Advertisement

Ismailiyah salah satu sekte Syi`ah, keturunan dan pengikut Is­mail ibnu Ja`far as-Sadiq. Sebagai talon imam VII Syi`ah dibatalkan, karena di samping berkebiasaan tak terpuji, Ismail wafat mendahului ayahnya (760/ 143 H) dan ayahnya (765/148 H). Gantinya Musa al-Kazim, adiknya. Putra-putra dan peng­ikutnya menolak pembatalan ini berdasar­kan sistem pengangkatan imam dalam Syi`ah, dan menganggapnya tetap imam VII dan sepeninggalnya digantikan oleh putranya yang tertua, Muhammad ibnu Is­mail. Karena keterlibatannya dalam poli­tik, keturunan Ismail meninggalkan Madi­nah untuk menyembunyikan diri; dan se­jak itu imam-imam Ismailiyah merupakan imam-imam tersembunyi, kecuali Bani Fa­timah. Perpecahan sering terjadi, sehingga terpecah-pecah ke dalam sub-sub sekte yang sulit diketahui dengan pasti.

Sepeninggal Imam Muhammad ibnu Is­mail, timbul sekelompok dari mereka yang percaya bahwa Ismail ibnu Ja`far adalah imam ketujuh dan terakhir yang akan kembali nanti pada hari kiamat, ya­itu sub sekte Sab`iyah (SalOyyat), penga­nut tujuh imam.

Advertisement

Dari persembunyiannya, keturunan Is­mail mengirimkan juru-juru dakwah ke se­mua dunia Islam untuk menyebarkan ajar-an mereka tentang esoterik (batin) sehingga sekte ini disebut juga Batiniyah atau Tak­limiyah (al-Mtiniyyat aw at-Tail miyyat). Di antara juru dakwah itu adalah. Maimun al-Qaddah yang putranya, AbdUllah (w. 825(210 H) mendirikan gerakan yang agaknya kemudian ditegakkan oleh Ham­dan Qarmat sehingga gerakan ini disebut Qaramitah (jamak dari Qarmati, pengikut Qarmat). Karena gerakan ini tidak meng­akui imam-imam Bani Fatimah, mereka yang semula bersatu, pecah. pada 893 (280 H). Qaramitah tetap bertahan sela­ma dua abad, dan sementara itu dakwah terus berjalan. Imam Ubaidullah al-Mandi, keturunan VIII dari Imam Ismail ibnu Jefar, berhasil mendirikan dinasti Fat­rniyah di Afrika Utara (909/296 H) yang oleh keturunannya dipindahkannya ke Mesir (973/362 H) dan merupakan pemd­rintahan dan dinasti yang paling besar dan masyhur yang pernah didirikan oleh Syi­`ah. Jami al-Azhar dengan pengajiannya yang perkembangannya menjadi Universi­tas al-Azhar sekarang ini adalah jasa dinas­ti ini.

Perpecahan pertama yang timbul adalah terbunuhnya khalifah al-Hakim (1021/ 411 H). Orang-orang Druz (al-Hakimiyah) tidak mengakui kematiannya, bahkan mempercayainya sebagai al-Mandi yang merupakan inkarnasi dan Tuhan. Perpe­cahan parah yang kedua terjadi setelah wafatnya khalifah al-Mustansir (1094/ 487 H). Putranya, Nizar, calon perrgganti khalifah, dipenjarakan bersama anaknya, al-Hadi, dan keduanya dibunuh atas suruh­an •audaranya sendiri, Anak Nizar yang masih bayi, al-Muhtadi, dapat diselamatkan dan dibawa ke Persia oleh Hasan ibnu Sabah, pendiri sub sekte Ha­sysyasyinah atau Hasysyasyin dan disern­bunyikan di benteng Alamut yang meru­pakan istana dan pusat gerakan sera surga bagi pengikut-pengikut Ibnu Sabah ini.

