Advertisement

Institut Agama Islam Negeri. Sebagaimana diketahui dalam sejarah pen­didikan Islam di Indonesia, pesantren me­rupakan lembaga utama pendidikan Islam tradisional. Pada awal abad ke-20, sistem pendidikan Islam tradisional mulai menge­nal lembaga pendidikan yang lebih mo­dern, madrasah. Namun demikian, sampai sekitar dasawarsa tigapuluhan sistem pen­didikan Islam belum mempunyai lembaga pendidikan tinggi. Perjuangan Dr. Satiman Wiryosanjoyo yang berusaha mendirikan pesantren tinggi, sebagai lembaga pendi­dikan tinggi agama, misalnya, mendapat rintangan keras dari pihak Belanda. Baru pada 1940, Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) di Padang berhasil mendirikan Se­kolah Islam Tinggi (SIT). Karena pendu­dukan Jepang, sekolah tersebut hanya ber­langsung sampai dengan 1942. .

Pada masa pendudukan Jepang, per­juangan untuk mendirikan lembaga pendi­dikan tinggi Islam terus dilakukan. Kemu­dian, untuk tujuan tersebut, beberapa to­koh Islam segera mendirikan suatu Ya­yasan yang diketuai Muhammad Hatta dan Muhammad Natsir sebagai sekretaris. Akhirnya, pada 8 Juli 1945 (27 Rajab 1364 H) Yayasan tersebut berhasil men­dirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Ja­karta dengan Abdul Kahar Mudzakkir se­bagai pimpinannya. Di antara tokoh-to­koh lain yang terlibat dalam perjuangan mendirikan lembaga pendidikan tinggi ter­sebut adalah K.H. Mas Mansur, K.H. Fathurrahman- Kafrawi, dan K.H. Farid Ma`ruf.

Advertisement

Setelah pusat pemerintahan RI pindah ke Yogyakarta pada 1946, STI pun turut dipindahkan ke sana. Kemudian, pada 22 Maret 1948 STI menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang memiliki 4 Fakultas: Fakultas Agama, Fakultas Hukum, Fakul­tas Ekonomi, dan Fakultas Pendidikan. Selanjutnya, Fakultas Agama UR dikem­bangkan secara terpisah menjadi Perguru­an Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) berdasarkan peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1950. Tujuan lembaga pendidikan tinggi ini adalah untuk memberikan peng­ajaran agama tingkat tinggi dan menjadi pusat pendalaman dan pengembangan pe­ngetahuan keislaman. Dengan demikian, sebagaimana akan terlihat dalam perkem­bangan selanjutnya, PTAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi agama yang ke­lak menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri).

Kemudian, pada 1 Juni 1957 di Jakar­ta didirikan pula ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) berdasarkan ketetapan Men­teri Agama No. 1 tahun 1957. Tujuan akademi ini adalah untuk mendidik dan mempersiapkan pegawai pemerintah yang berkemampuan tingkat akademis ataupun ahli didik agama pada Sekalah Menengah Umum, Sekolah Kejuruan, dan Sekolah Agama itu sendiri. Pada mulanya ADIA hanya memiliki dua jurusan: Pendidikan Agama dan Bahasa Arab. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, ADIA mem­buka jurusan khusus: Pendidikan Imam Ketentaraan. Sebagai akademi dinas, su­dah barang-tentu, para mahasiswa yang belajar di lembaga ini adalah mereka yang meinperoleh tugas-belajar. Mereka terdiri dari pegawai atau guru agama di lingkung­an Departemen Agama yang diambil dari perwakilan daerah di seluruh Indonesia.

Selama dasawarsa pertama, PTAIN mengalami pertumbuhan dan perkem­bangan yang relatif pesat. Namun, untuk lebih meningkatkan mekanisme operasi­onal sistem pendidikan tinggi agama yang lebih terpadu secara kelembagaan, muncul gagasan untuk menyatukan kedua lemba­ga pendidikan tinggi agama tersebut (an­tara PTAIN dengan ADIA) dalam bentuk Universitas ataupun Institut. Akhirnya, gagasan dan usaha untuk memadukan ke­ dua lembaga tersebut berhasil dalam ben­tuk institut. Berdasarkan peraturan Presi­den No. 011 tahun 1960, pada 24 Agustus 1960 diresmikanlah oleh Menteri Agama dalam suatu upacara di gedung Kepatihan Yogyakarta berdirinya Institut Agama Is­lam Negeri (IAIN) dengan 4 Fakultas, Fa­kultas Tarbiyah dan Fakultas Adab di Ja­karta serta Fakultas Ushuluddin dan Fa­kultas Syariah di Yogyakarta.

Adapun tujuan pendidikan dan penga­jaran yang hendak dicapai LAIN adalah se-lain membentuk sarjana muslim yang ber­akhlak mulia, berilmu, cakap, dan mem­punyai kesadaran :bertanggung-jawab ter­hadap kesejahteraan umat serta masa de-pan bangsa dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, juga mence­tak sarjana muslim dan pejabat agama Is­lam yang ahli untuk kepentingan Departe­men Agama maupun insani lain yang me­merlukan ke ahlianny a dalam bid ang keis­laman serta untuk memenuhi keperluan umum lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya didi­rikan pula fakultas-fakultas di beberapa ibukota daerah seperti Banda Aceh, Pa­dang, Palembang, Surabaya, Semarang, Banjarmasin dan Ujung Pandang. Dengan adanya Peraturan Presiden No. 27 tahun 1963, fakultas-fakultas yang ada di dae­rah-daerah ini kemudian ditingkatkan menjadi institut yang berdiri sendiri dan terdapatlah 14 IAIN di seluruh Indonesia, 7 di Sumatra, 5 di Jawa, 1 di Kalimantan dan 1 di Sulawesi.

Pada 1982 di IAIN—Jakarta dibuka Fa­kultas Pasca Sarjana dengan program S2 dan S3. Pada tahun berikutnya fakultas serupa dibuka pula di IAIN—Yogyakarta. Dengan dibukanya kedua fakultas ini IAIN—Jakarta dan IAIN—Yogyakarta de­wasa ini telah menghasilkan sarjana-sarja­na S2 dan S3 di samping sarjana-sarjana Sl.

Advertisement