Advertisement

IStigfar berarti memohon magfirah, yakni perlindungan, pertolongan, atau keampun­an. Islam mengajarkan agar setiap muslim atau muslimah sering melakukan istigfar kepada Allah. Rasulullah sendiri telah memberikan teladan dengan melakukan is­tigfar itu lebih kurang seratus kali dalam setiap hari. Lafal istigfar itu boleh panjang clan juga boleh sederhana (singkat) saja; contoh yang paling sederhana antara lain adalah: “astagfirullah”, yang berarti saya memohon magfirah kepada Allah.

Kebanyakan dari orang awam mengenal istigfar hanya dengan pengertian yang sempit, yakni memohon keampunan kepa­da Allah atas dosa-dosa yang telah diper­buat. Bagi mereka, setiap orang yang me­lakukan istigfar berarti orang itu telah me­lakukan dosa dan karena itu memohon ke­ampunan kepada Allah, agar tidak dihu­kum karena dosa itu. Sebenarnya penger­tian istigfar tidak sesempit itu, tapi jauh lebih luas. Memang ada orang yang mela­kukan istigfar demi keampunan atas dosa­dosa yang telah ia perbuat, tapi tidaklah setiap istigfar mengandung arti bahwa si pemohon magfirah itu telah melakukan suatu dosa.

Advertisement

Yang diharapkan orang dengan istigfar itu berbeda-beda, karena taraf ketakwaan orang juga berbeda-beda. Bagi mereka yang masih sering melakukan dosa-dosa besar, maka istigfar mereka mengandung arti memohon keampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah mereka kerjakan dan sekaligus memohon pertolongan atau perlindungan-Nya agar mereka tidak lagi tedatuh untuk melakukan dosa-dosa terse-but. Bagi mereka yang saleh, yang telah berhasil menjauhkan din mereka dari me­lakukan dosa-dosa besar, tapi kadang-ka­dang masih melakukan dosa-dosa kecil (ringan), istigfar mereka mengandung anti yang lebih tinggi, yaitu memohon perlin­dungan Allah agar senantiasa berhasil mencegah din mereka dari melakukan do­sa-dosa besar, memohon agar mereka tidak terkena oleh bahaya kejahatan atau dosa-dosa yang diperbuat orang lain, me­mohon keampunan atas dosa-dosa kecil yang masih mereka lakukan, dan sekaligus memohon perlindungan atau pertolongan Allah, agar tidak lagi terjatuh untuk mela­kukan dosa-dosa kecil itu.

Istigfar para nabi atau para rasul Tuhan mengandung makna yang lebih tinggi lagi, karena mereka adalah manusia-manusia yang mesam (terpelihara atau terjaga), yang terhindar dari. melakukan dosa-dosa, baik besar maupun kecil. Mereka senantia­sa beristigfar, bukan karena memohon ke­ampunan dan dosa-dosa mereka; dosa-do­sa mereka tidak ada. Mereka beristigfar untuk memohon perlindungan atau perto­longan Tuhan agar mereka senantiasa ter­hindar dan melakukan dosa apa pun, dan terhindar dari bahaya dosa atau kejahatan yang timbul dan luar diri mereka. Mereka, kendati dari awal telah dianugerahi Tuhan jiwa yang kuat dan suci, tetap mengalami perkembangan. Kendati “kemarin” jiwa mereka telah suci, mereka tetap berharap bahwa pada “hari ini” jiwa mereka lebih suci, dan pada “hari esok” lebih suci lagi. Untuk maksud ini, juga para nabi atau ra­sul Tuhan melakukan istigfar, memohon perlindungan atau pertolongan-Nya, agar berhasil mendaki, meninggalkan posisi yang sudah terpuji, demi menduduki posi­si yang lebih terpuji, dan seterusnya sam pai di puncak, yakni posisi atau maqam paling terpuji.

Ada orang yang berpendapat bahwa adanya istigfar yang dilakukan para nabi atau rasul Tuhan merupakan bukti bahwa mereka bukanlah maksum dari dosa. Pen­dapat itu merupakan akibat dari salah fa-ham terhadap pengertian istigfar. Orang itu telah memahami istigfar dengan pe­ngertian yang sempit, yakni memohon pengampunan dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Bila istigfar dipahami dengan pengertian yang lebih luas, seperti yang te­lah di atas, niscaya penda­pat itu tidak muncul. Dengan pengertian yang luas, istigfar tidaklah menafikan (me­niadakan) kemaksuman para nabi atau ra­sul Tuhan.

Advertisement