Sampai sekarang, Ismailiyah umumnya merupakan keturunan al-Mustali dan dise­but al-Musteliyah dan keturunan an-Nizar dan disebut. an-Nizariyah. Yang pertama berpusat di Yaman clan di Gujarat, India. Yang kedua paling kuat terdapat di Persia. Lainnya terdapat di Siria dan India. Yang di Persia berpusat di gunung Mazendran di benteng Alamut. Terkenal sekali nama Agha Khan sebagai imam di zaman mo dern. Yang di India umumnya menerima kepemimpinan an-Nizariyah yang di Per­sia: Yang di Siria terkenal keberaniannya melawan Bani Saljuk yang memerintah atas nama khalifah-khalifah Abbasiyah. Mereka hanya dapat ditundukkan oleh tentara Hulagu (1260/658 H), kemudian oleh Sultan Baybars (1273/671 H) dan sejak itu Nizariyah Siria tunduk kepada Mesir.

Mengenai ajaran Ismailiyah, garis besar­nya adalah: (1) Eksoterik, yaitu ajaran la­hir yang juga ajaran pokok Islam. Dalam hal ini, Ismailiyah hampir sama dengan Isna `Asyaiyah bahkan Ahli Sunnah, se­perti salat, puasa, dan ketetapan syariat lainnya; (2) Esoterik, yaitu ajaran yang bersifat batin, terdiri dan 2 bagian: a. takwil terhadap kandungan al-Quran dan Syariat, dan b. al-hakik (jamak ha­kikat), yaitu sistem falsafat Ismailiyah yang dikaitkan dengan agama, bahkan di­anggap sebagai wahyu batin agama itu yang tujuannya untuk membuktikan ke­ilahian -institusi Imamah. Unsur utama ajaran “al-hakik” ini adalah falsafat Neo­Platonisme yang diambil tidak secara lang­sung dari karya Plotinus, melainkan dari beberapa versi yang datang kemudian. Ajaran ini menekankan kesejajaran antara Makrokosmos dan Mikrokosmos. Tauhid dibawanya ke pinggir. Tak ada satu atri­but atau sifat pun yang merupakan penga­laman inderawi dikenakan pada Tuhan. Ia tidak mencipta alam semesta secara lang­sung, melainkan melalui aktivitas kehen­dak (amr, perintah) yang menimbulkan emanasi pertama yaitu Akal Universal (al­Aql al-Kulli) yang de facto merupakan “Inisiator” pertama (al-Mubdi`

Emanasi kedua menimbulkan Jiwa Univer­sal (an-iVafs al-Kulliyyat) yang merupakan pencipta kedua (al-Mubdi` as-Siini), pen­cipta Materi, Ruang, dan Waktu yang per­tama. Inilah kelima unsur Makrokosmos yang juga terdapat pada manusia yang me­rupakan Mikrokosmos. Sesuatu sebagai produk emanasi selalu ingin kernbali kepa­da sumbernya, tetapi perlu kesempurnaan dengan jalan berpengetahuan. Untuk itu perlu manusia sempurna yang merupakan prototipe Akal Universal, yaitu Nabi Mu­hammad dan prototipe Jiwa Universal, yaitu Wasi (Imam), dalam hal ini Ali bin Abi Talib. Nabi tidak ada gantinya, tetapi imam dapat menunjuk keturunannya se­bagai gantinya, sehingga penuntun kesem­purnaan selalu ada. Hanya dengan bim­bingan imam, orang dapat kembali kepada Sumber Asalnya.

Syi`ah yang melahirkan tokoh-tokoh sufi pada masa ini.

