Advertisement

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji`un Secara formal kata-kata ini tercantum da­lam surat al-Baqarah, ayat 156, yang arti­nya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”, pernyataan yang mencerminkan kondisi iman dan suasana batin yang tinggi dan stabil dari seorang muslim. Kata-kata ter­sebut dinamakan kalimat istirja’ (kembali kepada Allah), disunahkan mengucapkan­nya pada waktu ditimpa musibah. baik musibah besar maupun musibah kecil. Se­cara batiniah, sebenarnya amat sulit bagi seseorang untuk melahirkan pernyataan demikian, apabila tidak didorong oleh rasa iman yang tinggi.

Umumnya orang Islam mengucapkan kalimat ini, bila mendengar berita kemati­an dan kemalangan atau musibah yang menimpa. Sesungguhnya, ucapan istirja’ mengandung makna yang luas dan dalam, menyangkut sikap lahir dan batin setiap muslim, yaitu satu sikap hidup yang jika dimiliki menyebabkan pemiliknya patut memperoleh keberkahan hidup rahmat dan hidayah Allah. Kata al-Quran: “Mere­ka itulah yang (patut) mendapatkan ke­berkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang­orang yang mendapatkan petunjuk-petun­juk-Nya.” (Q. 2:157).

Advertisement

Pada dasarnya, kalimat istirja` diajarkan Islam supaya diucapkan, ketika mengha­dapi ujian dan cobaan dari Tuhan, dengan sikap sabar. Dalam praktek hidup, orang­orang yang telah banyak merighadapi uji­an dan cobaan, baik kecil maupun besar, lalu dihadapi dengan sikap sabar dalam ar­ti yang sesungguhnya, umumnya memper­oleh hidup sukses. Ujian dan cobaan pada hakikatnya adalah pengalaman-pengalam­an yang sangat berharga. Pengalaman­ pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang mau berguru pada pengalam­an-pengalaman masa lalunya pantas mem­peroleh hidup sukses.

Advertisement