Advertisement

Injil (Injil) adalah kitab suci umat Kristen (Nasrani). Kata injil itu pada mulanya ber­awal dari kata Yunani euangelion, yang berarti berita gembira. Setelah masuk ke dalam bahasia Etiopia, kata Yunani itu berubah bentuk menjadi wangel; selanjut­nya masuk ke dalam bahasa Arab menjadi injil jamaknya anajil. Kata injil kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia tanpa perubahan. Tentang Injil, sebagai kitab su­ci umat Kristen, terdapat perbedaan pan­dangan antara umat Kristen dengan umat Islam.

Menurut umat Kristen, Injil, sebagai ki­tab suci, bukannya firman atau wahyu Tu­han yang diterima oleh Nabi Isa al-Masih (Yesus Kristus), yang kemudian ia sampai­ kan kepada, dan dibukukan para peng­ikutnya; akan tetapi Injil adalah kisah atau laporan yang disusun oleh para peng­ikut Isa al-Masih, tentang kehidupan Isa al-Masih, termasuk.tentang perbuatan dan petigajarannya selama bertugas mengajak bani Israil atau umat Yahudi, agar mereka beragama secara benar. Para penulis itu di­pandang mendapat bimbingan dan Roh Kudus, salah satu dan tiga oknum (priba­di) Tuhan Yang Maha Esa. Pada abad-abad pertama Masehi beredarlah belasan ma-cam Injil dengan versi masing-masing, dan sejak abad ke-4 Masehi bapak-bapak Gere­ja menetapkan hanya empat versi saja yang sah (kanonik), yaitu: Injil karangan Matius, Injil karangan Markus, Injil ka­rangan Lukas, dan Injil karangan

Advertisement

Karena cukup sulit untuk menunjukkan kriteria yang konsisten bagi penetapan itu, maka para teolog Kristen pada umumnya mengatakan bahwa Roh Kudus telah membimbing bapak-bapak Gereja pada suatu konsili di abad ke-4 untuk membuat ketetapan seperti itu. Dengan demikian, Injil-injil yang lain, seperti: Injil Jemaat Yerusalem, Injil Barnabas, Injil Thomas, dan lain-lain dipandang tidak sah. Keem­pat Injil yang dipandang sah itu, karena disusun oleh penulis-penulis yang dipan­dang mendapat bimbingan atau kontrol dari Roh Kudus, dinyatakan sebagai kitab suci yang dikarang oleh manusia dan seka­ligus dikarang oleh Tuhan. Keempat Injil tersebut dipandang sebagai firman-firman Tuhan yang tertulis.

Berbeda dengan pandangan umat Kris­ten, pandangan umat Islam dibangun atas dasar keterangan-keterangan kitab suci al­Quran tentang Injil. Al-Quran antara lain menyebutkan :

“Allah — tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri — telah menurunkan al-kitab (al-Quran) kepada­mu dengan sebenarnya; membenarkan ki­tab yang telah diturunkan sebelumnya, dan Ia telah menurunkan Taurat dan Injil, sebagai petunjuk bagi manusia . . .” (3:2­4).

“Dan kami utus Isa ibnu Maryam meng­ikuti jejak mereka (para nabi bani Israil), demi membenarkan kitab yang sebelumnya, yakni: Taurat. Dan kami telah mem­berikan kepadanya kitab Injil, yang me­ngandung petunjuk dan cahaya, dan mem­benarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta penga­jaran bagi orang-orang bertakwa (5:46).”

Berdasarkan keterangan al-Quran itu dan dengan menganalogikan Injil dengan al-Quran, maka umat Islam memandang bahwa Injil yang seharusnya menjadi pe­gangan umat Kristen haruslah satu versi, seperti al-Quran; ia haruslah merupakan himpunan murni firman-firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Isa al-Ma­sih dan kemudian ia sampaikan kepada pa­ra pengikutnya. Injil itu seharusnya berba­hasa Aramea, karena Nabi Isa al-Masih dan kaumnya berbahasa Aramea.

Penelitian secara historis tidak mampu menjelaskan apakah Isa al-Masih pernah menyuruh para pengikutnya untuk meng­hafal atau mencatat teks wahyu yang di­terimanya dan kemudian disampaikannya kepada mereka; juga tidak mampu men­jelaskan apakah mereka berupaya meng­hafal serta mencatat teks wahyu itu, dan kemudian membukukannya menjadi se­buah kitab suci. Jika mereka berhasil membukukan teks wahyu yang disampai­kan oleh Isa al-Masih, maka itu berarti bahwa kitab Injil murni berbahasa Aramea itu telah hilang, dan dapat diduga bahwa kitab itu lenyap pada abad-abad pertama Masehi, tatkala terjadi pertentangan sengit di kalangan umat Kristen tentang apakah Isa al-Masih itu oknum Tuhan atau hanya manusia, dan tentang apakah Roh Kudus itu juga oknum Tuhan atau bukan.

Al-Quran membenarkan Injil, bukanlah dengan pengertian bahwa Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yahya itu benarwahyu Tuhan yang diberikan ke­pada Isa al-Masih. Al-Quran membenarkan Injil, hanya dengan pengertian bahwa be­nar Allah telah mewahyukan atau menu­runkan kitab Injil kepada Nabi Isa al-Ma­sih ibnu Maryam. Sayang Injil yang di­maksudkan oleh al-Quran itu tidak pernah dijumpai di antara ribuan manuskrip tua warisan keagamaan umat Kristen.

Kendati umat Kristen yang dikenal oleh umat Islam (sejak dan masa hidup Nabi

Muhammad sampai sekarang) tidak berpe­gang kepada kitab suci Injil yang diwahyu­kan Tuhan kepada Nabi Isa al-Masih, tapi kepada empat versi Injil, yang masing-ma­sing disusun oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yahya, mereka tetaplah disebut Ahlul Kitab. Itu berarti suatu pengakuan dari al­Quran bahwa mereka adalah umat yang pernah diberi kitab yang diwahyukan me­lalui rasul Tuhan. Pengakuan itu tidaklah mengandung jaminan bahwa kitab yang diwahyukan itu masih ada atau masih ter­pelihara dengan baik.

Advertisement