Advertisement

Ismah  adalah satu sifat para nabi dan rasul Tuhan. Arti harfiahnya ialah tetaga atau terpelihara. Sebagai sifat nabi atau rasul berarti, bahwa mereka ter­pelihara dan kesalahan-kesalahan yang membuat mereka durhaka kepada Tuhan. Dalam pandangan Islam, semua nabi dan rasul adalah ma `sum. Artinya, mereka pas-ti terhindar dan perbuatan-perbuatan yang hina dan tercela, seperti berdusta, berzina dan menyembah berhala.

Adanya ismah bagi para nabi dan rasul, secara rasional dapat dilihat dari•dua hal. Pertama, bahwa nabi dan rasul merupa­kan tauladan umatnya, yang bertugas membimbing mereka dari tingkat kehi­dupan material-spiritual yang rendah ke tingkat yang tinggi dan mulia. Untuk ke­berhasilan missi ini, diri seorang nabi atau rasul tidak selayaknya berlumuran dosa kepada Tuhan, sebab perbuatan-perbuatan dosa akan menjadi penghambat missi ke­nabiannya. Kedua, bahwa adanya ismah bagi setiap nabi dan rasul tidak terlepas dari monitoring Tuhan, sehingga manakala seorang nabi/rasul melakukan hal-hal yang dipandang keliru, ia selalu mendapatkan teguran dari Tuhan melalui wahyu-Nya. Nabi Muhammad pernah dikecam oleh al­Quran, ketika ia sedang berbicara dengan al-Walid bin Mugirah, seorang warga Me­kah yang sangat berpengaruh, Ibnu Urn-mu Maktum, seorang muallaf buta datang mengajukan pertanyaan kepadanya. Nabi jengkel karena merasa terganggu d’an lalu ia tidak mempedulikan Ummu Maktum. Teguran al-Quran sangat jelas dalam surat 80, ayat 1-15. Dengan demikian Nabi Muhammad terhindar dari kekeliruan yang berkepanjangan. Dan ia adalah nabi yang senantiasa meminta ampun kepada Tuhan, bahkan selalu menganjurkan kepa­da umatnya untuk meminta ampun kepa­Nya. Rasulullah bersabda: “Sesungguh­nya tobat itu selalu mengetuk hatiku, oleh sebab itu, aku memohon ampun dalam se­hari seratus kali.” Atau sabdanya pula: “Bertobatlah kamu kepada Tuhan, karena aku seharinya bertobat seratus kali.” Para ulama tidak sepakat kapan datangnya ismah bagi para nabi dan rasul, sebelum atau sesudah menjadi nabi. Sebagian mere­ka berpendapat, bahwa ismah itu ada sete­lah seorang nabi mengem ban kenabian. Misalnya dalam kasus Nabi Adam, menge­nai pelanggarannya terhadap larangan Allah dapat dikemukakan tiga hal:

Advertisement
  1. Bahwa pelanggaran yang timbul dari­padanya terjadi sebelum ia mengemban kenabian, sedang ismah datang setelah ia menjadi nabi;
  2. Bahwa pelanggaran yang dilakukannya itu disebabkan karena lupa (nisycIn), sedangkan lupa tidak menghapus ismah;
  3. Bahwa kasus pelanggaran Adam itu di­pandang sebagai mutasy5bihat, suatu hal yang tidak mungkin dijelaskan seca­ra terang; hal itu hanya Allah yang me­ Oleh sebab itu perkara ini diserahkan saja sepenuhnya kepada Allah. Ini adalah pandangan ulama sa­laf.

Menurut pandangan Islam Sunni, hanya nabi dan rasul yang memiliki ismah. Ma­nusia biasa, bagaimanapun tinggi ilmu dan kondisi rohaniahnya tidak luput dari kesa­lahan, kekeliruan dan dosa. Oleh sebab itu, setiap ucapan, perbuatan, sikap dan tingkah laku manusia biasa harus diukur dan diuji sesuai dengan norma-norma yang pasti dan mutlak benar, yaitu ajaran Allah yang terdapat dalam al-Quran danisunnah rasul-Nya. Amal yang sesuai dengan ajaran al-Quran dan sunnah rasul boleh diikuti, sedang yang bertentangan dengan kedua­nya harus dijauhi.

Advertisement