Advertisement

Istinja, secara harfiah berarti membersih­kan atau melepaskan kotoran. Secara isti­lah, istinja- ialah menyucikan kedua jalan­kotoran, setelah buang air, baik air besar maupun air kecil, sehingga kotoran yang melekat padanya hilang. Dalam pandang­an Islam, istinja disyariatkan bukan hanya supaya bersih dan sehat, tetapi juga bertujuan mendapatkan kondisi jasmani yang suci. Seorang muslim yang hendak meng­hilangkan hadas kecil, sebelum berwudu haruslah beristinja, jika ia habis buang air.

Hukum melaksanakan istinja adalah wa­jib, sewajib melaksanakan salat fardu. Me­ngenai pokok-pokok kaifiatnya adalah:

Advertisement
  • Setelah berbuang air, kita bersihkan tempat keluarnya kotoran sampai kita yakin bahwa kotoran itu benar-benar hilang;
  • Cara yang terbaik ialah dengan meng­gunakan “batu” (istijmar), sesudah itu disucikan dengan air yang suci;
  • Hukum syara membolehkan pelaksana­an istinja hanya dengan air saja, atau hanya dengan tiga buah batu saja, asal­kan benar-benar najisnya hilang;
  • Apabila seseorang hendak memakai air

saja atau batu saja, maka yang utama dari keduanya adalah dengan memakai air, sebab airlah yang paling efektif menghilangkan najis dengan sempurna.

Cara beristinja tersebut didasarkan pada perbuatan dan sabda-sabda Rasulullah, yang terungkap dalam banyak hadis sahih. Dan dalam pelaksanaan istinja terdapat se­jumlah adab (tatakrama) yang baik diiku­ti, antara lain:

  • Tidak menghadap kiblat;
  • Dengan cara jongkok dan mengangkat kain;
  • Membersihkan najis atau kotoran itu menggunakan tangan kiri, sebab tangan kanan dipergunakan untuk makan dan pekerjaan-pekerjaan terhormat lainnya.

Advertisement