Advertisement

Istikharah secara harfiah berarti me­minta ditentukan mana yang terbaik di antara alternatif-alternatif yang akan di­kerjakan. Menurut istilah syara, istikharah adalah salat sunah dua rakaat, yang diker­jakan untuk memohon petunjuk kepada Allah, alarm yang seharusnya dipilih dan dikerjakan, dari beberapa pilihan yang se­dang dihadapi. Dalam segala segi kehidup­an, seorang muslim sangat membutuhkan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan. Ji­ka dirinya dihadapkan pada suatu persoal­an pelik dan rumit, seyogianya ia berlin­dung kepada Tuhan, dengan mengerjakan salat. Dengan salat akan tenang jiwanya. Ketika ia menghadapi persoalan penting, tetapi membingungkan dirinya, ia berge­gas melaksanakan salat istikharah, untuk meminta kepada Tuhan pilihan yang ter­baik serta jalan keluar yang setepat-tepat­nya. Jika setelah melaksanakan salat, Allah memberinya isyarat dan petunjuk untuk berbuat sesuatu, segera ia lakukan, tanpa terlalu memperhitungkan segala aki­bat yang mungkin terjadi. Sebaliknya, jika Allah memberinya isyarat atau petunjuk untuk meninggalkan sesuatu perbuatan —yang semula mungkin hendak dikerjakan­nya — maka ditinggalkannya perbuatan itu, tanpa mempedulikan akibat yang mungkin timbul.

Pelaksanaan salat istikharah sama seper­ti salat Subuh tanpa kunut. Pada rakaat pertama, surat yang dibaca sesudah al-Fa­tihah, adalah surat al-Kafirun, dan pada rakat kedua, sesudah al-Fatihah, dibaca surat al-Ikhlas. Jika salat istikharah telah dikerjakan, tetapi dirasa belum ada petun­juk Allah, maka dicoba lakukan sekali lagi istikharah itu, dan seterusnya sampai da­tang keyakinan bahwa Allah menunjuki permohonan. Jika misalnya yang pertama dikerjakan siang hari, yang kedua sebaik­nya dicoba lakukan pada malam hari.

Advertisement

Jabir bin Abdullah menerangkan, bah­wa Nabi mengerjakan salat istikharah me­ngenai segala perkara. Kata Rasulullah: “Apabila seorang di antara kamu merasa ragu untuk melaksanakan satu perbuatan, hendaklah ia salat sunah dua rakaat, bukan fardu, kemudian berdoa kepada Tuhan.” Doa salat istikharah yang masyhur, terje­mahnya adalah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang baik menurut ilmu-Mu, aku mohon penetapan-Mu de­ngan kekuasaan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang besar, karena sesungguh­nya Engkaulah Yang Maha Kuasa, aku ti­dak kuasa apa-apa. Engkau Maha Tahu, se­dangkan aku tidak tahu, dan Engkaulah Yang Maha Tahu terhadap segala yang gaib. Ya Allah, Engkau Yang mengetahui, jika sekiranya urusan ini — disebutkan apa yang sedang dihadapi — baik bagiku, buat agamaku, penghidupanku dan masa de­panku, baik dunia maupun akhirat, maka takdirkanlah dan mudahkanlah ia bagiku; kemudian berikanlah keberkahan padaku di dalamnya. Dan Engkau mengetahui, jika sekiranya urusan ini — disebutkan apa yang sedang dihadapi — tidak baik untuk­ku, buat agamaku, penghidupanku dan hari depanku, dunia dan akhiratku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku daripadanya serta takdirkanlah kebaikan bagiku di mana saja, kemudian puaskanlah hatiku menerima takdir-Mu itu.” (HR. Ja­maah, kecuali Imam Muslim, dari Jabir.)

Doa tersebut dibaca sesudah salat sam pai memperoleh petunjuk dari Allah. Sa­lat istikharah boleh diulang sampai tujuh kali, seperti yang dikatakan Rasulullah: “Apabila kamu ragu-ragu dalam satu per­kara, hendaklah salat istikharah sampai tu­juh kali, kemudian perhatikan apa yang telah dirasa mantap di hatimu, di situlah letaknya kebaikan bagimu.”

Advertisement