Advertisement

Infak berarti mengeluarkan sebagian har­ta untuk kepentingan kemanusiaan, sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal di dunia kenyataan problema-problema hidup se­perti kemiskinan dan keterlantaran, ada­lah suatu kenyataan yang tidak dimung­kiri adanya dan perlu diusahakan untuk menghindarinya. Islam adalah agama yang secara serius berusaha menanggulanginya. Usaha-usaha untuk itu antara lain ialah adanya kemestian bagi orang yang kebe­tulan beruntung punya kelebihan harta untuk membantu yang berkekurangan dan untuk membiayai kepentingan-kepenting­an sosial lainnya. Demikian pula dengan hubungan tanggung-jawab keluarga, suami dan ayah berkewajiban menafkahi istri dan anaknya. Sebaliknya seorang anak di­satu waktu berkewajiban pula untuk me­nafkahi ayah dan ibuny a.

Pemakaian istilah infak atau yang se­akar dengannya di dalam al-Quran me­ngandung pengertian yang bervariasi. Ada yang menunjukkan kepada sedekah wajib yaitu zakat, seperti yang ditemui dalam surat al-Baqarah ayat 267 yang mengata­kan: “Hai orang-orang yang beriman, naf­kahkanlah (dalam ayat ini dipakai kata anfiqii sebagai kata perintah dari kata in­faq) yang baik-baik dari apa-apa yang ka­mu usahakan dan apa-apa yang Kami ke­luarkan dari bumi”. Ayat ini menurut ma­yoritas ahli tafsir menunjuk kepada kewa­jiban zakat dengan kata infak. Kemudian kata infak atau yang seakar dengannya yang terdapat dalam surat at-Talaq ayat 6 dan 7 adalah menunjuk nafkah wajib atas seorang suami bagi anak istrinya, dan kata infak atau yang seakar dengannya yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 92 di­pahami sebagai anjuran mendermakan harta. Dan sebaliknya dimaklumi pula bahwa kewajiban atau anjuran mengeluar­kan sebagian harta untuk kepentingan-ke­pen tingan yang tersebut di atas, bukan sa­ja ditunjukkan oleh kata infak atau yang seakar dengannya, tetapi juga oleh kata lain yang dipakai di dalam al-Quran.

Advertisement

Dengan bervariasinya tingkat pengerti­an infak dalam al-Quran dapat dipahami bahwa istilah tersebut mengandung pe­ngertian yang umum, mencakup setiap aktivitas pengeluaran dana, baik berupa kewajiban seperti zakat, maupun kewa­jiban menafkahi keluarga rumah tangga serta ayah dan ibu di saat is membutuh­kan, dan infak dalam pengertiannya yang terbatas tetapi populer, yaitu kederma­wanan dad seseorang untuk menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan so­sial.

Dalam al-Quran banyak ayat-ayat yang mendorong umat manusia untuk rela me­ngeluarkan sebagian hartanya untuk ke­pentingan kemanusiaan. Antara lain dapat dilihat dalam ayat nomor 261 surat al-Ba­qarah yang mengisahkan bagaimana balas­an seseorang yang menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah. Hal itu diibarat­kan sebagai sebuah biji yang menumbuh­kan tujuh tangkai, tiap tangkai menghasil­kan buah seratus biji. Demikian Allah menggambarkan berlipat gandanya pahala orang-orang dermawan yang mengeluar­kan sebagian hartanya, walaupun bukan merupakan kewajiban khusus seperti ke­wajiban zakat. Bahkan di atas dari itu Allah menegaskan dalam ayat 92 surat Ali Imran, bahwa: “sekali-kali tidak akan ka­mu peroleh kebaikan, sampai kamu rela menafkahkan sesuatu yang kamu cintai.”

Infak lebih terasa peranannya terutama pada masyarakat yang tingkat kemiskin­annya lebih tinggi, dan dengan sendirinya pula kepentingan-kepentingan sosial lain­nya akan sulit terpenuhi tanpa ada uluran tangan dari yang punya harta. Seperti di­maklumi zakat adalah suatu kewajiban yang secara mutlakharus dilaksanakan dan sudah dirinci nisab dan orang yang berhak menerimanya. Dalam masyarakat yang tingkat kemiskinannya tinggi dan kebu­tuhan sosialnya banyak, zakat saja tidak cukup untuk menanggulangi kesenjangan dan kebutuhan tersebut. Di saat itu, da­lam harta orang kaya masih terdapat hak sosial untuk dikeluarkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Daraqutni dari Fatimah binti Qis dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda, bahwa pada harta seseorang masih ada hak yang hams dike­luarkan selain zakat. Potongan ayat 177 surat al-Baqarah yang bermaksud: (. . . dan dia mendermakan harta yang dikasihi­nya kepada karib kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin . . .) dipahami oleh Muhammad Abduh sebagai kewajib­an mengeluarkan harta selain kewajiban zakat. Jika zakat merupakan salah satu rukun Islam, maim mengeluarkan harta selain zakat adalah salah satu tiang sendi dui kebaikan. Kewajiban membantu orang yang sedang dalam kesempitan dan kebutuhan sosial lainnya, tidak terkait dengan nisab dan dengan waktu. Bentuk pendermaan harta yang serupa itu populer disebut infak.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan infak di jalan Allah, adalah menjauhi ria atau pamer kekayaan dan menjauhi penekanan terhadap yang mene­rima infak. Dalam al-Quran hal itu jelas di­larang oleh Allah. Dalam surat al-Baciarah ayat 264 Allah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah ka­mu batalkan sedekahmu dengan mencer­ca dan menyakiti, seperti orang yang me­nafkahkan hartanya karena ria kepada manusia, dan tiada ia beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka umpama (sedekah itu) seperti batu licin di atasnya ada tanah, lalu batu itu ditimpa hujan le-bat, maka tinggallah ia kembali Hein. Me­reka tidak mendapat pahala sedikitpun dari apa yang mereka usahakan (infak­kan)….”

Demikian petunjuk Allah dalam melak­sanakan infak. Dalam ayat tersebut jelas ditekankan larangan menyakiti orang yang kepadanya dfinfakkan harta. Termasuk dalam arti menyakiti ialah menekan si penerima infak, dengan alasan ia telah berhutang budi. Perkataan yang baik dan suka memaafkan kesalahan orang lain, le­bih utama dari derma yang diiringi dengan cercaan seperti dijelaskan dalam ayat 263, surat al-Baciarah.

Advertisement