Advertisement

Iradat ditinjau secara lugawi adalah kata benda dan kata kerja areda yuridu yang berarti kehendak atau kemauan. Dalam is­tilah Ilmu Kalam (Teologi), khususnya di kalangan aliran Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang meyakini adanya sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah, iradat diya­kini sebagai sifat yang kedelapan dan dua puluh sifat yang wajib bagi Allah. Sifat ini pun termasuk kelompok sifat maknawi (sifat yang abstrak).

Menurut aliran Ahlus-Sunnah wal-Jama­ah, Allah itu wajib mempunyai sifat ke­hendak, dan kehendak-Nya itu mutlak se­mutlak-mutlaknya. Tidak ada suatu ke­kuatan dan kekuasaan yang dapat mem­pengaruhi kehendak-Nya, baik untuk me­laksanakannya ataupun untuk mengurung­kannya. Jika Allah melaksanakan kehen­dak-Nya, tidak ada kekuatan dan kekuasa­an lain yang dapat menghalangi-Nya, seba­liknya jika Allah akan mengurungkan ke­hendak-Nya tidak ada kekuatan dan ke­kuasaan lain yang dapat memaksa atau mempengaruhi Allah agar tidak jadi meng­urungkan kehendak-Nya.

Advertisement

Mengenai adanya kehendak Allah yang mutlak, semua aliran teologi pada prinsip­nya sama menerima. Akan tetapi ketika diteruskan pada masalah bagaimana hu­bungan kehendak Allah dengan zat-Nya, di sini baru timbul perbedaan paham. Bagi aliran Ahlus-Sunnah, kehendak (iradat) itu adalah sifat Allah yang lain dari zat­Nya tetapi tidak terpisah dari-Nya. Aliran Mu`tazilah tidak sependapat, menurut me­reka kalau iradat itu dianggap sifat Allah yang terpisah dari zat-Nya hal itu dapat mendatanffican syirik, karena akan banyak yang qadim (kekal, tak bermula). Mereka mengakui bahwa Allah itu Maha Kehen­dak (Iradat), tetapi iradat itu bukan sifat Allah yang terpisah dari zat-Nya, melain­kan zat Allah itu sendiri.

Ketika masalah iradat (kehendak) ini dihubungkan dengan perbuatan manusia hal itu lebih banyak lagi mendatangkan perbedaan pendapat. Sebagai diketahui, untuk terwujudnya suatu perbuatan harus ada kehendak dan daya (istitrat) untuk melaksanakan kehendak itu. Yang jadi masalah adalah, kehendak dan daya siapa­kah yang digunakan manusia ketika me­wujudkan perbuatannya. Apakah kehen­dak dan daya manusia sendiri, atau kehen­dak dan daya Tuhan, atau salah satunya dari manusia yang lain dari Tuhan.

Menurut aliran Mu`tazilah, untuk me­wujudkan perbuatan manusia, kehendak dan daya yang dipergunakan adalah dari manusia, karena itu perbuatan tersebut betul-betul merupakan perbuatan manu­sia. Demikian juga pendapat aliran Matu­ridiyah versi Samarkand.

Aliran Asy`ariyah lain lagi, menurut mereka, kehendak yang dipergunakan un­tuk mewujudkan perbuatan manusia ada­lah kehendak Tuhan; adapun dayanya ter­diri dari daya Tuhan dan daya manusia, meskipun yang efektif hanya daya Tuhan. Karena itu perbuatan yang terwujud ada­lah perbuatan Tuhan yang sebenarnya, perbuatan manusia hanya dalam kiasan sa­ja. Perbuatan manusia disebut kasdb.

Aliran Maturidiyah Bukhara tampaknya sependapat dengan aliran Asy`ariyah. Me­reka pun berpendapat, kehendak yang di­pergunakan manusia untuk mewujudkan perbuatannya adalah kehendak Tuhan. Perbuatan manusia diciptakan Tuhan, dan manusia melakukan perbuatan yang dicip­takan Tuhan itu. Perbuatan manusia me­reka sebut fill; dan adalah perbuatan Tu­han, sebenarnya dan perbuatan manusia hanya dalam arti kiasan.

B.erlawanan secara diametral dengan pendapat yang pertama (Mulazilah dan Maturidiyah Samarkand) adalah pendapat aliran Jabariyah. Bagi mereka, kehendak dan daya yang dipergunakan untuk mewu­judkan perbuatan manusia adalah kehen­dak dan daya Tuhan. Karena itu, kata me­reka, perbuatan yang terwujud pun adalah semuanya perbuatan Tuhan, manusia ti­dak mempunyai andil apa-apa. Manusia tidak mempunyai kehendak dan daya di hadapan Tuhan, ibarat wayang yang dige­rakkan oleh dalang. Ia akan bergerak sela­ma digerakkan oleh dalang, ketika tidak digerakkan tidak dapat berbuat apa-apa.

Advertisement