Advertisement

Insan Kamil berarti manusia sempurna. Istilah ini muncul pada mulanya di ka­langan orang-orang tasawuf dan kemudian beredar secara luas pada segenap lapisan masyarakat Islam. Ia dipahami pada umumnya sebagai sebutan untuk manusia tertentu, yakni untuk mereka yang memi­liki keutamaan jiwa yang sempurna. Para nabi atau rasul disepakati memiliki keuta­maan jiwa paling. sempurna, dan karena itu dipandang paling layak disebut Insan Kamil. Oleh kaum Syi`ah Imamiyah, para imam mereka dimasukkan ke dalam kate­gori Insan Kamil; demikian juga oleh orang-orang tasawuf, para wali atau sufi dimasukkan ke dalam kategori tersebut.

Hanya para nabi atau rasul saja yang memiliki keutamaan jiwa yang paling sem­purna, tanpa melalui latihan atau pembi­naan yang keras. Mereka lahir dengan po­tensi istimewa, sehingga mereka secara alamiah saja dapat tumbuh menjadi Insan Kamil. Jiwa mereka penuh dengan sifat­sifat terpuji atau akhlak ketuhanan, dan bersih dari sifat-sifat•tercela. Manusia bu­kan nabi atau rasul tidak demikian; me­reka, menurut orang-orang tasawuf, harus­lah berjuang keras mengikuti latihan-latih­an dalam rangka mengosongkan jiwa me­reka dari sifat-sifat tercela dan berhias de­ngan sifat atau akhlak terpuji. Mereka yang berjuang keras untuk mencapai dera­jat atau maqam makrifat (mengenal Tu­han secara langsung melalui mata hati nu-rani) pada hakikatnya berjuang untuk mencapai derajat Insan Kamil, kendati mereka tetap berada di bawah derajat pa­ra nabi atau rasul Tuhan.

Advertisement

Sebutan Insan Kamil agaknya dimun­culkan pertama kali oleh Ibnu Arabi (w. 1240/638 H), pendiri paham wandat al­wujiid (kesatuan wujud). Ia mengikuti pa-ham al-Hallaj, yang menyatakan .bahwa makhluk pertama yang diciptakan Tuhan adalah Nur Muhammad atau Ruh Mu­hammad; Nur atau Ruh Muhammad ini­lah yang selanjutnya disebut juga oleh Ibnu Arabi dengan sejumlah nama, seperti Hakikat Muhammadiyali, Akal Pertama, Hakikat Insaniyah dan Insan Kamil. De­ngan demikian Ibnu Arabi telah mengacu­kan sebutan Insan Kamil bukan raja kepa­da manusia tertentu dari turunan Adam, tapi juga kepada Nur Muhammad yang ka­dim dan bersifat imateri, ciptaan pertama dari Tuhan. Insan Kamil dengan pengerti­an yang mengacu kepada ciptaan pertama itu, diuraikan lebih luas oleh Abdul Karim al-Jilil dalam bukunya, al-Insan al-Kamil fi Merifat al-Awakhir wa al-Awail, dan para pengikut paham kesatuan wujud lainnya.

Insan Kamil yang mengacu kepada makhluk pertama, merupakan hakikat yang menghimpun segala hakikat dari ke­anekaragaman yang terdapat dalam alam empiris. Ia juga merupakan wadah tajalli, pancaran, atau manifestasi segenap nama dan sifat yang memancar dan Wujud Mut­lak (Tuhan). Sebagai makhluk pertama, In­san Kamil merupakan Akal Pertama atau Wujud Ilmi, yang memancar dari Wujud Mutlak. Ia merupakan sumber segala ilmu. Ia sumber ilmu bagi para nabi atau rasul, para sufi, atau para wali. Penyebutan para nabi atau rasul, para sub., atau para wali dengan sebutan Insan Kamil, tidak lain adalah karena merekalah orang-orang yang merasakan sungguh-sungguh kehadiran In­san Kamil (makhluk pertama itu) dalam ji­wa mereka, dan menerima limpahan ilmu darinya. Mereka tidak mungkin menerima kehadiran atau pancaran Insan Kamil itu, bila hati atau jiwa mereka tidak suci.

Manusia-manusia turunan Adam, yang termasuk kategori Insan Kamil, merupa­kan wadah yang paling sempurna dalam dunia empiris, untuk menerima tajalli (pe­nampakan secara tidak langsung segenap sifat dan .nama Tuhan). Dengan kata lain merekalah yang mampu dengan sempurna mencerminkan atau membayangkan ke­beradaan Tuhan dengan segala nama dan sifat-Nya. Manusia lain yang bukan Insan Kamil, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda empiris lainnya, kendati juga berfungsi sebagai wadah tajalli Tuhan, ti­daklah dapat dengan sempurna mencer­minkan atau membayangkan keberadaan Tuhan dengan segala nama dan sifat-Nya.

Advertisement