­ucapkan dua kalimat syahadat, bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muham­mad Rasulullah. Ketika hal itu diketahui oleh tuannya, Bilal bin Rabah kemudian disiksa, dengan menjemurnya di tengah panas padang pasir sembari menghimpit­kan sebuah batu besar di dada Bilal bin Rabah. Ia kemudian dipaksa kembali un­tuk mengakui Lata, Uzza dan Manat SP­bagai Tuhan. Namun apa yang dilakukan oleh Bilal, ia tetap beristiqamah dalam keyakinannya yang baru, yakni dalam Is­lam. Dengan penuh ketegaran hati, Bilal menahan semua siksaan tersebut dengan sebuah ucapan: “Ahad. . . ahad. . . ahad.

Orang yang mempunyai istiqamah di­katakan juga orang yang mempunyai pen­dirian. Tegak berdiri dalam. membela pen­dirian yang sudah diyakini selalu mem­punyai resiko. Resiko itu bisa dalam ben­tuk celaan, kritikan dan tidak jarang pula dalam bentuk bahaya. Maka dalam hal ini orang yang istiqamah tidak pernah ragu, walaupun ia menghadapi kesulitan dalam perjuangannya. Orang yang berani tegak, istiqamah dalam barisan muka perjuangan menegakkan cita-cita dan kejayaan keya­kinan, tentulah berani menempuh kesu­litan dan bahaya. Inilah yang diisyaratkan oleh sebuah hadis Rasulullah dengan me­ngatakan: “Amantu bilkTh summa Asta­qim”, Artinya: “Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamah dengan pengakuan itu.”

Advertisement