Advertisement

Inkar Sunnah yang berarti menging­kari SunnahNabi Muhammad dimaksudkan untuk menunjuk paham yang timbul da­lam masyarakat Islam yang menolak Hadis dan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam kedua sesudah al-Quran. Terdapat beberapa bentuk Paham pengingkaran terhadap sunnah ini.

Bentuk yang paling ekstrim adalah pa-ham yang menolak seluruh Sunnah Nabi sebagai sumber tasyri Islam. Paham ini hanya berpegang kepada semata­mata, sementara hadis tidak diakui sama sekali. Pandangan ini dibawa oleh Gulam Ahmad Parwez, Ahmad Din dan Syirakh Ali yang ketiganya berasal dari anak be­nua India. Di antara alasan yang diajukan sebagai argumen kelompok ini dalam me­nolak hadis nabi sebagai sumber ajaran Is­lam adalah ayat-ayat al-Quran sendiri serta pemikiran rasional. Dengan mengedepan­kan surat al-An’am ayat 38 serta surat al­Hijr ayat 9, yang masing-masing mengan­dung arti “Tiadalah Kami alpakan sesuatu­pun di dalam al-Kitab” dan “Sesungguh­nya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar me­meliharanya”, mereka berkesimpulan bah­wa sumber ajaran Islam hanyalah al-Quran saja, tanpaSunnah Nabi.

Advertisement

Ayat 38 surat al-An’am mereka pahami dengan mengatakan bahwa jika dikatakan al-Quran masih memerlukan penjelasan dari al-Sunnah, maka itu berarti telah membohongkan ayat tersebut. Bukankah ayat tersebut mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang dialpakan dalam al-Qur­an, ia sudah komplit, tidak memerlukan tambahan penjelasan lagi walaupun dari Sunnah. Selanjutnya ayat 9 surat al-Hijr mereka tafsirkan bahwa yang dijamin ke­murniannya adalah al-Quran, bukan as­Sunnah. Seandainya Sunnah itu juga me­rupakan dalil dan hujjah seperti al-Quran, niscaya Allah akan menjamin kemurnian­nya pula.

Alasan lain yang dikedepankan oleh kelompok ini juga bahwa dalam beragama orang harus memegang hal-hal yang sudah pasti sebagai yang ditunjukkan al-Quran. Oleh sebab itu bila seseorang masih me­merlukan Sunnah, berarti ia sebenarnya telah menunjukkan indikasi akan ketidak­pastian al-Quran.

Sebenarnya kelompok yang menolak seluruh Sunnah inilah yang layak disebut sebagai ingkar sunnah. Mereka hanya ber­ pegang pada al-Quran semata-mata. Sun­nah bagi mereka tidak menjadi sumber ajaran Islam.

Bila kelompok di atas, yakni kelompok Ahmad Parwez dan kawan-kawan menu­lak Sunnah secara keseluruhan, maka ada pula yang menolak sunnah secara sebaha­gian-sebahagian. Aliran Khawarij umpa­manya,,bisa disebut sebagai ingkar sunnah dalam pengertian ini. Sebagai diketahui, Khawarij timbul dari peristiwa tahkim da­lam penyelesaian sengketa antara Ali bin Abi Talib dan Mu`awiyah bin Abi Sufyan. Menurut mereka orang-orang yang meneri­ma tahkim, yang nota bene adalah para sa­habat-sahabat Nabi sendiri, telah menjadi kafir. Dengan demikian menurut mereka para sahabat tersebut telah kehilangan ke­adilan mereka. Itulah sebabnya orang­orang Khawarij menolak seluriih hadis yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat yang terlibat dalam peristiwa tahkim ter­sebut.

Kaum Syi`ah pun termasuk dalam kate­gori pengingkar sunnah yang seperti ini. Syrah memandang para sahabat Nabi, di luar All bin Abi Talib serta para pendu­kungnya, sebagai orang-orang yang telah berbuat lalim karena merampas hak Ali bin Abi Talib sebagai Khalifah. Oleh sebab itu mereka memandang para sahabat terse-but, seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan bahkan Aisyah Ummul Mukminin, .orang­orang yang tidak bisa dipercaya. Dan ini berarti sunah yang diriwayatkan oleh para sahabat yang mereka anggap telah meram­pas hak Ali bin Abi Talib itu mereka tolak pula.

Disebutkan pula bahwa kaum Mu`tazi­lah juga dikenal sebagai ingkar sunnah da­lam bentuk menolak hadis-hadis yang ter­masuk ke dalam kabar ahad. Mereka ha­nya menerima hadis mutawatir serta ha­dis-hadis yang tidak bertentangan dengan pendapat akal.

Di kalangan Sunnipun sebenarnya ter­dapat pula sikap ingkar sunnah ini. Tentu saja sikap ini tidak tertuju kepada hadis­hadis yang dianggap sahih, tetapi terhadap hadis-hadis yang digolongkan kepada ha­dis-hadis daif (lemah). Termasuk ke dalam kategori ini hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para imam Syi`ah yang dipandang maksum itu.

Namun di atas semua itu setiap muslim sebenarnya haruslah menerima Sunnah se­bagai sumber ajaran Islam yang kedua se­sudah al-Quran. Tanpa penjelasan dari Sunnah Nabi, banyak sekali ajaran-ajaran al-Quran yang tidak dapat dikerjakan ataupun dipahami dengan sempurna.

Advertisement