Keempat: Masa Safawi sampai seka­rang, masa kejayaan ilmu-ilmu agama dan falsafat. Ulama-ulamanya: Mir Damad (w. 1631/1041 H) dan Mulla Shadra (w. 1640/ 1050 H) untuk metafisika, Baha’ ad-Din al-Amili untuk ilmu kalam dan matemati­ka, Muhammad Baqir dengan karyanya Bi­har al-Anwar membuat rangkuman ten-tang ajaran Syi`ah, Wahid Bihbihani (w. 1790/1205 H) dan Murtada al-Ansari (w 1864/1281 H) untuk Usal al-Fiqh. Timbul pula gerakan Syaikhi oleh Ahmad Ahsa`i dan Baha’i oleh Babi.

Tahun 1979, sekte ini mendirikan Repu­blik Islam Iran yang didasarkan atas wila­yat al-faqih (kekuasaan tertinggi di tangan ahli hukum Islam dan merupakan wakil Imam yang gaib), Imam Ayatollah Rohol­lah Khomeini, pemegang kekuasaan legis­latif, eksekutif dan yudikatif di bawah ke­kuasaan Imam.

Ajaran-ajarannya terdiri dari ajaran da­sar (usal ad-din) sekte ini adalah keesaan (tauhid), kenabian (nubuwwat), hari Ida-mat (mead), keadilan (‘adl), dan keimam­an (bnemat). Tiga yang pertama hampir ti­dak beda dengan ajaran Ahlus Sunnah. Ke­adilan, menurut sekte ini, lebih berupa faktor batin daripada faktor lahir. Yang lahirnya tidak adil, batinnya belum tentu begitu dan sebaliknya. Mengenai imam, sekte ini sangat berbeda dengan Ahlus Sun­nah. Wahyu, menurut mereka, mempu­nyai dua aspek, eksoterik (lahir), dan eso­terik (batin). Wahyu dengan dua aspeknya ini diterima oleh Nabi Muhammad yang di camping sebagai rasul, juga wali. Kenabi­annya berhubungan dengan fungsi eksote­rik yaitu menyampaikan syariat (ajaran Is­lam yang bersifat lahiriah), sedangkan ke­waliannya berhubungan dengan fungsi esoterik, yaitu menyampaikan hakikat agama yang bersifat batin. Lingkaran ke­nabian (dafirat an-nubuwwat) berakhir de­ngan wafatnya Nabi, sedang lingkaran ke­walian (dafirat al-wilayat) berlanjut te­rus dalam diri imam. Secara etimologi, imam (imam) berarti yang berdiri di de-pan, yaitu penuntun, pemimpin. Menurut Syi`ah imam adalah orang yang mempu­ nyai fungsi wilayat (diberi wewenang un­tuk berkuasa) yang mencakup tiga sub fungsi: memerintah umat Islam, menjelas­kan ajaran dan hukum agama, dan penun­tun rohani agar dapat membimbing mere­ka kepada pengertian batin yang terdapat dalam segala hal. Karena fungsinya, imam tidak dapat dipilih. Ia menerima wewe­nang dari Tuhan dan diangkat melalui ke­tetapan (nay) oleh imam sebelumnya atas nama Tuhan. Ia texjaga dan kesalahan dan dosa (ma’sam) agar dapat menjamin keles­tarian dan kemurnian ajaran. Ia berfungsi manusiawi dan Ilahi sekaligus. Penjabaran­nya adalah pada konsep imam tersembu­nyi, al-Mandi, yang hidup terus dalam ke­gaibannya dan merupakan penuntun ter­tinggi (qutb/kutub). Ia akan kembali (ar­raj’at) ke dunia nyata untuk memenang­kan dunia batin. Tanpa imam, orang akan kehilangan pengertian tentang makna ba­tin (hakiki) daripada wahyu.

Tentang praktek keagamaan sehari-hari, tidak banyak beda dengan Ahlus Sunnah. Kawin untuk kesenangan (mut’ah) dibo­lehkan. Dalam bidang ilmu kalam, mirip Mu`tazilah. Pintu ijtihad selalu terbuka dan dalam ketiadaan imam, seorang Syi`ah harus mengikuti mujtahid yang terdapat dalam setiap generasi.

Advertisement