Advertisement

Isnad akar katanya sanad, yang secara harfiah berarti rangkaian, persambungan, penopang, sandaran atau pegangan. Oleh sebab itu surat perjanjian hutang terka­dang dinamai sanad mengingat surat terse-but dapat dipercayai dan dijadikan pe­gangan (untuk bukti bila suatu saat diper­lukan). Demikian juga kaki bukit disebut sanad (jamaknya asnad dan sanadrzt) kare­na merupakan sandaran bagi puncaknya.

Adapun yang dimaksud dengan sanad atau isnad dalam ilmu mustalah hadis ialah jalan yang menyampaikan seseorang kepada matan (teks) hadis. Atau dapat ju­ga dikatakan sebagai jalan yang menghu­bungkan matan suatu hadis dari rawi (pe­rawi) yang satu dengan rawi yang lain sampai kepada Nabi Muhammad.

Advertisement

manya dari Abdul-Wahhab as-Saqafi; se­dangkan as-Saqaffi memperolehnya dari Ayyub dan Ayyub sendiri mendapatkan­nya dari Abi Qilabah, sementara Qilabah menerimanya dad Anas (sahabat) yang mendengar sabda Nabi atau melihat per­buatannya, atau mengetahui ucapan dan perbuatan salah seorang sahabat yang di­ketahui oleh Nabi. Persambungan antara periwayat yang satu dengan yang lain itu­lah (dalam hal ini al-Bukhari, al-Musanna dan seterusnya sampai .Anas dan Nabi) yang dimaksud dengan sanad atau isnad dalam istilah ilmu hadis.

Dalam lapangan ilmu hadis, sanad me­rupakan salah satu neraca yang .dipergu­nakan untuk menimbang dan menentukan sahih atau daifnya sebuah hadis. Jika me­nurut penyelidikan yang seksama suatu hadis dinyatakan tidak bersambung sanad­nya (munqati`) seperti antara perawi yang satu dengan perawi yang lain diperkirakan tidak pernah bertemu karena tidak hidup satu masa, maka hadisnya tidak dapat di­golongkan ke dalam deretan hadis-hadis sahih. Demikian pula jika di antara rawi dalam sanad suatu hadis terdapat periwa­yat tertentu yang dalam dirinya terdapat cacat mental seperti pendusta atau ada faktor lain yang membuat hadisnya ku­rang dapat dipertanggungjawabkan seperti pelupa dan lemah daya tangkapnya.

Mengingat ada perbedaan antara rawi yang satu dengan rawi yang lain atau anta­ra sanad yang satu dengan sanad yang lain, maka para ulama hadis membedakan sa­nad-sanad hadis itu ke dalam tiga tingkat­an: (1) asah alasCo-1rd (artinya sanadsanad yang lebih sahih) (2) algsan alasdnId, yak­ni sanad-sanad yang lebih baik atau hasan (3) acl’af yakni sanad-sanad yang lebih lemah.

Orang yang mengisnadkan hadis disebut musnid, yaitu orang atau ahli had is yang dalam meriwayatkan hadis juga sekaligus menjelaskan sanadnya; atau orang yang meriwayatkan hadis berikut sanadnya. Adapun hadis-hadis yang telah diisnadkan oleh seorang musnid lazim disebut dengan istilah musnad, yang kemudian lebih umum dipergunakan untuk sebutan bagi kitab-kitab hadis yang telah diisnadkan dan dihimpun oleh ahli-ahli hadis seperti kitab Musn-d Ahmad ibn Hanbal asy-Syai­biinT dan Musnad Ishiiq ibn Rclhawaih al­Hanzali.

Sistem penulisan hadis yang diperguna­kan dalam kitab-kitab musnad ialah de­ngan mengetengahkan nama-nama sahabat sebagai maudir (pokok bahasan), tidak mempergunakan masalah atau kasus seper­ti umumnya kitab atau buku yang lain (termasuk buku-buku hadis). Dalam kitab­kitab musnad, semua hadis yang diriwa­yatkan oleh seorang sahabat (Abu Bakar umpamanya) dihimpun dalam satu kelom­pok, tanpa mengklasifikasikan isinya dan tidak pula memisahkan antara hadis-hadis yang sahih dengan hadis-hadis yang daif dan bahkan terkadang bercampur dengan asar atau gaul (ucapan) sahabat.

Setelah selesai menuliskan seluruh hadis dari seorang sahabat tertentu, barulah ahli .hadis kemudian beralih kepada hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat lainnya dengan cara penulisan yang sama seperti dalam menuliskan hadis-hadis yang dirir wayatkan oleh sahabat sebelumnya. Ada-pun mengenai pertimbangan dasar peng­urutannya, ada yang mendasarkan kepada tingkatan masing-masing sahabat itu sen­diri seperti dimulai dengan Khulafaur­Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) dan kemudian barn diteruskan de­ngan sahabat-sahabat lainnya. Di samping itu ada pula yang mendasarkan tertib urut-urutannya kepada abjad huruf awal dari masing-masing nama sahabat itu sen­diri.

Tanpa ada maksud untuk mengurangi rasa penghargaan kita kepada kitab-kitab musnad yang sangat berharga dan bemilai guna, kitab-kitab musnad oleh para ahli hadis yang datang kemudian dinilai seba­gai mempunyai kelemahan di samping me­miliki kelebihan. Di antara kelebihannya ialah memberikan kemudahan bagi pem­baca yang ingin mengetahui jumlah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu atau oleh masing-masing I sahabat Rasulul­lah. Sedangkan kekurangan atau kelemah­an dari kitab musnad di antaranya ialah pembacanya mengalami kesulitan jika hendak mencari hadis-hadis tertentu yang berkenaan dengan masalah atau kasus yang sedang dicari, seperti hadis-hadis ten-tang wudu, salat dan lain-lain. Pencaharian yang demikian baru akan diketemukan da­lam kitab musnad manakala pencari telah membaca keseluruhan lembaran kitab musnad tersebut. Namun demikian kesu­litan di atas kini boleh dikatakan telah ter­atasi dengan disusunnya beberapa kitab yang amat membantu bagi pencarian sua­tu atau beberapa hadis, seperti kitab al-Mu `jam al-Mufahras li Alfaz al-Aheidu an­Nabawiyyat clan lain-lain.

Advertisement